WHAT'S NEW?
Loading...

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA

JAMALUDIN RIFAI

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA


jangan membaca sendirian di tengah malam ya!

KATA PENGANTAR

Pembaca yang budiman cerita ini berawal dari rasa ketakutan dan cerita-cerita menyeramkan dari beberapa teman kuliah, teman-teman sekolah, tetangga yang berasa dekat rumah. Dan termasuk juga berdasarkan pengalaman pribadi, akhirnya kumpulan cerita tentang MEREKA ADA DI SEKITAR KITA bagian pertama yang kini hadir di hadapan pembaca dan para penggemar cerita misteri.
Pembaca yang budiman tak dapat dipungkiri tentang keberadaan makhluk astral yang memang ada di sekitar kita, penunggu setia tempat hunian kita yang kadang kerap mengganggu dan menampakkan diri. Hal ini juga terjadi di beberapa tempat seperti sekolah, rumah sakit dll.  Dan saya yakin dan percaya kita mempercayai adanya mahkluk-mahkluk gaib berarti mempercayai kekuasaan Allah, karena Allah itu bukannya hanya menciptakan manusia saja, tapi Allah juga menciptakan mahkluk-mahkluk lainnya, seperti malaikat,Iblis,Jin,dll.
Hal ini serupa ternyata juga di alami oleh orang-orang tertentu yang utamanya teman-teman facebook yang membagi kisah mereka di timeline-nya. Dan kadang berkesan lebih menyeramkan dari cerita yang saya punya. Tentunya solusi juga muncul untuk mengatasi masalah-masalah ganjil yang kerap timbul di tempat-tempat tertentu. Buku ini hadir bukan untuk menakut-nakuti pembaca yang budiman, melainkan untuk berbagi cerita dan solusi, bilaman kita mengalami masalah yang sama.
Semoga dengan membaca buku ini, anda akan menjadi seseorang yang menjadi pemberani dan terbebas dari segala halusinasi.

Gorontalo, 25 JUNI  2016

Penulis:

Jamaludin Rifai.



THANKS TO:
               SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA:
1.      ALLAH SWT ATAS SEGALA ANUGRAH DAN KESEMPATAN YANG SUDAH DIBERIKAN
2.      KEDUA ORANG TUA ATAS CINTA DAN KASIH SAYANG YANG TAK PERNAH PUTUS ASA.
3.      KELUARGA BESAR TERUTAMA BUAT KEDUA KAKAKKU, MBAK SUWARNI RIVAI, MBAK MASNI RIVAI YANG TELAH MEMBERIKU MOTIVASI DAN DUKUNGAN TERHADAP SAYA.
4.      TEMAN-TEMAN SEKOLAHKU DARI SD SAMPAI PERGURUAN TINGGI, KHUSUSNYA PARA SAHABAT-SAHABATKU ALUMNI FAKULTAS TARBIYAH PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS : MR SATARUDIN A.TUDU S.Pd.I, BERSAMA MR RISKY PAPUTUNGAN, S.Pd.I,  YANG SELALU MEMBERIKU MOTIVASI SERTA NASIHAT-NASIHAT YANG MEMBANGUN JUGA,
5.      BUAT GUR-GURUKU SERTA DOSEN-DOSENKU YANG SELALU MEMBERIKAN ILMU DAN MOTIVASI KEPADA SAYA.
6.      ORANG-ORANG YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTU MEMBACA KARYA-KARYAKU. TERIMA KASIH BANYAK.









BUKU INI SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK:
               PAPA DAN MAMA TERCINTA YANG HINGGA KINI TERUS BERJUANG MEMBERIKAN JIWA DAN RAGA UNTUK ANAK-ANAKNYA, PERJUANGAN YANG TERPANCAR MELALUI KALIAN ADALAH ALASAN BAGIKU UNTUK MELAKUKAN YANG TERBAIK.
               SETIAP PERISTIWA ADALAH SAKSI YANG TELAH MEMBISIKKAN DAN MEMBUKA HATIKU AKAN ARTI KETULUSANMU.
               KINI………..!!!!!
               KARENA KERINGAT DAN AIR MATA YANG TERCURAH TIDAK AKAN BERLALU BEGITU SAJA. INI ANAKMU.
               KEPADA SAHABAT-SAHABATKU MR SATARUDIN A. TUDU, S.Pd.I DAN MR RISKY PAPUTUNGAN, S.Pd.I. KEPADA KAKAKKU MBAK SUWARNI RIVAI, DAN MBAK MASNI RIVAI. KALIAN ADALAH SUMBER KEAJAIBAN BAGIKU
           

HORMAT SAYA

JAMALUDIN RIFAI.









DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR......................................................................................................
THANKS TO.....................................................................................................................  
BUKU PERSEMBAHAN................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
1.            RANTI....................................................................................................................... 1
2.            RANTI 2.................................................................................................................... 8
3.            JERITAN MINTA TOLONG................................................................................ 26
4.            WC KAMAR MANDI ASRAMA KAMPUS PUTRI......................................... 47                 
5.            PENGHUNI  KOS YANG BARU......................................................................... 65
6.            JIN QARIN PENGHUNI KAMAR KOS PUTRA.............................................. 83
7.            KAMAR KOS YANG BARU................................................................................ 94
8.            TEMANI AKU DITOILET KAMPUS................................................................. 109
9.            ANGKUTAN UMUM............................................................................................. 115
10.        PENGHUNI PERPUSTAKAAN KAMPUS........................................................ 120
11.        DUNIA FACEBOOK.............................................................................................. 126
12.        PETUALANGAN DANAU TERLARANG ....................................................... 132
13.        KISAH TUKANG BANGUNAN........................................................................... 139
14.        MASA LALU HENDRI.......................................................................................... 144
15.        MENJELANG WISUDA........................................................................................ 150
16.        KISAH SANG PENJAGA KAMAR MAYAT.................................................... 156
17.        CERITA SANG PEDAGANG BAKSO KELILING.......................................... 173
18.        BILIK NOMOR 4.................................................................................................... 183
19.        JERA......................................................................................................................... 187
20.        BAYANGAN CERMIN.......................................................................................... 193
TENTANG PENULIS...................................................................................................... 201


RANTI


Di antara pohon-pohon rindang yang mekar dan tumbuh sekitar delapan puluh lima tahun disekitar sekolah SMA. Ada sekitar enam orang siswi-siswi yang lagi berkumpul di dalam ruangan kelas, diantaranya Ranti, Riska, Risna, Rara, Rena dan Silpana. Mereka berenam lagi asik-asiknya mengundang roh- roh dengan mediasi dari boneka yang sengaja di buat oleh Ranti. Ranti sambil membacakan mantra-mantra untuk memanggil roh-roh untuk masuk ke boneka yang di bikin sendiri.
”Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta! Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang! Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami! Maka datanglah! Datanglah! Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!” Ucap Ranti sambil membaca mantra-mantra.
Sementara di alam bawah sadar Ranti seperti melihat sosok perempuan yang sementara dikeroyok oleh masyarakat, sosok itulah seorang perempuan tak lain adalah ibunya sendiri. Tiba-tiba pintu kelas tertutup dengan sendirinya. Kemudian teman-teman Ranti sempat kaget karena pintu tertutup dengan sendirinya, Ranti tetap saja membacakan mantra-mantra tersebut.
“Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta! Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput! Pulang Tanpa Di Antar!  Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami! Maka datanglah! Datanglah! Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!” Ucap Ranti kembali.


Riska menyapa Ranti.
“Ran aku bantu ya?” Pinta Riska.
 Ranti menggeleng-geleng kepalanya sebagai tanda isyarat  mengiyakan Riska, kemudian memegang boneka tersebut dan tangan mereka bergetar-getar. Ranti mengatakan ke boneka itu “Berilah tanda silang jika kamu telah hadir! Jika kamu laki-laki tulis tanda “X”! Dan jika kamu perempuan tulis tanda “O”!  kemudian boneka tersebut memberi tanda silang seperti perintah Ranti ke boneka yang telah di masuki oleh roh.
Dan ternyata roh tersebut adalah sosok seorang perempuan yang tak lain adalah Ibunya sendiri, yang telah lama meninggal karena dibunuh oleh warga masyarakat, di tuduh sebagai tukang santet. Ranti bisa menerawang kejadian masa lalu yang di alami oleh mendiang ibunya itu.
“Kita bunuh dia! Bunuh dia!” Ujar Warga Masyarakat.
Masyarakat sebagian ada yang menendang, ada yang memukul sambil membawa obor penerang. Dan akhirnya Ibu Ranti tersebut meninggal dengan tidak wajar akibat di bunuh oleh masyarakat. Tiba-tiba ada yang melempar dengan batu ke tangan Ranti bersama teman-temannya Ranti dari depan pintu kelas. Sosok seorang perempuan itu tak lain adalah Ibu Neta, yang begitu jahat terhadap Ranti, sambil membawa mistar penggaris. Ibu Neta sangat marah besar dan matanya melotot melihat tingkah laku Ranti dan kawan-kawannya. Dan Ibu Neta berteriak
“Ranti! Ranti!” Panggil Ibu Neta sambil berteriak.
Teman-teman Ranti langsung bubar dan bergegas untuk duduk ke tempat mereka masing-masing. Ibu Neta langsung menghampiri Ranti dan seketika itu langsung saja menampar Ranti sebanyak 3 x pipi kiri dan pipi kanannya.
“Dasar tukang santet! Kelakuanmu sama mendiang Ibumu sama saja!”  Ibu Neta sambil menghardik Ranti.
“Mana tanganmu! Mana tanganmu! Angkat kedua tanganmu!“ Pinta Ibu Neta kepada Ranti dengan teriakan yang begitu keras.
Ibu Neta meminta Ranti agar kedua tangannya di angkat. Ibu Neta langsung memukul kedua tangan Ranti tanpa merasa kasihan. Kemudian tangan Ranti mengeluarkan darah.
“Hei kalau kamu ingin jadi paranormal keluar dari sekolah ini!  Keluar!. Lalu kamu mencari uang dengan kemampuan seperti mendiang ibu kamu itu! Sebelumnya sudah menyantet orang disini! Pergi dari sini! Pergi dari sini!”  Hardik Ibu Neta dengan begitu keras.
Ibu Neta menarik-narik tangan Ranti dengan kasar, mereka berdua langsung  beranjak ke gudang yang sudah tidak digunakan lagi.
“Sebagai hukuman kamu harus mengepel gudang ini sampai bersih!” Ucap Ibu Neta melototkan matanya dengan nada marah.
Walaupun tangan Ranti masih terasa sakit tetap Ranti melakukan hukuman tersebut, tiba-tiba ada salah satu teman Ranti menghampiri dekat pintu gudang dan memanggil namanya
“Ranti! Ranti!”  Panggil Riska.
“Ris kamu harus pergi deh dari sini! Nanti Ibu Neta melihat kamu berada di sini! dan Ibu Neta akan memarahimu nanti!”  Pinta Ranti.
“Ranti kamu harus pergi ke dokter deh! Luka kamu itu nggak bisa didiamin saja! Nanti infeksi Ranti” Pinta Riska kepada Ranti.
Ranti hanya menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan air matanya karena merasa sedih dan pasrah menerima segala hukuman kepadanya yang diberikan oleh Ibu Neta itu.
”Ranti! Ranti! Ayo dong sekarang kamu rasakan deh badan kamu itu! Pasti dah panas tinggi! Nanti akibatnya bisa fatal deh! Ayolah Ranti! Ranti begini aja deh kalau Ibu Neta datang biar aku yang tanggung jawab! Mau dihukum apa kek terserah deh yang penting kamu bisa sembuh! Kamu kan sahabat aku Ranti!” Ucap Riska.
Tiba-tiba Ibu Neta sudah berada di belakang dari Riska, sambil memanggil nama Riska.
“Riska kamu sedang apa di sini?”  Tanya Ibu Neta.
Riska menoleh dan kaget. 
“Riska Kamu tinggalkan tempat ini! Jika kamu tidak mau maka hukumannya saya tambah lagi”  Pinta Ibu Neta kepada Riska.
“Bu Neta jangan menghukum Ranti lagi ya!  Kalau Ibu mau saya saja yang dihukum bukanlah Ranti! Karena Ranti tidak bersalah Bu! Saya lah yang bersalah karena saya yang punya inisiatif untuk mendekati Ranti dan mengundang roh itu Bu!”  Pinta Riska kepada Ibu Neta sambil memelas iba.
”Tinggalkan tempat ini Riska dan pergi dari sini!” Pinta Ibu Neta kepada Riska sambil melotot. 
Segeralah Riska pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian Ibu Neta membawa mistar penggaris masuk ke dalam ruangan gudang, dan segera mendekati Ranti yang lagi mengepel lantai dan memanggil manggil nama Ranti.
“Mana tangan kamu! Mana tanganmu! Ini belum seberapa yang kamu rasakan! Dan kamu bandingkan Ibu kamu telah membunuh keluargaku karena di santet Ibumu! Bayangkan suami sama kedua anak-anakku meninggal karena pengaruh santet Ibu kamu sendiri!” Hardik Ibu Neta dengan matanya yang melotot kepada Ranti.
Ibu Neta terus memukul tangan Ranti seperti layaknya memukul ular, suara pukulan itu terdengar oleh temannya Riska dari luar kelas, setelah Ibu Neta selesai memukul Ranti dan keluar dari ruang kelas. Ranti menangis tersedu-sedu menahan betapa sakitnya tangan di pukul oleh Ibu Neta dengan mistar penggaris. Diruangan kepala sekolah Riska di undang untuk ngobrol empat mata bersama kepala sekolah SMA, tak lain adalah Ibu Neta sendiri.
“Riska kamu ini adalah perempuan baik-baik! Kamu tak pantas bergaul dengan dia! Jauhi dia! Kalau kamu mau tidak ingin pengaruh buruk itu menimpa kamu!”  Pinta Ibu Neta.
Tanpa sepatah kata-kata Riska hanya diam karena takut untuk membela diri, karakter ibu Neta memang begitu keras, makanya Riska memilih untuk diam tanpa sepatah kata pun yang di ucapkan, Ibu Neta menyuruh Riska untuk segera keluar dari ruangannya, Riska segera pergi meninggalkan Ibu Neta sendirian di ruangannya.
Sore mendekati magrib Ranti masih berada di ruangan gudang sendirian tanpa ada teman-temannya dapat membantu mengeluarkan Ranti dari dalam kelas karena di hukum, tubuh Ranti tiba-tiba bergetar dan wajahnya sangat  pucat, dan Ranti melihat sesuatu benda yang ada di dekatnya dan tak lain itu adalah boneka yang biasa setia menemani Ranti. Ranti segera mendekati boneka tersebut dan memegangi boneka itu, walau tangannya dalam keadaan luka akibat di pukul oleh Ibu Neta. Perlahan-lahan Ranti memegang boneka itu sambil memeluknya, dan membaca mantra sambil menutup matanya.
”Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta! Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami! Maka datanglah!  Datanglah!  Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!” Ranti membaca mantra-mantra itu lagi.
Tiba-tiba saja pintu gudang tertutup dengan sendirinya. Ranti sempat kaget karena pintu tertutup dengan sendirinya, Ranti tetap saja melanjutkan membacakan mantra-mantra tersebut.
“Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta! Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami! Maka datanglah!  Datanglah!  Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!” Ranti terus membacakan mantra-mantra itu lagi.
Tiba-tiba saja Ranti merasakan dimensi alam gaib setelah mengundang roh untuk masuk ke boneka tersebut. Ranti memanggil-manggil ibunya dan melihat sosok ibunya memakai baju putih dan rambut terurai.
“Ibu! Ibu!” Panggil Ranti.
Kemudian Ibunya muncul dengan tiba-tiba di hadapan Ranti.
“Ikutlah denganku Anakku! Ikutlah denganku Anakku! Mari Nak! Mari Nak!” Pinta Ibunya kepada Ranti.
Dan Ranti pun menangis dalam keadaan matanya ditutup, antara di alam bawah sadar Ranti pun tiba-tiba membuka mata dan melangkah menuju lemari dan mengambil tali, dan tangga kecil, Ranti berjalan menuju arah keluar pintu sambil membawa tali dan tangga kecil itu.
Kemudian Ranti bergegas melangkah menuju pohon besar yang berada di dekat kantin sekolah SMA, perlahan-lahan Ranti menaiki tangga dan tali tersebut, kemudian tali dilemparkan ke dahan ranting pohon yang besar, Ranti menggantungkan diri setelah tangganya di tendang oleh dirinya  sendiri, akhirnya Ranti Meninggal dalam keadaan menjulurkan lidah, mata melotot dan kakinya tergantung. Kejadian tersebut pada malam hari setelah sholat Isya. Dan tak seorang pun yang tahu kejadian itu.
Keesokan harinya para siswi-siswi di kejutkan oleh sosok mayat perempuan yang bergantung diri diatas pohon, sosok mayat perempuan tersebut tak lain adalah Ranti yang masih menggunakan pakaian seragam sekolah SMA, semua siswi-siswi sampai kaget dan takut, di antara siswi-siswi itu ada enam orang teman akrab Ranti, Riska, Risna, Rara, Rena, dan Silpana, mereka sambil menangis.
“Innalillahi wa inna illahi rajiun! Ya Allah kenapa semua ini terjadi padamu Ranti? Kenapa kamu mengakhiri hidupmu dengan cara begini Ranti?” Tanya Riska dalam batinnya.
Banyak yang menangis dengan kejadian seperti itu. Sementara Ibu Neta senang melihatnya sambil melihat mayat Ranti dengan sinisnya, dan melihat Riska dengan sinis.
“Ranti! Ranti!” Panggil Riska dalam batinnya.
Sambil menutup mulut menahan air mata yang tidak bisa ia bending. Karena Riska adalah sahabat akrabnya, Riska terkejut tak menyangka sahabat akrabnya pergi meninggalkan dirinya selama-lamanya. 
“Ibu Neta! Ibu Neta! Apakah ini yang Ibu Neta inginkan dari Ranti? Ibu sudah puas melihatnya? Sudah puas Ibu? Ibu sudah puas kah? Sekarang Ibu Neta tidak repot-repot lagi membunuh Ranti! Karena sekarang Ranti sudah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri gantung diri di pohon! Ibu lihat itu kan? “Ucap Riska sambil bertanya kepada Ibu Neta. 
“Lalu bagaimana dengan suami dan dua anak-anakku yang di santet oleh Ibunya sendiri? Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku! Ucap Ibu Neta sambil marah-marah dan bertanya kepada Riska.
Mereka berdua sambil melihat mayat yang menggantung diri,
“Suatu saat pasti Ibu Neta akan mendapatkan balasannya” Ucap Batin Riska.
Dan Ibu Neta tetap dalam keadaan sinis dan bahagia, karena Ranti sudah mengakhiri dengan menggantung diri.

















RANTI 2


Tak terasa dunia ini berputar begitu cepat, tiba-tiba ada sosok seorang  guru, ia kelihatan cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam terurai dan murah senyum, ia datang ke sekolah dengan menggunakan pakaian seragam guru warna hijau muda, lalu sosok seorang guru perempuan itu segera masuk dan duduk di ruangan kantor guru.
Kemudian datanglah sosok seorang laki-laki yang memakai kemeja lengan pendek warna biru, sambil menyodorkan segelas air mineral ke sosok seorang guru perempuan itu. Sosok seorang guru perempuan tersebut ternyata alumni dari sekolah SMA itu, dan sekarang kembali mengabdikan dirinya sebagai seorang guru, sosok seorang guru perempuan itu adalah bernama Riska.
“Terima kasih ya Pak Bondan” Tegur Riska sambil tersenyum.
“Silahkan diminum Riska! Ehk maksud saya Ibu Riska” Ucap Pak Bondan.
”Pak Bondan panggil saya aja dengan sebutan Riska ya Pak Bondan! Seperti Pak Bondan memanggil saya berapa tahun lalu ya?” Pinta Riska.
”Weleh-weleh nggak bisa Ibu Riska! Dulu dan sekarang kan beda lah Bu! 10 tahun yang lalu Ibu Riska masih menjadi siswi di sekolah sini! Sekarang sudah menjadi seorang guru disini! Masa saya harus memanggil dengan sebutan Riska sih?” Ungkap Pak Bondan.
Dan Kedua-duanya sambil tertawa. Tak lama kemudian datanglah kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
“Selamat pagi Ibu Neta dan Ibu Yani? Apa kabarnya Ibu?” Tegur Riska. 
“Eh Riska akhirnya kamu mau datang juga ke sekolah ini dengan mengabdikan diri menjadi seorang guru di sini juga ya! Ibu sangat berterima kasih kamu datang kesini atas kesediaan kamu mau mengajar di sekolah ini! Biar kamu tahu semua yang ada di sekolah ini tidak ada yang berubah.” Sahut Ibu Neta.
Riska dan pak Bondan sambil menatap dan tersenyum.
“Permisi ya Bu Riska saya masih ada pekerjaan yang saya belum kerjakan.” Ucap Pak Bondan sambil minta pamit kepada Riska.
“Silahkan Pak Bondan!” Ucap Riska sambil tersenyum.
”Ya seperti kamu Ris tidak berubah juga! Kamu masih segar! Masih cantik! Dan bersemangat lagi! Rasanya Ibu masih melihatmu sama seperti sepuluh tahun yang lalu! Itu benar lho Ris! Ya kan Ibu Neta?” Ucap Ibu Yani sambil bertanya kepada Ibu Neta dan melihat Riska yang senyum-senyum.
“Terima kasih ya Bu!” Ucap Riska.
”Ibu juga bangga padamu Riska! Coba kamu bayangkan! Kalau kamu tidak mengiyakan saran Ibu ke kamu untuk menjauhi Ranti! Pasti kamu tidak menjadi apa-apa! Dan tidak akan berguna!” Ucap Ibu Neta kepada Riska dengan sinis sambil memandang Ibu Yani.
”Ibu saya mohon Ibu nggak usah membicarakan masa lalu lagi! Biar bagaimana pun Ranti itu adalah sahabat akrab saya! Saat ini Ranti sudah tenang di alam sana” Pinta Riska.
“Mana bisa dia tenang di alam sana? Dia itu mati karena gantung diri! Sementara kedua orang tuanya itu menyantet demi karena uang! Dia itu pasti gentayangan!” Ungkap Ibu Neta.
Tiba-tiba pintu ruangan tertutup keras tanpa ada orang yang menutupnya, Ibu Yani kaget dan teriak karena pintu tertutup sendiri.
”Bu saya mohon ke Ibu jangan membicarakan tentang Ranti lagi ya! Biar bagaimana pun Ranti adalah sahabat saya Bu!” Pinta Riska.
Riska merasakan hawa dingin menyentuh kulit tubuhnya, seperti ada mahluk halus yang  seakan- akan mendekati mereka.
”Ayo Ibu Yani kita pergi dari sini sekarang!” Ajak Ibu Neta kepada temannya itu.
Seperti biasanya malam hari Pak Bondan bertugas mengunci pintu- pintu sekolah SMA, sambil membawa senter sebagai penerang, Pak Bondan memeriksa dari pintu ke pintu. Pak Bondan memeriksanya kembali dan Pak Bondan mengunci salah satu pintu kelas yang belum terkunci, baru melangkahkan kakinya 3 langkah, tiba-tiba pintu yang sudah di kuncinya itu terbuka kembali dengan sendirinya
”Kreekkkkk! Kreekkkk” Bunyi pintu yang lagi terbuka dengan sendirinya.
Bunyi pintu yang terbuka.
“Terkunci kok bisa terbuka sendiri ya?” Gumam Pak Bondan.
Pak Bondan kemudian menguncinya kembali sambil memegangi senter dan di senterinya situasi dalam kelas, tiba-tiba sosok perempuan memakai baju sekolah SMA, rambutnya terurai berdiri dan dengan wajahnya yang sangat pucat dan menoleh ke hadapan wajah Pak Bondan, dengan sontaknya Pak Bondan ketakutan dan gemetar melihat sosok hantu perempuan yang tak lain adalah hantu Ranti yang gentayangan akibat gantung diri.
“Setaaaaaaan! Setaaaaaaan! Setaaaaan!“ Teriak keras Pak Bondan sambil berlari ketakutan.
Keesokan harinya ada sekolompok siswi-siswi yang sedang memanggil roh dengan mediasi boneka seperti halnya yang dilakukan sebelumnya oleh Ranti dan teman-temannya. Mereka itu adalah Weni, Leni, Widya, Sari, dan Wani.
 ”Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta!  Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami! Maka datanglah!  Datanglah!  Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!“  Ranti membaca mantra-mantra.
Di alam bawah sadar Weni seperti melihat sosok perempuan yang sementara di keroyok oleh masyarakat, tak lain adalah ibunya sendiri. Dan tiba-tiba pintu kelas tertutup dengan sendirinya. Kemudian teman-teman Weni sempat kaget karena pintu tertutup dengan sendirinya,  tetap saja siswi siswi itu membacakan mantra-mantra tersebut.
”Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta!  Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami!  Maka datanglah!  Datanglah!  Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar! “ Siswi-siswi itu melanjutkan membaca dengan keras-keras.
 Sosok seseorang perempuan itu membuka lemari untuk memeriksa daftar absen siswi-siswi, sosok seorang perempuan itu tak lain adalah Riska, Riska membuka daftar-daftar nama siswi-siswi pada absen. Tiba-tiba kepala sekolah datang dan mendekati Riska sambil memberi tahukan bahwa Riska mendapatkan perwalian kelas.
“Saya sudah memutuskan bahwa kamu menjadi perwalian kelas XI IPA-Dua. Tapi mulai aktif minggu depan” Ucap Ibu Neta kepada Riska.
Kemudian Ibu Neta pergi meninggalkan Riska sendiri.
Lima orang siswi-siswi membaca mantra –mantra sambil memanggil roh-roh untuk masuk ke boneka “Berilah tanda silang jika kamu telah hadir! Jika kamu laki-laki tulis tanda “X”! Dan jika kamu perempuan tulis tanda “O”. Pinta Weni.
Kemudian boneka tersebut seakan- akan bergerak dan angin pun bertiup dengan kencang, belum selesai mereka membacakan mantra. Tiba-tiba Ibu Neta datang menghampiri mereka, dan langsung mencegah siswi-siswi agar tidak melanjutkan membaca mantra-mantra mereka, dan berkata.
“Ibu paling benci dengan hal-hal yang mistis seperti ini!” Ucap Ibu Neta kepada siswinya.
Ibu Neta kemudian mengambil boneka itu dari tangan Weni dan melemparkan boneka itu di luar kelas.
“Berdiri! Berdiri!  Pinta Ibu Neta kepada Weni.
“Sepuluh tahun yang lalu sekolahan kita pernah di permalukan kasus bunuh diri seorang siswi yang mempunyai hobi sama seperti kamu! Yaitu memanggil-manggil roh! Dan bisa saja bunuh diri anak itu karena roh jahat yang di panggilnya! Jadi jangan coba-coba bersikap bodoh! Kecuali kamu mau di kucilkan karena kegemaranmu itu!” Ucap ibu Neta dengan nada marah.  
Dari luar pintu Riska tidak sengaja mendengarkan ibu Neta obrolan dengan siswi-siswi dengan nada suaranya yang marah besar dan sangat sinis itu. Dari balik jendela tiba-tiba muncul seorang sosok hantu yang memakai baju putih dan rambutnya teurai yang dapat di lihat oleh seseorang dari siswi yang bernama Weni.
“Sesuatu akan terjadi!” Ucap Batin Weni.
Sambil menarik nafas panjang, Weni masih melihat sosok hantu gentayangan itu masih berada di balik jendela itu. Mahluk halus itu adalah sosok Ibunya Ranti yang telah lama meninggal karena di keroyok oleh warga.
“Kembali ke bangku kalian masing-masing cepat!” Pinta Ibu Neta.
 Siswi-siswi yang lain segera kembali ke bangku mereka masing-masing.
Ibu Neta menyuruh di antara siswi-siswi sambil menatap dengan wajahnya yang sangar.
“Kamu ambil buku catatan di kantor karena hari ini Ibu Nirmala tidak akan masuk!” Ucap Ibu Neta.
“Baik Bu saya akan mengambil buku catatan itu di kantor!“ Ucap Weni.
Dari ruangan sosok seorang guru  sedang berdiri di depan pintu dengan tatapan kosong, sosok seorang guru itu  melamun dan menghadap ke pohon, lamunan sosok perempuan terbuyar ketika melihat ada sosok hantu menampakan wujudnya dari pohon itu, lalu sosok hantu itu memandang ke arah sosok guru perempuan, sosok hantu itu adalah Ranti sahabat akrabnya.
“Ranti! Ranti! Ranti! Ranti!” Panggil Riska.
Kemudian hantu Ranti segera pergi dan menghilang, dan Riska kaget setelah ada seorang siswi yang menepuk pundak Riska, siswi tersebut adalah Weni.
“Astagfirullah Halazim! Kamu mengagetkanku Weni! “  Ucap Riska.
“Saya minta maaf Bu! Karena saya di suruh sama Ibu Neta mengambil catatan!” Ucap Weni.  
“Catatan apa itu ya?” Tanya Riska dengan bingung.
”Iya catatan katanya yang sudah disiapkan oleh Bu Nirmala” Jawab Weni dengan singkat.
”Ya udah kamu ambil catatan itu di meja Ibu Nirmala”. Pinta Riska. 
”Maaf Bu! saya lihat dari tadi Ibu melihat keluar terus apa lagi menatap di pohon itu” Ucap Weni.
”Hanya mengingat saja kalau dulu saya sempat mempunyai sahabat baik dan akrab dengan saya”. Ucap Riska sambil bercerita masa lalunya kepada Weni.
”Saya pernah mendengar kisah cerita tragis kayak gitu dan saya ikut sedih! Mohon maaf permisi Bu” Sahut Weni.
Tiba-tiba saja Ibu Neta masuk dan memberi tahu kepada Riska tentang siswi yang di suruh itu.
”Namanya Weni dia itu termasuk siswi yang aneh! Karena dia lebih suka menyendiri di gudang sekolahan dari pada di asrama! Dia juga bukan siswi yang istimewa! Kecuali dirinya memanggil roh! Tapi dia itu sekarang tahu kalau saya itu benci dengan kemampuannya!“ Ucap Ibu Neta.
Dan Ibu Neta pergi meninggalkan setelah memberi tahu informasi, sementara itu Riska masih dalam kebingungan dan ingin mencari tahu kebenarannya. Sosok hantu Ranti hendak datang ke ruangan kepala sekolah. Pada malam harinya ibu Neta sedang memeriksa absen semua siswi-siswi SMA, tiba-tiba kaget dengan salah satu nama yang masih tercantum di absen tersebut, tak lain nama itu adalah Ranti sosok siswi yang pernah sekolah di sekolah SMA itu.
 ”Aneh ya kok bisa nama itu muncul di setiap tahun ajaran baru ya? Padahal saya sudah tidak menuliskan lagi nama itu di daftar absen semenjak dia itu bunuh diri! Apa itu pertanda apakah dia itu bersekolah lagi ya?”  Ucap Riska dalam batinnya sambil bertanya-tanya.
Tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang tak lain adalah Pak Bondan.
“Selamat malam Bu!” Tegur Pak Bondan dengan pelan.
Ibu Neta terkejut dan kaget setelah pintu diketuk oleh Pak Bondan.
“Weleh- weleh ohk Pak Bondan to bikin copot jantung saja Pak Bondan ini ya?” Ucap Ibu Neta.
“Ibu masih lembur?” Tanya Pak Bondan
“Iya Pak! Masih ada yang saya harus kerjakan malam ini Pak Bondan! Tapi setengah jam lagi baru selesai!” Ucap Ibu Neta.
”Ada yang saya bisa bantu Bu Neta?” Tanya Pak Bondan kembali.
”Nggak usah Pak!” Jawab Ibu Neta.
”Atau saya buatkan kopi untuk Ibu?” Tanya Pak Bondan lagi.
”Boleh juga!” Ucap Ibu Neta.
”Baiklah saya akan buatkan kopi untuk Ibu!” Pamit Pak Bondan.
”Terima kasih banyak ya Pak Bondan!” Ucap Ibu Neta.
Kemudian Pak Bondan segera meninggalkan Ibu Neta untuk membuat kopi di dapur sekolah.
Tiba-tiba hpnya Ibu Neta berdering, dan panggilan masuk itu nggak tercantum nama, yang ada panggilan itu nomor Panggilan Pribadi, dan Ibu Neta segera melihat hpnya sambil berkata.
“Kok aneh ya? Tadi siang nggak ada signal kok kenapa malam ini tiba-tiba ada ya?”  Gumam Ibu Neta.
“Halo! Halo! Ya halo! Halo!” Teriak Ibu Neta.
Ibu Neta keluar dari ruangannya. Datanglah  sosok seorang perempuan yang menggunakan jaket hitam yang menutupi kepalanya dan sosok seorang perempuan itu telah dirasuki sosok hantu Ranti. 
“Halo! Halo!” Teriak Ibu Neta dengan kerasnya.  
Ibu Neta melihat penampakan sosok wanita dari luar ruangannya dekat jendela, sosok itulah Ibunya Ranti yang sengaja menampakan dirinya. Sementara Pak Bondan sedang membuat segelas kopi di dapur sekolah.
“Kring…! Kring…! Kring…!” Bunyi dering hp kembali.
 Hpnya Ibu Neta kembali berdering setelah tadi berdering ternyata nggak ada yang merespon suaranya..
“Kring! Kring.! Kring!” Bunyi hp kembali berdering.
Ibu Neta mengangkatnya dan langsung marah-marah.
“Halo! Hey siapa kamu sebenarnya? Ayo cepat bicara jika kamu ingin bicara dengan aku! Halo!“  Teriak Ibu Neta dengan nada kesal.
Kemudian hpnya dimatikannya. Setelah mematikan hpnya, tiba-tiba bulu kuduknya merinding seakan-akan ada yang akan mendekatinya. Dan ternyata yang datang mendekati Ibu Neta itu adalah siswi yang telah di rasuki oleh arwah Ranti, dia adalah Leni, dan segera mencekik Ibu Neta dengan sabuk sambil menarik Ibu Neta keluar dari ruangannya.
Dari kejauhan arwah Ibu Ranti juga menyaksikannya, arwahnya juga terlibat dalam pembunuhan karena di sebabkan balas dendam. Akhirnya Ibu Neta meninggal dengan matanya yang melotot serta lidahnya menjulur keluar. Kemudian tubuh Ibu Neta jatuh tersungkur ke lantai ruangannya secara perlahan-lahan. Kematiannya sangat mengerikan, matanya melotot tajam dan lidahnya menjulur keluar dari mulutnya, serta darah yang begitu banyak keluar. Leni menarik Ibu Neta keluar dari ruangan sampai darah tersebut mengalir dan jatuh pada lantai ruangan. Sementara Pak Bondan telah selesai membuatkan segelas kopi, dan tak lupa membawa senter sebagai penerang jalan. Pak Bondan melihat lagi pintu kelas tiba-tiba terbuka.
“Aneh! Beberapa malam kok pintu kelas selalu terbuka sendiri ya? Padahal aku sudah menguncinya! Jangan-jangan…!” Gumam Pak Bondan.
“Krekkk! Krekkk! Krekkk!” Bunyi pintu sedang terbuka sendiri dan pintu tertutup dengan keras.
“Iiiiiiihhh! Setannnnnnnn….! Setannnnnnnnn!” Teriak Pak Bondan dengan gemetar dan ketakutan.
Pak Bondan tak melihat mayat Ibu Neta sudah di bawa oleh Leni melalui pintu kelas tersebut. Sampailah Pak Bondan ke ruangan Ibu Neta. Sambil memanggil nama.
“Ibu Neta! Ibu Neta! Ibu Neta! Ibu Neta! Ibu Neta!” Panggil Pak Bondan.
 Mata Pak Bondan tertuju pada lantai dan melihat ada tanda darah di lantai. Pengaruh Ibu Neta yang di tarik-tarik oleh Leni dan mengeluarkan banyak darah. Darah tersebut di ikuti oleh Pak Bondan sampai di mana arah darah itu. Baru sekitar 15 langkah tiba-tiba langkah kaki Pak Bondan terhenti di depan mata nampak sosok arwah Ibu Ranti dengan wajahnya yang menakutkan…memakai baju putih dan rambut menjulang terurai.. Pak Bondan kaget dan takut. Saking takutnya Pak Bondan gemetar memegang senter dan siap-siap untuk lari dan berteriak.
“Setannnnnnnnnn! Setannnnnnnn! Setannnnnnnnnnnn!” Teriak Pak Bondan.
Namun tak seorang pun yang tahu, hanya Pak Bondan sendiri yang bertugas memeriksa ruangan-ruangan pintu – pintu kelas itu. Keesokan harinya semua mata siswi-siswi terkejut dan kaget melihat ada mayat di bawah pohon dengan mata melotot dan lidah menjulur keluar dari mulut, serta ada bekas cekikakan di leher dan kelihatan darah di leher tersebut.  Siswi- siswi yang lain meninggalkan tempat itu karena mereka takut. Datanglah seorang guru yang akrab dengan Ibu Neta yaitu Ibu Yani sambil teriak dengan histeris sambil memeluk tubuh mayat dan berkata.
“Adaaaaa apaaaaa iniiiiiiii? Kenapa Ibu Neta? Kenapa! Kenapa! Kenapa! Ibu Neta! Ibu Neta! Ibu Neta”. Ungkap Ibu Yani sambil menangis. 
Disamping itu Riska datang di tempat kejadian. Dan Riska pergi meninggalkan mayat Ibu Neta dan mencari kebenaran kematian tragis yang terjadi sama Ibu Neta. Digudang sekolah dua orang siswi lagi asik- asik ngobrol. Weni bertanyak kepada temannya Leni.
“Kenapa lagi kamu sih Len?”  Tanya Weni. 
”Secara langsung aku itu terlibat dengan kematiannya Ibu Neta.” Jawab Leni.
Setelah Leni kembali mengingat soal kematian Ibu Neta gara-gara membacakan mantra pengundang roh untuk masuk ke boneka, dari mengundang roh-roh itu sehingga mengakibatkan Ibu Neta meninggal.
“Aku harus pergi Wen!” Ucap Leni.
Tiba-tiba Riska datang menghampiri keduanya tapi apa daya tangan tak sampai Leninya pergi. Dan Riska datang menghampiri si Weni ke dalam gudang.
“Ada yang salah Bu?”. Tanya Weni.
“Gimana kamu mau santai-santai di dalam gudang sini sementara teman-teman kamu pada panik di luar sana?” Jawab Riska. 
“Saya nggak bisa melihat darah yang banyak Bu!” Jawab Weni lagi. 
Kemudian Riska menghampiri Weni dan duduk berdekatan sambil berkata kepada Weni. 
“Sebenarnya bukan itu kan! Dan pasti ada sesuatu kamu sembunyikan kan?” Tanya Riska lagi.
”Maksud Ibu saya terlibat dengan kematiannya Ibu Neta ya?”. Tanya Weni lagi. 
”Saya tidak menuduh kamu seperti itu?” Jawab Riska. 
”Lalu?” Tanya Weni lagi.
 Kemudian Riska berdiri dan mendekati Weni yang sedang duduk dan bertanya
“Kamu dekat dengan Leni?” Tanya Riska lagi.
“Dekat sekali sih nggak!”. Kebetulan aja saya sebangku dengannya, saya mengenal dia nggak lebih, dari teman yang memanggil roh.” Jawab Weni. 
”Memanggil roh? Bukannya selama ini kamu yang memanggil roh ya?” Tanya Riska lagi.
 “Sa..saya hanya belajar dari Leni! Mungkin itu salah satu cara dia untuk mendapatkan perhatian dan banyak mendapat teman banyak! Kalau Ibu mau tahu siapa Leni sebenarnya! Tanyakan saja sama dia!” Jawab Weni dengan gugup.
Riska bingung dan ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya diantara Weni dan Leni. Dan akhirnya Riska pergi dari gudang itu. Setelah dari gudang Riska bergegas kembali menuju ruangannya untuk  mengecek absen lagi, dari angkatan sebelumnya sampai Riska sudah menjadi seorang guru, mata Riska tertuju di absen dan melihat nama Ranti masih tercantum, setiap absen ada namanya Ranti masih tercantum dengan sangat jelas.
”Ternyata Ranti bersekolah di sini selama sepuluh tahun?” Ucap dalam Batinnya Riska.
Riska segera merapikan absen itu yang telah di periksanya, dan setiap tahun ternyata nama Ranti masih tercantum walaupun sudah di hapus nama itu tetap masih nongol juga di absen. Kemudian Riska bergegas lagi menuju ke gudang dan melihat sikon yang ada di dalam gudang itu, perlahan-lahan kakinya melangkah dan matanya tertuju pada lukisan yang penuh debu, kemudian lukisan itu di bersihkan dari debu yang menempel pada lukisan itu. Tampak kelihatan jelas wajah sahabatnya itu di poto, dan ternyata yang di poto itu tak lain adalah Ranti sahabatnya yang sudah lama meninggal.
“Ranti! Ranti! Ranti!” Panggil Riska.
Kemudian lukisan poto sahabatnya di letakan kembali ke tempat semula, dan melangkah lagi ingin mencari tahu sikon yang ada di gudang, dan tak lama kemudian Riska melihat Bel yang mempunyai vita tali merah dan langsung memegangnya, melihatnya seakan-akan mengganjal dalam pikirannya.
“Bel itu kok sudah ada lagi di gudang! Padahal itu sudah sepuluh tahun telah berlalu!” Ucap dalam batinnya Riska.
Malam semakin larut, dua orang siswi berjalan mencari teman mereka untuk sama-sama belajar, dan memecahkan tugas yang di dapatkan dari sekolah, kedua orang itu  Widya dan Sari. 
“Sar kita balik aja ke asrama yuk!  Aku takut nih!” Ucap Widya. 
“Aduh kita kan harus menemukan si Leni kan! Cuma dia yang bisa ngerjain PR kita” Ucap Sari dengan nada memaksa.
”Tapi perasaan aku nggak enak nih! Semenjak meninggalnya Ibu Neta sebulan yang lalu! Kayaknya tempat ini telah menjadi angker deh! Ada penampakan roh lagi! Tuh kamu dengar suara lonceng nggak?” Tanya Widya. 
”Bel apaan lagi! Jangan berpikir macam-macam deh! Ayo cepetan dong!” Ucap Sari lagi.
Dari kejauhan tiba-tiba penampakan hantu Ranti muncul dari bawah pohon dan Widya, Sari mereka dapat melihat arwahnya Ranti.
“Wid! Sar!” Mereka berdua sambil memanggil karen ketakutan.
Dan akhirnya Sari pingsan karena melihat arwah Ranti muncul dan menakutkan.  Widya pun lari terbirit-birit setelah melihat temannya pingsan. Riska masih berada dalam ruangan gudang sambil memegang lonceng bel dan memegang boneka sambil melamun.
“Ting…! Ting…..! Ting!” Bunyi Bel.
“Ibu Riska! Ibu Riska!” Panggil Weni secara tiba-tiba.
Dan seketika lamunan itu buyar setelah ada yang memanggil namanya.  Ternyata yang memanggilnya adalah Weni.
”Wen apa sebenarnya terjadi?” Tanya Riska.
Kemudian si Weni balik bertanya kepada Riska,
”Maksud Ibu apa ya?” Tanya Weni kembali.
“Kamu pasti tahu siapa yang membunuh Ibu Neta kan?” Tanya Riska lagi.
”Kok Ibu bisa berbicara begitu ke saya! Seharusnya Ibu tanya kepada Leni! Karena dia yang punya kemampuan memanggil roh itu!” Jawab Weni yang sementara gugup dan takut.
”Saya sudah mencarinya ke mana-mana! Tapi saya tidak menemukannya! Sekarang kamu jujur kepada Ibu! Kamu pasti tahu banyak tentang Ranti kan?” Pinta Riska.
”Ibu! Ranti itu sudah lama meninggal sebelum saya masuk di sekolah ini kan!” Ucap Weni. 
”Tapi kamu kenapa bisa mempunyai lonceng bel ini? Dan kamu mempunyai boneka ini punya Ranti dulu dan mempunyai poto Ranti? Jangan bilang kamu menemukan barang-barang ini dengan mudah di sembarangan tempat! Karena yang mempunyai lonceng bel ini hanyalah Rant! Kamu harus jujur Wen pada Ibu sekarang! Dari mana kamu mendapatkan semua ini?” Tanya Riska sambil meminta Weni jujur.
“Da…Da dari seseorang teman Bu!”. Jawab Weni dengan gugup dan terbata-bata. 
”Dari teman siapa?” Tanya Riska dengan penasaran. 
”Dari teman! Lani Bu!” Jawab Weni dengan gugup.  
”Leni?” Tanya Riska dengan penasaran lagi. 
”Iya Bu!” Jawab Weni dengan gugup. 
”Lalu dari mana Leni mendapatkan barang semua ini?” Tanyak Riska dengan penasaran.  
”Apa sih keistimewaan barang-barang ini! Ibu selalu mempersoalkannya?” Tanyak Weni.
”Hanya kami berdua yang mempunyai lonceng bel ini! Ranti sengaja membuat lonceng bel ini sebagai tanda persahabatan kami! Kamu sekarang nggak usah banyak nanyak! Sekarang kamu jujur saja! Dari mana Leni mendapatkan Lonceng bel ini?” Tanyak Riska kembali.
”Saya nggak tahu!” Jawab Weni lagi. 
“Sekarang dimana Leni?” Tanya Riska lagi.
”Kalau Ibu saja nggak bisa menemukannya apa lagi saya!” Jawab Weni.  
”Ingat ya Weni sampai kapanpun saya akan tetap berusaha mencari tahu!” Ucap Riska lagi kepada Weni. 
”Kalau Ibu nanti sudah tahu?” Tanya Weni.
”Saya akan memberhentikan pembunuhan ini! Dan kamu akan terlibat dalam kasus pembunuhan Ibu Neta!” Jawab Riska.
Riska dengan menunjuk jari telunjuk di wajahnya Weni dan pergi meninggalkannya digudang sendirian. Weni begitu ketakutan dengan penyebab kematiannya Ibu Neta karena sangat berhubungan dengannya.
 “Ranti! Ranti! Ranti! Ranti aku tahu kamu malam ini berada di dekat aku! Ranti ayolah keluar Ran! Kita berdua berbicara dengan secara baik-baik Ran! Aku yakin kamu melakukan itu karena dendam! Dan aku tahu Ran perlakuan Ibu Neta itu sangat menyakitkan Ran!” Pinta Riska.
Tiba-tiba Riska terkejut dan sempat kaget datang seorang siswi yang bernama Widya, dan memanggil Riska dengan suara tersengal-sengal karena kejadian melihat hantu Ranti bersama Sari. Akhirnya Sari pingsan, dan Widya mencoba lari untuk memberi tahu apa yang telah terjadi.
”Bu Ris!  Sa…Sari Bu!” Ucap Widya dengan suaranya menjadi gagap karena takut.
”Iya ada apa dengan Sari? Kok kamu kayak ada sesuatu yang membuat kamu menjadi takut seperti ini ya?” Tanya Riska penasaran.
”Sari pingsan Bu!” Jawab Widya.
”Sari pingsan?” Tanya Riska lagi dengan penasaran.  
”Iya Bu! Sari pingsan! Tadi dia melihat hantu disana dan terkejut Bu!”  Jawab Widya.
”Kalau gitu kita lihat sekarang!” Pinta Riska.
Widya langsung menarik tangan gurunya itu untuk segera melihat Sari pingsan.
“Ayo Bu! Cepetan kita lihat Sari pingsan” Pinta Widya.
”Dimana dia sekarang? Kok nggak ada ya!” Tanya Riksa.
”Lho tadi kok ada di sini! Kok udah nggak ada ya!” Jawab Widya dengan bingung.
”Sari! Sari! Sari!” Panggil Riska dan Widya.
Dan tiba-tiba Riska melihat Leni muncul dari balik pohon dengan menggunakan Jaket hitam seperti yang digunakan pada saat membunuh Ibu Neta karena dirasuki roh oleh Ranti. Riska menyuruh Widya untuk segera pergi ke asrama sekolah.
”Widya kamu segera pergi ke asrama ya cepetan ya!”  Pinta Riska. 
”Baiklah Bu! Saya akan ke asrama Bu!” Ucap Widya sembari meninggalkannya.
Kemudian Riska mengikuti jejak Leni. Setelah kembali Widya ke asrama sempat kaget dengan keberadaannya Sari, sambil berkata.
“Sari kok kenapa kamu sudah berada di sini?” Tanya Widya dengan penasaran.
”Iya ya tadi aku kan!…Pingsan kok tiba-tiba aku sudah berada di kamar asrama ya?” Ucap Sari dengan penasaran juga.
“Jangan-jangan kamu di bawa oleh hantu tadi lagi ke sini Sar!” Ucap Widya.
”Kamu jangan nakutin aku dong! Aku jadi takut nih!” Pinta Sari.
 Tiba-tiba saja penampakan hantu Ranti kembali muncul di hadapan di balik jendela kamar asrama Widya dan Sari, mereka melihatnya dan berteriak.
“Setannnnnnn! Setannnnnn! Setannnnnnn!” Teriak Weni dan Sari.
 Akhirnya mereka berdua pingsan. Karena saking takutnya mereka melihat penampakan hantu Ranti datang dan menampakan diri. Riska berjalan mengikuti Leni sambil membawa lonceng bel dan dibunyikan bel lonceng tersebut.
“Leni! Leni! Leni!” Panggil Riska.
Namun Leni tetap saja berjalan tanpa menoleh Riska yang sedang memanggilnya. Leni terus berjalan sampai  menuju depan gudang. Riska sambil berbicara kepada Leni, kemudian Leni akhirnya menghentikan langkahnya itu.
”Saya tahu kamu pasti ada hubungan dengan Ranti kan? Tapi dia sudah tidak boleh kembali ke sekolah ini!” Ucap Riska.
 Kemudian Leni menoleh setelah mendengarkan kata-kata yang dibicarakan sama Riska. Leni sambil membawa benda tajam, benda tajam tersebut adalah pisau tajam mengkilat, dan pisau diangkat untuk membunuh Riska sambil berjalan menuju Riska.
”Jangan Leni! Jangan Leni! Jangan Leni! Jangan Leni” Pinta Riska.
Dan Riska terus berlari menuju kelas dan langsung mengunci pintu kelas,setelah di lihatnya Leni sudah menghilang lagi, Riska menoleh ke samping ke kiri, ke kanan. Namun Leni belum muncul juga. Tiba-tiba Leni sudah berada di depan pintu yang sudah di kunci oleh Riska, dan akhirnya pintu kelas terbuka.
“Kamu tidak akan bisa membunuhku!” Ucap Riska.
”Tanpa kamu aku masih tetap bisa sekolah di sini!” Ucap Leni.
”Berhentilah! Tidak ada gunanya kamu melakukan ini! Karena kamu hanyalah seorang hantu!” Ujar Riska.
 ”Awalnya aku hanya ingin memiliki buku tahunan! Tapi aku mempunyai keinginan lebih! Aku ingin mempunyai teman banyak yang bisa mengerti aku!” Ucap Leni.
”Tapi bukan begini caranya kamu melakukannya! Kalau begitu kamu bukanlah Leni atau bukanlah Ranti!” Sahut Riska.
Riska  memundurkan kakinya perlahan-lahan menuju meja  belakang. 
”Dan kamu juga bukan Riska?” Ucap Leni.  
”Tidak! Aku tetap Riska! Dari dulu sampai sekarang aku tetaplah Riska! aku tetap tidaklah berubah!” Ucap Riska.
”Tidak! Kamu akan menjadi seperti Ibu Neta! Yang mengatur dan menekan semua siswi yang ada disekolah ini! Lalu dia menyuruh kepada semua orang yang dia tidak suka!” Teriak Leni dengan keras.
”Aku tidak mempunyai watak seperti itu! Buktinya sampai sekarang aku masih tetap menganggap Ranti adalah sahabat baikku! Walaupun dia sudah meninggal!” Ujar Riska. 
”Bohong! Aku ini adalah Ranti! Kalau kamu mengganggap aku sebagai sahabat! Kamu tidak akan menghentikan kegiatanku! Sebenarnya aku tidak akan menyakitimu! Tapi apa boleh buat kita bukan sahabat lagi” Ucap Leni.
Leni terus melangkah mendekati Riska dengan mengangkat pisau tajam kearah Riska.
”Ranti sadar Ran! Ini mengerikan! Aku hanya ingin kamu tidak melakukan hal sekeji seperti ini lagi! Kamu bukannya mau sekolah! Tapi kamu hanya ingin membalas dendam!” Ucap Riska.
Riska mundur dan merasa takut Leni sudah mencabik-cabik pisaunya ke arah meja.
”Aku sudah bilang! Awalnya aku hanya ingin sekolah! Dan memiliki buku tahunan! Tapi apa yang terjadi! Ibu Neta tidak pernah melupakanku! Dia selalu mengejekku! Meskipun aku sudah mati! Aku juga butuh teman yang bisa memahami dan ngertiin aku! Sampai aku menemukan Leni! Tapi tiba-tiba kamu datang dan mengusik aku! Dan menekan Leni untuk berterus terang!” Ucap Leni.
”Tapi bukan begini caranya! Aku tidak mau kamu melakukan hal sekeji dan biadab seperti ini! Kamu harus menghentikannya!” Ucap Riska lagi.
”Tidak! Tidak!” Ujar Leni.
”Hentikan semua ini!” Pinta Weni datang dengan tiba-tiba di dalam kelas.
Weni sambil membawa pisau dan akan mengancam menghunuskan pisau itu ke lehernya. Sepertinya Leni tidak mau Weni melakukan bunuh diri.
”Jangan lakukan itu!” Pinta Leni
”Aku akan melakukannya kalau kamu akan berani melukai Ibu Riska! Aku merasa tertipu! Kamu bilang kamu hanya ingin sekolah di sini! Dan ingin mengisi bangku kelas! Nggak ada rencana membunuh!” Ucap Weni.
Seketika itu Leni langsung diam dan tidak lagi membunuh Riska.
”Maafkan saya ya Bu Ris! Saya telah membohongi Ibu!” Ucap Weni.
”Lalu sebenarnya siapa dirinya itu?” Tanya Riska.
”Dia adalah Leni yang sudah luka parah Bu! Yang pernah kecelakaan itu Bu!” Jawab Weni.
Weni mengingat kejadian yang telah berlalu seketika Leni di tabrak oleh sopir mobil yang laju, bahkan sopir melarikan diri.
”Dia sudah terluka parah Bu! Dan sudah tidak bisa apa-apa lagi dan mati! Saya takut! Akhirnya saya menggunakan kemampuan saya! Sebelum saya memanggil roh itu saya melukai jari saya agar darah menetes ke boneka!” Ucap Weni.
“Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta!  Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami! Maka datanglah!  Datanglah!  Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!” Ucap dari mulut Weni.
”Kemudian roh Ranti itu masuk ke dalam tubuh Leni! Dia mulai mengutarakan niatnya! Bahkan dia memberiku boneka mini dan lonceng bel ini Bu!“ Ungkap Weni
“Dia sangat tergantung pada saya! Jika saya mati! Maka dia juga akan mati Bu! Bahkan aku terluka sedikit saja dia akan sekarat! Aku sangat menyayangimu! sungguh! Tolong tinggalkan kami! Beristrahatlah dengan tenang di alam sana! Dan semuanya telah berakhir!” Pinta Weni.
Tiba-tiba Leni menarik tangan Riska dan menghunuskan pisau itu ke leher Riska!
“Leni! Leni!”  Panggil Weni.  
Kemudian Weni mengambil boneka yang di bawanya itu, lalu Weni mengiris tangannya agar darah keluar dan menetes ke boneka sambil membaca mantra.
”Jiwa Dan Raga! Menyatukan Naluri! Rasa! Cipta!  Aku Menghadirkan Sosokmu! Datang! Datanglah Ke Sini! Datang Tanpa Di Jemput Pulang Tanpa Di Antar! Wahai Roh Suci Yang Bersemayam Yang Kekal Di Alam Sana! Datanglah! Datanglah! Bangunlah! Di Antara Pesta Ini! Di Antara Desahan Nafas Ini! Di Antara Alam Pikiran Kami!  Maka datanglah!  Datanglah!  Datang tanpa di jemput pulang tanpa di antar!”  Ucap Weni dengan membacakan mantranya.
Kemudian tangan Weni yang ada darah itu di tempelkan ke arah boneka. Seketika itu Leni yang menyandra Riska pingsan tak berdaya. Pengaruh roh Ranti sudah keluar dari tubuh Leni.
”Kamu nggak apa-apa Wen?” Tanya Riska sambil memeluk Weni.
”Alhamdulillah Bu saya nggak apa-apa.” Jawab Weni sambil memeluk gurunya itu.


TENTANG PENULIS
Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: MEREKA ADA DI SEKITAR KITA, Penulis dapat di hubungi melalui  email : jamaludinrifai442@gmail.com 
No HP: 085340008577

0 komentar:

Posting Komentar