JAMALUDIN RIFAI
MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2
jangan membaca sendirian di tengah malam ya!
KATA
PENGANTAR
Pembaca yang budiman cerita ini
berawal dari rasa ketakutan dan cerita-cerita menyeramkan dari beberapa teman
kuliah, teman-teman sekolah, tetangga yang berasa dekat rumah. Dan termasuk
juga berdasarkan pengalaman pribadi, akhirnya kumpulan cerita tentang MEREKA
ADA DI SEKITAR KITA bagian yang kedua kalinya kini hadir di hadapan pembaca
yang budiman dan para penggemar cerita tentang mengungkap misteri-misteri arwah
gentayangan.
Pembaca yang budiman tak dapat
dipungkiri tentang keberadaan makhluk astral yang memang ada di sekitar kita,
penunggu setia tempat hunian kita yang kadang kerap mengganggu dan menampakkan
diri. Hal ini juga terjadi di beberapa tempat seperti sekolah, rumah sakit
dll. Dan saya yakin dan percaya kita
mempercayai adanya mahkluk-mahkluk gaib berarti mempercayai kekuasaan Allah,
karena Allah itu bukannya hanya menciptakan manusia saja, tapi Allah juga
menciptakan mahkluk-mahkluk lainnya, seperti malaikat,Iblis,Jin,dll.
Hal ini serupa ternyata juga di
alami oleh orang-orang tertentu yang utamanya teman-teman facebook yang membagi
kisah mereka di timeline-nya. Dan kadang berkesan lebih menyeramkan dari cerita
yang saya punya. Tentunya solusi juga muncul untuk mengatasi masalah-masalah
ganjil yang kerap timbul di tempat-tempat tertentu. Buku ini hadir bukan untuk
menakut-nakuti pembaca yang budiman, melainkan untuk berbagi cerita dan solusi,
bilaman kita mengalami masalah yang sama.
Semoga dengan membaca buku ini,
anda akan menjadi seseorang yang menjadi pemberani dan terbebas dari segala
halusinasi.
Pembaca yang budiman mohon maaf atas segala kekurangan cerita saya ini,
selamat membaca dan jangan tegang dan jangan takut ya!!! Pembaca yang budiman
kisah ini berjudul MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2!
SELAMAT MEMBACA!!!!!!!
Penulis:
Jamaludin
Rifai.
TERIMA KASIH:
SAYA
MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA:
1.
ALLAH
SWT ATAS SEGALA ANUGRAH DAN KESEMPATAN YANG SUDAH DIBERIKAN
2.
KEDUA
ORANG TUA ATAS CINTA DAN KASIH SAYANG YANG TAK PERNAH PUTUS ASA.
3.
KELUARGA
BESAR TERUTAMA BUAT KEDUA KAKAKKU, MBAK SUWARNI RIVAI, MBAK MASNI RIVAI YANG
TELAH MEMBERIKU MOTIVASI DAN DUKUNGAN TERHADAP SAYA.
4.
TEMAN-TEMAN
SEKOLAHKU DARI SD SAMPAI PERGURUAN TINGGI, KHUSUSNYA PARA SAHABAT-SAHABATKU
ALUMNI FAKULTAS TARBIYAH PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS : MR SATARUDIN
A.TUDU S.Pd.I, BERSAMA MR RISKY PAPUTUNGAN, S.Pd.I, YANG SELALU MEMBERIKU MOTIVASI SERTA
NASIHAT-NASIHAT YANG MEMBANGUN JUGA,
5.
BUAT
GUR-GURUKU SERTA DOSEN-DOSENKU YANG SELALU MEMBERIKAN ILMU DAN MOTIVASI KEPADA
SAYA.
6.
ORANG-ORANG
YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTU MEMBACA KARYA-KARYAKU. TERIMA KASIH BANYAK.
BUKU
INI SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK:
PAPA
DAN MAMA TERCINTA YANG HINGGA KINI TERUS BERJUANG MEMBERIKAN JIWA DAN RAGA
UNTUK ANAK-ANAKNYA, PERJUANGAN YANG TERPANCAR MELALUI KALIAN ADALAH ALASAN
BAGIKU UNTUK MELAKUKAN YANG TERBAIK.
SETIAP PERISTIWA ADALAH SAKSI YANG TELAH MEMBISIKKAN DAN MEMBUKA HATIKU
AKAN ARTI KETULUSANMU.
KINI………..!!!!!
KARENA KERINGAT DAN AIR MATA YANG
TERCURAH TIDAK AKAN BERLALU BEGITU SAJA. INI ANAKMU.
KEPADA SAHABAT-SAHABATKU MR SATARUDIN A. TUDU, S.Pd.I DAN MR RISKY
PAPUTUNGAN, S.Pd.I. KEPADA KAKAKKU MBAK
SUWARNI RIVAI, DAN MBAK MASNI RIVAI. KALIAN ADALAH SUMBER KEAJAIBAN BAGIKU
Hormat Saya
Jamaludin Rifai.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................
THANKS TO.....................................................................................................................
BUKU PERSEMBAHAN................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
1.
KAMAR NOMOR 10.............................................................................................. 1
2.
PENGHUNI KOS PENINGGALAN BELANDA............................................... 14
3.
PENGHUNI RUMAH YANG BARU................................................................... 28
4.
RUQIYAH................................................................................................................ 60
5.
TERKEJUT.............................................................................................................. 67
6.
JERITAN TENGAH MALAM.............................................................................. 70
7.
INDIGO..................................................................................................................... 73
8.
UJI NYALI............................................................................................................... 88
9.
SEBUAH MIMPI..................................................................................................... 96
10.
KISAH SATPAM PENJAGA KAMPUS............................................................. 104
11.
PAYUNG HITAM................................................................................................... 111
12.
BENDA PUSAKA................................................................................................... 125
13.
DADE........................................................................................................................ 135
14.
BOCAH CILIK YANG BOTAK........................................................................... 145
15.
SAMBARAN PETIR............................................................................................... 154
16.
TERNYATA OH TERNYATA............................................................................. 165
17.
KERIKIL.................................................................................................................. 170
18.
GEMERCIK AIR KAMAR MANDI.................................................................... 175
19.
PULANG KAMPUNG............................................................................................ 179
20.
AJAL BERSAMA.................................................................................................... 195
21.
MASAKAN ENAK.................................................................................................. 202
22.
SEPASANG SEPATU HITAM.............................................................................. 210
23.
PENGARUH ABORSI............................................................................................ 217
24.
LONCATAN YANG BEGITU INDAH................................................................ 225
25.
MAHASISWI ABADI............................................................................................. 233
26.
MAHASISWI TEKNIK.......................................................................................... 242
TENTANG PENULIS...................................................................................................... 252
KAMAR NOMOR 10
Andre
sebenarnya tidak bermaksud menginap di hotel Kerawang itu. Karena hanya akan
menambah pengeluaran saja,
“Tapi
mau bagaimana lagi!” Ucap batin Andre.
Rencananya
yang ia siapkan sebelumnya ternyata berubah haluan, mobil yang di bawa sebagai
alat transportasi mengalami kerusakan dan harus dibawa ke bengkel di kota
Gorontalo. Karena hari sudah sore dan Andre pun kelelahan terpaksa Andre
memutuskan untuk menginap saja barang semalam, pikirannya itu akan lebih baik
mengingat kalau mau memaksakan diri melanjutkan perjalanan dengan kondisi
fisiknya yang terbatas akan resiko nantinya.
Andre
baru sadar kalau hari ini adalah musim libur anak sekolah, pantas saja beberapa
hotel yang dia datangi menyatakan pebuh, tidak ada kamar yang kosong. Setelah
kesana kemari mencari akhirnya Andre dapat kamar di sebuah hotel Kerawang dekat
dengan jalan trans pusat kota Gorontalo. Dulu wilayah itu ada di dekat dengan
rumah makan sehingga banyak hotel yang berdiri di sekitarnya, tapi karena
pemerintah merelokasi rumah makan itu ke tempat lain yang lebih luas dan berada
di pinggiran kota Gorontalo, jadilah hotel-hotel kesulitan untuk bertahan.
Sudah banyak hotel yang berdiri di sepanjang jalan dekat rumah makan itu
berhenti beroperasi. Andre menemukan yang masih buka dari beberapa saja yang
tersisa.
“Ada
kamar kosong Mas?” Tanya Andre pada resepsionis kala itu.
“Ada
Mas, tapi hanya yang di lantai dua. Lantai satu sudah penuh!” Jawab resepsionis
itu dengan sopan.
“Nggak
apa-apa lah!” Jawab Andre singkat.
“Menurut
tidak masalah untuk naik tangga lebih dahulu, yang penting aku dapat kamar dan
bisa untuk istrahat!” Ucap Batin Andre.
“Maaf
Mas sebelumnya, lantai dua baru ada sedikit perbaikan, mungkin membuat Mas
kurang nyaman, tapi hanya siang hari saja kok, kalau malam tidak ada kegiatan
perbaikan” Ucap Resepsionis dengan sopan.
Memang
seharusnya memberi tahu keadaan sebenarnya daripada nanti dikomplain
penyewa.melihat Andre tanda dia tidak keberatan.
“Baru
ada dua kamar yang bisa di tempati yaitu
nomor 10 yang dekat tangga dan yang nomor 12 yang terletak di sebelahnya. Mas
memilih yang mana?” Ucap Resepsionis kepada Andre.
“Nomor
12 saja Mas!” Jawab Adre dengan sopan.
Andre
sebenarnya kurang suka menginap di kamar yang dekat dengan tangga karena
biasanya berisik, maklum untuk lalu lalang orang-orang. Suara-suara sepatu
kadang terdengar dari kamar. Maklum ini bukan hotel besar, hanya masuk kategori
hotel kelas bawah. Setelah menyerahkan kartu pengenal diri dan mengisi daftar
semacam formulir, Andre mendapat kunci kamar.
“Perlu
di bantu membawa barang Mas?” Tanya Resepsionis dengan ramah.
Ketika
melihat Andre menggelengkan kepala, dia tersenyum sambil berucap selamat
beristrahat kepada Andre. Kemudian Andre membawa koper kecil itu. Andre lalu
berjalan perlahan meninggalkan meje resepsionis menuju ke lantai dua, tapi
sebelumnya Andre harus melewati kamar-kamar yang terletak di lantai satu,
memang seluruh kamar terisi. Suara berisik anak-anak terdengar dari luar. Musim
liburan, pastinya banyak orang yang berpergian dengan keluarganya. Andre tidak
tahu kalau hari itu sudah memasuki musim liburan, maklum Andre belum
berkeluarga dan waktunya habis untuk bekerja. Saat ini Andre baru mengambil
cuti dan Andre gunakan untuk pulang mudik untuk mengikuti acara pernikahan adik
perempuannya yang akan dilangsungkan di kampung, sekalian ziarah ke makam
leluhur.
Di
ujung kamar di lantai satu terdapat tangga yang menghubungkan lantai dua. Andre
berjalan menaikinya, sesampai di lantai dua memandang sekeliling, deretan kamar
saling berhadapan dengan nomor ganjil di deretan sebelah kiri dan nomor genap
di sebelah kanan. Karena hari sudah menjelang petang. Tidak terlihat kesibukan
perbaikan kamar-kamar seperti yang resepsionis bilang tadi. Andre melihat nomor
11 dan nomor 12 yang saling berhadapan itu. Lalu segera beranjak kamar 12,
Andre membukakan pintunya lalu kemudian dia tutup kembali.
Setelah
Andre masuk segera dia meletakkan koper kecilnya itu di atas meja, lalu rebahan
di tempat tidur. Andre melihat kondisi kamar itu, dan kamarnya tidak terlalu
bagus. Hanya ada satu tempat tidur ukuran double, lalu sebuah lemari kayu di
sisi kiri kamar dan sebuah meja kursi di sebelahnya. Terus di depan tempat
tidur terdapat sebuah televise kecil yang tertanam di kotak besi yang menempel
tembok, Andre jadi melihat televisi sambil tiduran. Disebelah kiri terdapat
ruang kosong hanya ada sebuah rak besi tempat menaruh handuk yang berhadapan
dengan pintu kamar mandi. Belum selesai Andre memandang sekeliling, suara
ketukan di pintu terdengar. Andre segera bangkit dari tempat tidur dan membuka
pintu, ternyata seorang room boy yang membawakan handuk dan baki berisi gelas
kosong dan satu teko minuman.
“Terima
kasih Mas!” Ucap Andre begitu menerimanya.
“Mas di lantai dua ini apa hanya kamar ini
yang terisi?” Tanya Andre berbasa basi.
“Iya
Mas, hanya dua kamar tapi baru satu yang terisi, ya kamar yang ini, kamar
lainnya masih dalam proses perbaikan ringan!” Jawabnya sambil permisi mau
kembali ke tempat kerjanya.
Room
boy itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan
Andre. Setelah Andre meletakan baki minuman di atas meja dan handuk di rak besi
di depan kamar mandi, dan dia memnuka pintu kamar untuk melihat sekeliling. Suasana
sepi melingkupi lantai dua, maklum hanya satu kamar saja yang terisi yaitu
kamar tempat Andre menginap. Kebetulan begitu pikirnya.
“Aku
bisa membayangkan bila suasana kamar di lantai dua seperti yang ada di lantai
satu, pasti berisik sekali, karena banyak yang menginap dengan keluarga dan
anak-anak kecil!” Ucap Batin Andre.
Andre
kemudian menutup kembali pintunya, setelah itu dia mengunci pintu, Andre ke
kamar mandi untuk menyegarkan diri. Andre berencana meluangkan waktu untuk ke
pusat kota mencari oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kampung. Khusus adiknya
yang mau menikah lebih baik Andre memilih untuk memberikan hadiah uang tunai
saja, lebih bermanfaat dan simpel. Selepas sholat Isya Andre beranjak
meninggalkan kamar itu untuk menuju kota. Kunci kamarnya di titip ke
resepsionis lalu Andre berjalan ke arah mobil yang dia parker di depan hotel.
Dan dinyalakan mesinnya lalu dia kemudian membawanya ke pusat kota.
Sekembali
dari mall di pusat kota, Andre langsung menuju kamar. Setelah memarkir mobil di
depan hotel dan meminta kunci kamar Andre kemudian menuju tangga. Di lantai
satu masih berisik dengan aktivitas para penghuninya. Terutama yang membawa
keluarga. Andre melangkahkan kakinya setingkat demi setingkat di anak tangga,
dan akhirnya sampailah di lantai dua. Suasana hening langsung menyergapnya,
berbeda sekali jika dibandingkan suasana di lantai satu. Kamar-kamar yang
saling berhadapan seakan membisu mengikuti keheningan yang ada. Tidak ada
seorang pun di lantai ini kecuali Andre. Kemudian dia membuka pintu kamar lalu
menguncinya dari dalam kamarnya itu.
Setelah
bergantian pakaian dan membasuh muka serta menggosok gigi, kemudian Andre
merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Remote televisi yang ada di atas meja
di ambilnya, lalu dihidupkan televisi yang ada di atas meja di ambil olehnya,
kemudian televisi di hidupkan dan mencari saluran yang sekitarnya menyajikan
acara yang menarik baginya. Andre mencari saluran yang menayangkan berita atau
olah raga. Saat Andre melihat acara berita di televisi mendadak handphone
berbunyi. Andre segera mengecilkan suara televisi dan meraih handphone, sebuah
nomor yang sudah sangat Andre hapal muncul dilayar.
“Hallo!
Malam!” Ucap Andre sambil membuka percakapan.
“Malam
juga mas Andre!” Suara seseorang diseberang terdengar suka cita.
“Iis
Ya?” Tanya Andre.
Andre
sangat hapal betul dengan suara itu. Itu suara Iis adiknya Andre yang akan
menikah itu.
“Iya
Mas! Dimana nih? Katanya petang tadi sampai rumah?” Tanya Iis penuh harap.
“Oh
maaf Iis, aku lupa memberi tahu, mobilku mengalami kerusakan terpaksa aku
membawanya ke bengkel dan sore tadi barusan selesai! Aku lelah jadi kuputuskan
menginap dulu semalam, besok pagi aku melanjutkan perjalanan, mungkin sore aku
sudah nyampai kok. Nggak apa-apa kan? Belum terlambat kan?” Ucap Andre kepada
adiknya itu.
“Oh
tidak apa-apa Mas, upacara pernikahannya juga masih tiga hari lagi. Nggak
masalah kalau Mas terlambat lah. Aku senang sekali Mas Andre bisa hadir di
pernikahanku! Ya sudah Mas kalau masih capek, istrahat saja dulu jadi besok
pagi bisa langsung jalan!” Seru Iis adiknya tampak gembira.
Pelan
tapi pasti rasa kantuk mulai menyerang Andre, dia kemudian mematikan televisi
dan berusaha untuk tidur, dengan kondisi badan lelah dan keheningan yang ada
cukuplah membuatnya segera tidur. Entah jam berapa Andre kurang begitu tahu
pasti dalam rasa kantuk yang masih bingung dalam mendengar suara rebut yang
berasa dari dari luar kamar.
“Ahk
mungkin ada penghuni di kamar depanku! Begitu pikirku! Bisalah kalau baru masuk
kamar, pasti bikin keributan. Makanya aku acuh saja melanjutkan tidurku” Ucap Batin
Andre.
Tapi
kemudian Andre dikejutkan ada yang mengetuk-ngetuk pintu terlalu keras, dan
akhirnya Andre terbangun dan matanya langsung mengarah ke pintu, dan melihat
gagang pintu yang seperti mau dibuka dari luar. Belum lepas rasa terkejutnya
tiba-tiba suara rebut itu menghilang. Gagang pintu juga kembali semula.
“Apa
mungkin orang itu mengira kamar ini kosong ya dan mau menempati? Tapi kayaknya
tidak mungkin, aku yakin tiap kamar Cuma ada dua kunci, satu kunci para
penghuni dan satunya lagi kunci utamanya di simpan oleh resepsionis!” Ucap
Andre.
Kemudian
suasana kembali hening, Andre pun berusaha melanjutkan tidurnya, pasti tadi
orang yang keliru, tidak melihat nomor tertera, begitu pun dengan Andre, karena
dia masih mengantuk pun dengan cepat kembali tertidur. Tapi belum lama Andre
tertidur dan baru saja memejamkan matanya, kejadian tadi terulang lagi. Andre
kembali mendengar suara rebut dari kamar lain, juga ganggang pintu yang
digerak-gerakkan dari luar bermaksud mau membuka paksa pintu kamarnya.
“Wah
ini tidak bisa dibiarkan!”Ucap Batin Andre.
Lalu
Andre mengambil kunci kamar yang tadi aku letakan di atas meja dan berusaha
membukanya, Andre akan mengatakan pada orang itu bahwa kamar ini sudah ada yang
menempati, dan Andre sangat terganggu dengan kegaduhan yang telah dibuatnya.
Tapi sesaat kemudian dia berpikir tentu tidak pantas baginya untuk menegur
karena mereka juga sama-sama penyewa. Yang lebih berhak untuk mengatakan itu
tentu pengelola hotel ini lewat karyawan yang bekerja.
Keluar
dari kamar Andre bermaksud langsung turun ke bawah menuju bagian resepsionis
untuk melaporkan hal itu, namun Andre terdiam ketika tanpa sengaja matanya
Andre menoleh ke arah kamar depan
samping 11 yaitu kamar yang bernomor 10 itu, kamar itu tampak sedikit terbuka
dan suara gaduh kembali Andre mendengar. Hati yang jengkel karena sejak tadi
diganggu, Andre langsung melangkah ke kamar itu dan membuka pintunya lebih
lebar, Andre akan bilang kalau dia merasa terganggu dengan keributan yang
mereka bikin itu, bila mereka tidak peduli dengan keluhannya ya terpaksa Andre
harus mengadu ke resepsionis.
Tapi
ketika pintu itu terbuka lebar, Andre melihat pemandangan yang sangat
mengagetkan dan sangat mengenaskan. Dihadapannya melihat seorang lelaki yang
menghajar seorang perempuan. Darah bercucuran membasahi tubuh si perempuan itu.
“Hai
Pak! Tolong hentikan!” Hardik Andre dengan keras.
Andre
tak tega melihat perempuan di sakiti itu.
Lelaki
itu menoleh ke arahnya begitu Andre berkata keras tadi, dilihatnya matanya yang
merah laksana api yang menyala karena kemarahan yang meluap-luap, dia tampak
sangat mengerikan. Ternyata dia membawa pisau yang berlumuran darah di tangan
kanannya. Melihat tingkah yang kurang baik, Andre segera mengambil langkah
seribu untuk meminta pertolongan.
Kemudian
Andre menuruni tangga itu dengan tergesa, begitu sampai lantai satu Andre
bergegas berlari ke meja resepsionis untuk melaporkan kejadian barusan.
“Pak!
Pak! Pak tolong! Pak tolong! Tolong” Teriak Andre.
“Ada
apa Mas?” Tanya resepsionis pria yang ada di depan Andre dengan wajah bingung.
“Ada….Ada…
ada penganiyaan… dikamar depan sekitar di sebelahnya..bahkan sampai..sampai
berdarah! Darah! Kita mesti lapor polisi” Seru Andre sambil terbata-bata.
“Maaf
Mas hmhmhm.. mari Mas duduk dulu!” Ucap Pria itu sambil menuntunnya duduk
dikursi, kemudian dia mengambilkan segelas air putih.
“Sebentar
ya Mas!” Katanya seraya menyerahkan gelas itu kepada Andre.
Kemudian
mereka berdua duduk berhadapan langsung.
“Maaf
Mas! Bisa menceritakan lagi kejadiannya seperti apa?” Tanyanya lagi dengan
penasaran dan berdampingan bersama satpam.
“Aku
melihat orang dianiyaya dikamar 10! Seorang perempuan dihajar lelaki!”Ucap
Andre dengan serius.
Kemudian
mereka melongo mendengar penjelasannya Andre, lalu mereka saling menatap penuh
keheranan.
“Maaf
Mas.. dilantai dua Cuma kamarnya Mas yang ada penghuninya, lainnya masih
kosong!” Ucap Resepsionis dengan hati-hati.
“Tapi…Aku
tadi benar-benar melihatnya!” Ucap Andre dengan serius.
Kali
ini Andre melihat mereka seperti ketakutan, makanya Andre melanjutkan bicaranya
lagi.
“Tolong
mari kita keatas segera. Kasihan perempuan itu. Atau kalau perlu aku akan
telepon kantor polisi saja agar…” Pinta Andre dengan serius.
Andre
belum selesai berbicara Pak Satpam pun berkata,
“Iya
Mas! Kita lihat saja langsung! Bila memang ada penganiyaan tentu kita akan
mencoba menghentikannya, kalau perlu kita lapor polisi!” Ucap Pak Satpam.
Kemudian
resepsionis bersama satpam itu mengikuti Andre ke lantai dua. Resepsionis tak
lupa membawa kunci cadangan seperti permintaan si satpam. Sesampai di lantai
dua mereka bertiga mendapatkan kamar 10 tertutup rapat, Andre mencoba
membukanya tampak terkunci. Lalu si satpam meminta kunci yang dibawa oleh
resepsionis dan membukakan pintu itu.
Setelah
terbuka dan lampu dinyalakan Andre melihat situasi dalam kamar yang benar-benar
berbeda. Kamar itu tampak rapi dan bersih, tidak ada bekas-bekas yang telah
terjadi penganiyaan di kamar itu. Andre heran bercampur bingung dengan apa yang
di hadapannya itu.
“Mas
lihat sendiri kan! Tidak ada apa-apa kamar ini” Ucap satpam dengan sopan.
Andre
pun tergagap mendengar ucapannya, kalau Andre benar-benar yakin dengan apa yang
dia lihat sebelumnya karena Andre masih dalam kondisi terjaga dan sadar.
“Aku
melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri!” Ucap Batin Andre dengan
penuh kebingunan dan heran.
“Maaf
tadi..aduh…aku minta maaf!” Ucap Andre dengan bingung dan ragu-ragu dan tak
tahu harus berkata apa-apa lagi.
“Maaf
Mas! Kalau memang tidak ada masalah kami mau kembali ke tempat kerja kami!” Ucap
resepsionis diikuti anggukan kepada si satpam.
“Hmhm
tunggu sebentar! Kita ke bawah sama-sama” Seru Andre dan segera mengambil
dompet.
Kemudian
mereka berjalan bersama menuju lantai satu.
“Mas
mau kemana?” Tanya Satpam heran ketika menyerahkan kunci kepada Resepsionis.
“Ah
Cuma mau cari angin saja dan menjernihkan pikiran. Mungkin tadi aku bermimpi
atau berhalusinasi!” Jawab Andre tidak semangat.
Kemudian
Andre tampak melihat resepsionis agak gugup, Andre menduga ada sesuatu yang dia
sembunyikan tapi Andre tidak terlalu peduli. Hanya ingin keluar dan menenangkan
pikiran dan menunggu pagi datang. Keluar dari hotel Andre berjalan menuju
warung makan dipinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari hotel. Andre pun
mendapat ada dua pria lainnya yang juga sedang jajan disitu. Mereka tampak
asyik menikmati nasi yang dibungkus kecil-kecil itu.
“Jahe
hangat satu Pak!” Pesan Andre memesan jenis minuman hangat itu.
Si
penjual melayaninya dengan cekatan. Andre meneguk minuman itu pelan-pelan
sambil membayangkan kejadian yang semalam di alaminya itu. Agaknya si penjual
tahu kalau lagi galau.
“Tinggal
dimana Mas? Kok tidak pernah kelihatan!” Tanya penjual kepada Andre dengan
penasaran.
“Oh
aku tinggal di hotel itu Pak!” Jawab Andre dengan sopan sambil menunjuk arah
hotel itu.
“Oh
hotel yang direnovasi itu ya? Hati-hati Mas, di situ ada hantunya!” Ucap
Penjual itu.
Andre
pun kaget mendengar ucapannya penjual itu.
“Masak
sih! Kayaknya tenang-tenang saja tuh” Ucap Andre dengan kurang percaya.
“Beneran
Mas! Beberapa bulan yang lalu ada pembunuhan di kamar atas hotel itu, kabarnya
ada pembunuhan di kamar atas di hotel itu, kabarnya seorang perempuan dihabisi
oleh pria yang jadi pacarnya. Katanya sih cemburu! Lalu pria itu juga ikutan
mati bunuh diri!” Ucap penjual dengan serius.
“Gila
cinta sampai segitunya!” Seru salah pembeli sambil geleng-gelang kepala.
“Bukan
cinta tapi cemburunya itu yang masalah!” Sambung teman di sebelahnya.
“Makanya
roh mereka tidak tenang, Jadi hantu hiiiii!” Tambah si penjual.
“Mendengarkan
perkataan mereka itu, memang benar yang dikatakan oleh penjual itu, mungkinkah
aku lihat kedua hantu yang mati mengenaskan karena belum waktunya” Ucap Batin
Andre.
Tak
terasa bulir-bulir keringat dingin mengucur membasahi wajahnya, tubuhnya pun
menggigil karena ngeri.
“Aku
akan menunggu sampai pagi deh! Dan aku akan langsung check out segera nanti
sudah pagi!” Ucap Batin Andre.
PENGHUNI KOS PENINGGALAN
BELANDA
Ini
malam pertama Anita menempati kamar kosnya yang hanya berukuran 4 x 5 M. Rumah
kos itu termasuk dalam kategori rumah lama. Terlihat dari bentuk bangunan dan
gerbang yang digunakan. Sepertinya rumah ini adalah bangunan asrama jaman
Belanda. Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal. Jumlah kamar yang
disewakan kurang lebih 100 ruangan. Di setiap kamar para penyewa diberi
fasilitas tempat tidur besi yang dialasi dengan kasur kapuk, lemari kayu
berukuran sedang, dan sebuah meja rias kayu jati dengan ukiran daun di seluruh
sisinya. Jendela kamar Anita menghadap kearah belakang rumah. Beberapa pohon
besar terlihat jelas jika jendela tersebut dibuka.
Anita
sempat mendengar bahwa bangunan ini angker. Namun Anita tidak peduli karena
sejak kecil Anita sudah menyukai segala sesuatu yang berbau horror, baik itu
buku, film, atau kisah – kisah nyata yang merujuk pada dunia gaib. Walaupun
hingga detik ini Anita tak pernah melihat makhluk astral yang seringkali
digambarkan berwajah menakutkan namun ia percaya mereka memang ada.
Malam
pertama dilaluinya dengan lancar, bahkan ia tak sempat bermimpi, mungkin karena
ia terlalu lelah membereskan kamar maka ia pun tidur dengan lelapnya.
Pagi
– pagi sekali Anita berangkat ke kampus. Di gerbang luar ia berpapasan dengan
Ibu Alda pemilik bangunan tua itu.
“Selamat
pagi Ibu Alda?” Sapa Anita.
“Hai
Anita, selamat pagi. Bagaimana semalam? Apa kamu tidur dengan nyenyak?” Tanya
Ibu Alda.
“Iya
Ibu Alda, sangat nyenyak, gangguan nyamuk pun tak berhasil membangunkan saya.
Saya berangkat kuliah dulu, ada ujian hari ini. Permisi Ibu Alda.” Ucap Anita
Ibu
Anita mengangguk sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Wanita itu nampak
aneh. Ia menggunakan baju panjang warna hitam dan berkerudung, hampir seluruh
tubuhnya terselimuti pakaian. Hanya wajahnya saja yang tidak. Namun ia selalu
menunduk Anita melangkah cepat. Jarak antara kampus dan kos tak terlalu jauh.
Cukup naik angkutan umum 5 menit saja maka ia sudah sampai di kampusnya.
Suasana
kampus sudah cukup ramai. Beberapa rekan sekelasnya nampak sibuk dengan buku
catatan di tangan mereka, dengan bibir komat kamit seakan menghapalkan bahan
ujian. Anita duduk di baris paling belakang. Tubuhnya masih lelah karena hari
kemarin.
“Hei
Nit, ngapain disana? Sini deket aku!” Pinta Rani yang duduk dua baris di depan
Anita.
“Disini
aja Ran, takut ketahuan kalau aku ngantuk nanti!” Jawab Anita sambil
mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya.
Rani
mengalah, justru ia yang pindah posisi mendekati Anita.
“Maaf
ya Nit, kemarin aku nggak bisa bantu kamu. Mama masih sakit.” Ucap Rani.
“It’s
okay my friend. Aku bisa selesaikan sendiri. Sudah biasa aku pindah-pindah kos
sendirian” Ucap Anita
“Bagaimana
suasananya? Pemilik kos? Teman-teman kos?” Tanya Rani.
“Pemilik
kos itu namanya Ibu Alda. Teman-teman kos? Hemmm aku belum berkenalan. Waktu
aku berangkat tadi pagi suasana kos sangat sepi. Entah mereka semua masih tidur
atau aku yang lebih lambat bangun dari mereka” Ucap Anita.
“Selamat
pagi anak-anak! Apakah kalian sudah siap
dengan ujian hari ini?” Tanya Pak Guru.
Sebuah
suara agak serak milik Pak Ronal mengejutkan seisi kelas. Termasuk Anita dan Rani.
“Nanti
disambung lagi ceritanya, si monster sudah datang!” Ucap Rani.
Anita
hanya tersenyum simpul. Ia paham betapa Rani begitu membenci Pak Ronal hingga
akhirnya Pak Ronal mendapat anugerah sebagai The Monster. Pukul enam sore Anita
dalam perjalanan pulang ke kos. Ia ingin segera sampai di kamarnya, melanjutkan
tidurnya yang ia rasa masih jauh dari kata cukup. Sampai di depan gerbang kos -
Anita tak langsung masuk, ia memandangi arsitektur bangunan rumah itu dengan
lebih seksama. Memang terkesan angker jika diperhatikan dari luar. Ditambah
lagi suasana juga amat sepi.
“Ah
mungkin penghuni lain belum pulang!” Batin Anita.
Anita
membuka gerbang perlahan. Walau cat-nya sudah mengelupas namun gerbang ini
terlihat masih sangat kokoh. Anita berjalan melewati taman depan kos. Disana
terdapat sebuah ayunan yang nampaknya sudah berkarat. Dua buah lampu taman
terlihat sangat berdebu belum dinyalakan, karena ini masih sore. Anita berjalan
namun pandangannya tak bisa lepas dari taman itu.
”Brakk!”
Suara tabrakan.
“Duh!
Maaf Bu Alda!” Pinta Anita.
“Tak
apa Anita!” Ucap Ibu Alda
Anita
menabrak Ibu Alda tepat di depan tangga menuju kamarnya. Beberapa detik
memandang wajah Ibu Alda. Kemudian Anita menunduk dan melanjutkan langkahnya
menuju kamar. Sampai di kamar, jantung Anita berdegup sangat kencang. Ia sempat
melihat wajah Nyonya Ram Ibu Alda sesaat insiden tadi. Wajah itu begitu dingin
walaupun Ibu Alda menunduk. Anita membaringkan tubuhnya di kasur kapuk itu.
Tanpa sadar ia tertidur. Beberapa jam kemudian …
“Anita..!
Anita!” Sebuah suara yang begitu halus membangunkan Anita dalam tidurnya.
Anita
membuka matanya. Seorang gadis cantik dengan rambut ikal berwarna keemasan
dengan gaun khas noni Belanda sudah ada di depannya. Sepertinya mereka
seumuran. Anita terdiam. Ia yakin bahwa gadis ini bukan manusia.
“Tak
usah takut, aku penghuni kamar sebelah. Kau anak baru kan? Tadi kau lupa
menutup pintu kamarmu. Maaf jika aku lancang masuk tanpa izin. Aku hanya ingin
berkenalan dengan kamu!” Pinta gadis cantik itu.
Anita
memandangi gadis itu dengan sangat teliti. Kakinya menempel di lantai, kulitnya
putih bersih bukan putih pucat.
“Sepertinya
memang dia manusia!” Ucap Batin Anita.
“Hai,
iya tak apa. Siapa namamu?” Tanya Anita dengan nada hambar karena ia masih
terkejut.
“Aku
Sania!” Jawabnya singkat.
Setelah
kejadian itu keduanya nampak terlihat sangat akrab. Setiap Anita pulang dari
kampus, Sania selalu menemani Anita dalam kamarnya. Mereka berbincang-bincang.
Sania sangat memahami sejarah. Terutama saat Indonesia ada di jaman Belanda.
Hingga tahunnya pun Sania hapal diluar kepala. Wajar saja, Sania keturunan
Belanda. Ayahnya adalah seorang Belanda yang bekerja di Indonesia, ibunya suku
pribumi. Wajahnya bisa dibilang sempurna. Cantik luar dan dalam.
Beberapa
minggu berlalu, Anita mulai merasakan ada yang aneh di rumah kos ini. ia merasa
seakan-akan hanya dirinya, Ibu Alda, dan Sania yang tinggal disana. Karena ia
selalu menemukan kos dalam keadaan sepi. Tak ada suara riuh khas kos perempuan.
Sampai pada suatu malam saat ia dan Sania tengah asik menikmati green tea di
kamar Anita.
“San!
Apa kamu kenal dengan penghuni yang lain?” Tanya Anita.
“Hah?
Oh kenal tapi aku jarang berinteraksi dengan mereka. Kenapa Nita?” Tanya Sania
dengan penasaran.
“Tidak
apa, hanya heran aja, sejak awal datang aku hanya melihatmu dan Ibu Alda!”
Jawab Anita.
“Kamu
harus terbiasa dengan kondisi sepi. Seperti aku!” Seru Sania.
Anita
diam, ia masih penasaran mengapa kos ini nampaknya amat sangat hening. Ia
berniat besok saat libur kuliah ia akan menyambangi kamar penghuni lainnya
untuk berkenalan. Hari yang ditunggu tiba, Anita mengetuk setiap pintu. Namun
baru saja ia sampai di pintu ketiga, Ibu Alda mendekatinya tiba-tiba.
“Sedang
apa Anita?” Tanya Ibu Alda.
“Emmh,,ini,,,anu
eh saya ingin berkenalan dengan mereka Ibu Alda!” Jawab Anita terbata.
“Mereka
semua sedang dalam masa liburan. Beberapa ada yang pulang kerumah, sebagian
lagi ada yang pergi menginap diluar kota!” Ucap Ibu Alda.
“Oh
begitu, sudah berapa lama Ibu Alda?” Tanya Anita dengan penasaran.
“Sudah
dua bulan. Apa kau merasa kesepian?” Jawab Ibu Alda.
“Tidak
juga, hanya saja saya merasa asing dengan lingkungan yang sepi!” Ucap Anita
dengan serius.
“Hanya
belum terbiasa. Lama-lama kamu juga akan menikmati betapa indahnya kesunyian!”
Ucap Ibu Alda.
Anita
pun mengangguk. Ia berjalan kembali ke dalam kamar. Wajah Ibu Alda jauh dari
kata bersahabat. Begitu kaku. Di dalam kamar Anita mulai membuka beberapa buku
koleksinya yang rata-rata berbasis horor. Sampai akhirnya ada sebuah buku yang
sama sekali tak ia kenali. Ia merasa sangat asing dengan covernya. Sebuah
tangan besar mencengkram tubuh manusia berukuran kecil.
“Buku
siapa ini? rasanya aku tak pernah membeli ini!” Ucap Batin Anita.
Anita
mulai membuka halaman demi halaman. Anita menikmati tiap kalimatnya. Ia terus
membaca, sampai di halaman tengah ada sebuah mantra. Mantra tersebut menuliskan
bagaimana agar kita bisa merasakan bagaimana menikmati hidup dalam kegelapan
seperti hantu-hantu yang bergentayangan. Intinya mantra itu bisa membuat kita
merasakan bagaimana menjadi makhluk Ghaib. Di situ dituliskan bahwa si pembaca
mantra harus ikhlas. Tak boleh menyimpan dendam dan penyesalan.
Anita
mulai tertarik dengan mantra tersebut, dan ia ingin mencobanya. Anita duduk
bermeditasi. Ia sedang mengosongkan hati dan pikirannya. Kemudian Anita mulai
membaca mantra tersebut.
“Lepas
aku dari bumi, biar aku melayang dengan jasad hilang
Ruang-ruang
sunyi jadi tempatku antara gelap dan angin jahat
Tak
biarkan mata awam menangkap bayanganku
Hanya
Yang sama yang mampu menjadi kawanku
Hilang
aku bersama aromaku tanpa jejak tanpa salam
Kembali
aku bukan padaNya tapi pada mereka yang memintaku
Aku
lepas napas dan napsuku
untuk
pergumulan dalam kegelapan” Anita membaca mantra itu sambil komat kamit.
Perlahan
dengan hitungan yang pasti ia membaca dengan hati-hati. Sampai dikalimat
terakhir. Anita mulai merasakan kepalanya berat. Pandangannya mulai kabur.
Sampai kemudian, “jlebb” ia pun tertidur.
Anita
terkejut, ia sudah berbaring diatas ranjang. Ia ingat betul bahwa tadi ia
sedang duduk dilantai dengan sebuah buku asing berisikan mantra. Anita turun
dari pembaringannya. Ia mencoba mencari-cari keberadaan buku tersebut. Namun
tak jua ditemukannya benda itu.
Anita
beranjak keluar dari kamar. Mencoba mencari Sania. Otaknya langsung mengarah
pada gadis itu karena selama ini yang bisa keluar dan masuk kamarnya hanyalah
Sania. Namun baru saja tangan mungilnya ingin membuka pintu ia menghentikan
langkahnya. Anita baru ingat bahwa selama ini Sania tak pernah memberitahukan
dimana kamarnya. Apa mungkin ia harus mengetuk ke-49 kamar yang ada?
Gagang
pintu ditarik, beberapa langkah keluar dari kamar ia begitu terkejut. Bangunan
ini tak lagi sepi. Banyak gadis-gadis berpakaian mirip Sania nampak asik
berbincang bincang di depan kamar, ada pula yang asik membaca buku. Mereka
semua berwajah Indo. Anita melongok ke lantai bawah. Di taman ia bisa melihat
beberapa gadis asik bermain ayunan, walaupun hari sudah gelap namun wajah
mereka masih terlihat jelas lewat bantuan lampu taman yang sudah dinyalakan.
“Mungkin
mereka sudah kembali dari liburannya. Aku tanyakan saja pada mereka dimana
kamar Sania!” Ucap batin Anita.
Anita
mulai menyapa salah seorang gadis, ia nampak lebih cantik dari Sania. Bulu
matanya lentik, warna matanya hijau, kulitnya sedikit berbintik, bibirnya merah
merona, rambutnya yang keriting dibiarkan terurai, tersemat jepitan bunga kecil
di kepala bagian kanan atas.
“Hai,
aku Anita. Boleh berkenalan?” Ucap Anita sambil memperkenalkan dirinya.
“Hai,
Amanda namaku. Kamu nampak kebingungan?” Sapa Amanda.
“Ah,,iya
aku mencari seseorang!” Ucap Anita lagi.
“Siapa?
Bolehkah aku tahu?” Tanya Amanda
“Sania!”
Jawab Anita.
“Sania
? Sania Van Wirgh ? Dia ada di kamar 45!” Ucap Amanda.
Setelah
mengucapkan terima kasih, Anita langsung pergi meninggalkan Amanda dan beberapa
temannya. Ia berusaha mencari kamar yang dimaksud. Sesampainya disana Anita
melihat sebuah pintu kayu bernomor 45.
“Ini
dia!” Ucap Anita.
Anita
mengetuknya. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali diketuk masih juga tak
ada jawaban. Anita pun memberanikan diri membuka pintu kamar itu sendiri lalu
menutupnya kembali, sangat hati-hati hingga tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Lampu kamar ini sangat redup. Dan ada yang berbeda dari ruangan ini, Tempat
tidurnya dibatasi sebuah sekat, dan itu tak dimiliki Anita dikamarnya. Jadi
saat masuk ke kamar, orang akan melihat meja kecil dan dua kursi kayu terlebih
dahulu.
Sebuah
meja kecil berbentuk persegi nampak penuh dengan foto-foto Sania. Semua fotonya
berwarna hitam putih. Sania berpose macam-macam. Ada yang sendiri, ada pula
yang bersama kedua orang tuanya. Sebuah lemari besi berkarat mirip yang ada dikamarnya
nampak terbuka. Kaki Anita berjalan mendekati lemari. Matanya ingin sekali
melihat isi di dalamnya.
Ia
melihat sejumlah baju ala noni Belanda tergantung disana. Namun warnanya sangat
lusuh, bahkan kecoklatan. Anita mencoba menyentuhnya. Ia terkejut, ini seperti
baju-baju puluhan tahun lalu yang sudah tak layak pakai. Begitu rapuh. Di
beberapa bagian sudah bolong, mungkin dimakan tikus. Di bagian bawah lemari
sudah banyak rayap.
“Mana
mungkin Sania membiarkan lemarinya seperti ini?” Pikir Anita.
Jantung
Anita berdegub kencang namun kakinya terus ingin berjalan mengarah ke ranjang
di balik sekat. Ia yakin Sania tengah tertidur disana. Anita berjalan perlahan.
“Sa..Sania??”
Ucap Batin Anita.
Anita
hampir pingsan. Ia melihat sebuah tubuh seperti nenek renta terbaring dengan
sebuah kalung salib di lehernya. Rambutnya yang berwarna keemasan memutih.
Awalnya Anita tak yakin bahwa itu Sania, namun ketika ia melihat sebuah tanda
lahir di punggung tangan orang dalam pembaringan itu ia yakin bahwa itu adalah
Sania. Ditambah lagi wajah cantik Sania benar- benar terbias di wajah itu.
“Apa
ini mamanya? Atau neneknya? Oh Tuhan ada apa ini?” Tanya Anita.
Anita
berharap ini semua hanya mimpi. Namun ia tak ingin mengakhiri ini, ia masih
menikmati permainan jantungnya. Perasaan ini yang tak pernah ia temukan saat ia
membaca buku-buku horor yang sama sekali tak memacu adrenalin. Anita mengelus
tangan orang yang terbaring itu. ia merasakan tubuh itu begitu dingin. Ia
mengelus kedua pipi yang hanya terbalut kulit keriput itu. Tanpa disangka kedua
mata perempuan itu terbuka. Anita tak mampu berkata-kata. Mulutnya bungkam.
Wanita itu bangun dari tidurnya. Suara sendi seperti orang sedang meregangkan
otot terdengar jelas. Perempuan itu membuka mulutnya. Jelas terlihat bibir
keriputnya sudah mengelupas. Jejeran giginya menghitam. Namun ia masih terlihat
cantik.
“Anita?”
Sapa wanita tua itu.
“Sa..Sania?
Apa kamu Sania?” Tanya Anita dengan penasaran.
“Siapa
yang membawamu kesini?” Tanya Wanita tua itu.
“Seseorang
mengatakan padaku bahwa ini kamarmu!” Jawab Anita.
“Siapa?
Apakah Ibu Alda?” Tanya Wanita tua itu.
“Bukan!
Bukan dia. Tapi seorang gadis. Kalau tidak salah ingat namanya Amanda!” Jawab
Anita agak gugup.
Sania
menunduk. Ia seperti ingin menangis. Anita kasihan melihatnya.
“Anita,
maafkan aku. Harusnya kamu tak sampai disini. Kamu pasti sudah melihat mereka
bukan?” Tanya Wanita tua itu..
“Mereka?
Mereka siapa?” Tanya Anita balik.
“Gadis-gadis
yang ada di bangunan ini!” Jawab wanita tua itu.
“Iya,
tapi tunggu! Kamu harus menjawab dulu pertanyaanku. Apakah kamu Sania? Mengapa
kamu amat berbeda dari kamu yang kemarin?” Tanya Anita lagi dengan penasaran.
“Aku
menemuimu dengan penampilanku ratusan tahun lalu. Saat aku masih cantik. Saat
aku belum mengetahui bahwa bangunan ini akan membelengguku!” Jawab Wanita tua
itu.
“Apa
maksudmu?” Tanya Anita dengan penasaran.
“Puluhan tahun lalu aku dan beberapa rekanku
yang notabene keturunan Belanda secara serempak dimasukkan ke dalam asrama ini.
Pemilik asrama ini adalah Pak Randi. Ia terkenal memiliki ilmu hitam. Ia
memiliki sebuah mantra dimana mantra tersebut bisa membuat orang mati tanpa
merasakan sakit dan membiarkan arwah orang tersebut bergentayangan tanpa ada
batasan waktu. Awalnya semua nampak normal saja. Namun setelah satu tahun
berlalu, satu per satu para gadis menghilang. Sampai yang terakhir sahabatku
Lusiana. Sebelum menghilang, ia sempat menuliskan surat padaku. Ia menceritakan
tentang siapa Pak Randi dan Ibu Alda yang sebenarnya. Lalu ia memberikan padaku
kalung salib ini. Ternyata Pak Randi mengetahui surat yang diberikan Lusiana
kepadaku. Maka dengan ilmu hitamnya, ia mengurungku disini. Sampai akhirnya ”
Ucap Sania dengan sedih dengan ceritanya yang pilu.
Sania
menggantungkan kalimatnya. Ada bulir airmata yang keluar dari pelupuk matanya.
“San,
lanjutkan ceritamu. Mungkin aku bisa menolong!” Pinta Anita dengan serius.
“Aku
tak bertahan lama dalam ruangan ini. mereka sama sekali tak memberiku makan.
Aku pun mengidap asma. Hingga di bulan ke 6 aku menghembuskan napas terakhirku!”
Seru Wanita tua itu.
Anita
menjauhkan posisi duduknya dari Sania. Ia tak menyangka kini ia benar-benar
bertemu hantu. Ada sedikit ketakutan membanjiri dirinya. Ia setengah bergidik.
Ia takut tiba-tiba Sania mencekiknya hingga mati.
“Kamu
tak perlu takut Nita, kita sama. Hanya saja aku mati dengan jasad sementara kau
tidak!” Ucap Wanita tua itu.
“Apa
maksudmu?”Tanya Anita penasaran.
“Tak
ada satupun yang manusia bisa melihat banyak orang disini, kecuali mereka sudah
sama-sama mati dengan membaca mantra itu. Jika kamu sudah bertemu Amanda, itu
sama halnya kamu sudah seperti dia dan lainnya. Aku dan Ibu Alda mati karena
takdir Tuhan namun tetap kami belum bisa tenang karena jasad kami tak pernah
ditemukan” Jawab Wanita tua itu.
Anita
gemetar. Tubuhnya dibanjiri keringat. Ia tak percaya bahwa dirinya sudah mati.
“Pembohong!
Kamu ingin membohongiku San. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat, namun kamu
tega membohongiku!!” Ucap Anita.
“Cobalah
kamu keluar kamar. Ini pukul delapan pagi. Silahkan kamu nikmati mataharimu!”
Pinta Wanita tua itu.
Anita
berlari keluar kamar. Meninggalkan Sania di dalam kamarnya.
“Arrghhh!!
Sakitt!!” Teriak Anita.
Anita
berteriak, ia kesakitan, tubuhnya seperti terbakar. Ia kembali masuk ke dalam
kamar Sania.
“Sudah
percaya? Kamu takkan lagi bisa menikmati pagi, siang dan soremu. Kamu hanya
bisa menikmati malammu. Apakah kamu tak menyadari bahwa aku selalu menemanimu
dimalam hari? Apakah kamu tak menyadari Ibu Alda selalu mengenakan pakaian yang
menutupi tubuhnya? Ini takdir kita!” Ucap Wanita tua itu
Anita
menangis sesenggukan. ia menyesal membaca mantra itu. ia merasa bodoh. Ia tak
menyangka bahwa kini ia adalah hantu.
“Apakah
ada cara lain Sania?” Tanya Anita.
“Tak
ada, takkan pernah ada. Kamu, aku, juga mereka akan jadi penghuni asrama tua ini
selamanya. Selamat datang Anita. Selamat datang di asrama kita!” Jawab Wanita
tua itu.
TENTANG
PENULIS
Penulis
bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis
adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis
mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah
satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada
tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi
Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan
pendidikannya S1.
Meski
masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel
horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis
bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: MEREKA ADA DI
SEKITAR KITA, Penulis dapat di hubungi melalui
email : jamaludinrifai442@gmail.com
No
HP: 085340008577
0 komentar:
Posting Komentar