WHAT'S NEW?
Loading...
JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA

KISAH-KISAH INSPIRASI PELANCAR REZEKI, KESEHATAN, KEKAYAAN, KECERDASAN DAN KEBERKAHAN


Demi Allah, Sungguh Aku Memohon Ampun Kepada Allah Dan Bertaubat Kepada-Nya Dalam Sehari Lebih Dari Tujuh Puluh Kali.” (HR. Bukhari)


KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Shalawat dan salam semoga terlimpah ke haribaan junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang setia.
Banyak kisah-kisah inpiratif tentang keberkahan Shalawat, Tahajud, Dhuha, dan Puasa yang tersulubung di sekitar kita, hanya saja kita tidak mengetahui akan hal tersebut. Karena itulah, penulis mencoba mengemas buku Dahsyatnya Mukjizat Pengamal Tahajud, Dhuha, dan Puasa, yang Insya Allah akan menggugah dan memberikan ispirasi bagi pembaca.
Banyak kemudahan yang dirasakan bagi pelaku Tahajud, Dhuha, dan Puasa yang tak terduka datangnya, baik dalam masalah kesehatan, finasial, maupun kecerdasan, ketiga ibadah ini mengambil andil bisa terjadi karena dia terus melakukan ibadah tersebut. Inilah anugerah yang diberikan-Nya kepada mereka yang menyukai apa yang Dia sukai. Allah menyukai orang-orang yang Bertahajud, Dhuha, dan Berpuasa di samping ibadah-ibadah sunah lainnya.
Jika kita bisa meresapi, dan pastilah kita akan menyadari betapa ibadah tersebut banyak memberi keberkahan. Setelah salat Tahajud, Dhuha, dan Berpuasa memang tidak serta merta kita menjadi kaya ataupun langsung sembuh dari penyakit. Tetapi spirit yang ditimbulkannya membuat kita semakin kuat menjalani hidup. Dengan berdoa setelah Tahajud akan membuat kita tenang dan mulai bersemangat lagi melakukan sesuatu yang dirasa sulit dilakukan. Begitupun halnya dengan salat Dhuha, orang yang menginap suatu penyakit, dia terus berdoa sehabis salatnya akan melahirkan kekuatan tersendiri baginya untuk menjalani hidup. Allah tidak akan lengah! Dia akan memberi pertolongan dan kelapangan bagi hamba-Nya yang benar-benar meminta pertolongan.
Sungguhpun demikian, diperlukan niat dan sikap yang sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kita Bertahajud dengan niat ingin kaya, misalnya, tetapi tidak bekerja keras dan hanya berdiam diri di rumah, tentu saja ini akan sia-sia. Begitu pula jika kita salat Dhuha dengan tujuan agar bisa menyerap pelajaran, akan tetapi kita sendiri tidak mau belajar sungguh-sungguh, Dhuha juga tidak akan berfungsi. Allah akan melihat sejauh mana kesungguhan hamba-Nya dalam meraih suatu hal, sehingga, meskipun kita telah beribadah dan berdoa dengan sungguh-sungguh, kita juga harus berusaha keras dengan spirit tinggi agar keinginan kita terwujud.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA, ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA, ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.
Petiklah hikmah dan inpirasi dari kisah-kisah dalam buku ini. Dengan begitu kita akan lebih giat lagi untuk Tahajud, Dhuha, dan Berpuasa. Tidak mustahil suatu saat kitalah yang merasakan sendiri mukjizatnya. Semoga buku ini bisa bermanfaat bagi pembaca, dan terlebih bagi diri saya sendiri.

Penulis

Jamaludin Rifai, S.Pd.I






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAGIAN 1. KISAH SUKSES PENGAMAL SHALAWAT........................... 1
DIBALIK SUKSESNYA FADEL MUHAMMAD.......................................... 1
AA’ GYM, SELALU BASAH DENGAN SHALAWAT................................. 4

BAGIAN 2. PARA PENGAMAL TAHAJUD................................................. 8
AGUSTINI : TAHAJUD ATASI DEPRESI..................................................... 8
IDAN HERMANTO, SUKSES DALAM KARIER......................................... 10
ABDULRRAHMAN, SUKSES BERBISNIS................................................... 13
SUMANTRI, PEDAGANG KAKI LIMA SUKSES....................................... 16
WIJAYA: SEHARI DAPAT UANG RP 20 JUTA.......................................... 18
KISAH PROF. DR. MOH. SHOLEH................................................................. 21
TAHAJUDNYA PARA SAHABAT NABI  DAN PARA
PENGIKUTNYA................................................................................................. 26
PENYESALAN FULAN..................................................................................... 29
PERUBAHAN SIFAT FULAN.......................................................................... 33
SAID AL-HARITS DAN AL-KHALIDAH...................................................... 36
MENENANGKAN HATI DAN  MENJERNIHKAN PIKIRAN.................. 41
TAHAJUD MEMUDAHKAN REZEKI........................................................... 42
KISAH PEDANG MALAM AL-FATIH (SANG PEMBUKA)...................... 44
ABU YAZID AL-BUSTAMI BERTAHAJUD................................................. 48
BELI TIKET PESAWAT DENGAN SHALAT TAHAJUD.......................... 51
KEAJAIBAN TAHAJUD BAGI MUHAMMAD AKROM........................... 56
KISAH AJAIB BENI, SI PENGAMEN JALANAN....................................... 59
TAHAJUD MENDATANGKAN REZEKI  SECARA TIBA-TIBA............. 62
ARJUNA: LAKI-LAKI CACAT BERISTRI SALEHAH.............................. 65
BU MARTI: PENGUSAHA SUKSES  YANG RAJIN BERTAHAJUD...... 69

BAGIAN 3. PARA PELAKU SHALAT DHUHA........................................... 72
SECERCAH CAHAYA DI BALIK DHUHA................................................... 72
BURUH PABRIK SABUN MENJADI PENGUSAHA KONVEKSI............ 78
BERLIMPAHNYA HARTA ABDURRAHMAN BIN AUF.......................... 80
JUMLAH KEKAYAAN HARTA UMAN BIN KHATHAB.......................... 83
JUMLAH KEKAYAAN UTSMAN BIN AFFAN........................................... 85
DHUHA MENGANTARKAN REZEKI........................................................... 86
ALLAH MENGGANTI DENGAN YANG LEBIH BESAR.......................... 90
MUHAMMAD IHSAN: MERAIH BANYAK BEASISWA........................... 92
KISAH SEORANG TUKANG PIPA AIR........................................................ 96
PAK MONO: MEWAJIBKAN PEGAWAINYA SHALAT DHUHA........... 98
KISAH PILU SEORANG PEMULUNG.......................................................... 100
TRIANI OKTAVIANI PEROLEH UN-TERTINGGI.................................... 104
PAK MUSLIM: SI TUKANG BECAK YANG NAIK HAJI......................... 106

BAGIAN 4. PARA PELAKU PUASA.............................................................. 112
DRS. RULLY SETIAWAN; SUKSES MENJADI
PENGUSAHA KAYA RAYA............................................................................ 112
DEBBY HENDRIANSYAH; PEBISNIS KALIGRAFI KUNINGAN
KELAS EKSPOR................................................................................................ 115
MILFINA DEVI AGUSTINA, MENJADI BUPATI
PEREMPUAN PERTAMA DI KOTA KELAHIRANNYA.......................... 119
KISAH PENJUAL ULEKAN BATU................................................................ 123
KISAH PEDAGANG KOPRA........................................................................... 127
KISAH PENGEPUL RONGSOK...................................................................... 130
KISAH PENJUAL SURABI............................................................................... 133
KISAH PENGUSAHA MEUBEL...................................................................... 136
KISAH PENGEDAR MINYAK WANGI......................................................... 138
SEMANGAT BELAJAR TUMBUH KARENA RAJIN BERPUASA......... 142
PUASA DAUD MENGHILANGKAN DEPRESI........................................... 146
JONI ARIADINATA: SASTRAWAN YANG GEMAR BERPUASA......... 149
TIADA RASA SAKIT SEJAK PUASA SUNAH............................................. 151
IMAM MAWARDI: MENJADI PEGAWAI NEGERI
DENGAN BERPUASA....................................................................................... 156
KEAJAIBAN PUASA DAUD BAGI EMA...................................................... 160
KISAH SUKSES MUHAMMAD FUDHALI................................................... 161
KISAH HARU SUTRISNO, PENDERITA TUMOR...................................... 166
ABDULLAH BIN GHALIB: AROMA HARUM DARI KUBURANNYA.. 169
KEISTIMEWAAN YANG DIMILIKI USTAZ MUHYIDIN........................ 171
KISAH MENAKJUBKAN DARI SEORANG REKTOR.............................. 173
ABDULLAH BIN AMR BIN ASH: PENULIS YANG WARAK.................. 177
KISAH ACHAMAD: MENDAPAT BANYAK KEMUDAHAN................... 179
KEBERHASILAN SEORANG ANAK NAKAL............................................. 184
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 187
TENTANG PENULIS......................................................................................... 192

KISAH MENAKJUBKAN DARI SEORANG REKTOR
Untuk menjadi apa yang dicita-citakan, tidak mesti kaya. Untuk menjadi orang besar juga tidak begitu memihak kepada kekayaan. Akan tetapi, seberapa usaha dan perjuangan kita dalam menghadapinya. Inilah yang dialami seorang Rektor, Suprapto Adi Kusumo. Dulunya dia bukanlah orang kaya. Dia lahir dari keluarga tukang becak. Ibunya hanya bekerja sebagai penjual kembang di pasar, sementara ayahnya menarik becak yang selalu mengakal di sebuah pasar di kampungnya yang tentu hasil pekerjaan itu tidak akan menentu dan tidak cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, apalagi untuk bersekolah sampai ke tingkat tinggi. Akan tetapi, dengan perjuangan dan usaha seperti bekerja keras dan berpuasa, akhirnya buah manis itu mereka dapatkan juga.
Suparto menempuh pendidikan mulai dari sekolah menengah pertama hingga masuk Perguruan Tinggi dibiayai oleh orang yang simpati kepadanya. Tentu saja untuk mendapatkan simpati dan biaya dari orang bukanlah hal yang mudah, membutuhkan usaha keras dan perjuangan yang tak mengenal lelah. Rupakmo, bapaknya Suprapto adalah laki-laki yang suka membantu orang lain. Ia juga sangat gampang apabila orang lain meminta pertolongan padanya. Sikapnya yang ramah dan baik seperti itu membuat orang lain menyukainya.
Pada mulanya, ia selalu dimintai tolong seorang guru di kampungnya untuk melakukan beberapa hal berkaitan dengan pekerjaan rumah, mulai dari menyabit rumput hingga menyapu rumah. Pada akhirnya, terjadi keakraban di antara keduanya. Setiap akan pulang, ia diberi upah sepantasnya oleh guru tersebut. Suatu hari, guru itu berkata kepada Rupakmo, “bercita-citalah untuk menyekolahkan Suprapto.” Namun, ia hanya mengangguk meski tidak yakin bisa menyekolahkan anaknya, mengingat pekerjaannya yang hanya seperti itu. Di lain sisi, kata-kata itu benar-benar merasup ke dalam benaknya. Dia sangat menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, tapi apa mau dikata, uang yang dia dapatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, itu pun sudah kekurangan dan benar-benar berhemat.
Dengan berat, Ia melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah guru tersebut. Ia hanya berpikir bahwa apa bila Allah berkehendak kepada Hamba-Nya, tak ada yang sulit dan tak ada yang tidak mungkin. Tiba-tiba, muncul keinginan untuk kembali ke rumah sang guru. Melihat ia kembali ke rumahnya, guru itu kaget dan bertanya-tanya dalam hati. Guru itu melihat roman keseriusan di wajah laki-laki itu. Kemudian, dia menyuruh Rupakmo duduk di kursi, dan menanyakan perihal yang sedang melanda pikirannya.
“Saya memang ingin menyekolahkan anak saya. Tetapi, bagaimana mungkin, sedang pekerjaan saya begini,” tegas Rupakmo.
“Serahkan semua urusanmu kepada Allah. Allah tidak sulit mengubah hidup seseorang untuk menjadi lebih baik,” mata Rupakmo menjadi berkaca-kaca mendengar nasihat guru.
“Berilah saya solusi, Pak! Saya sangat bingung jika mengingat Suprapto. Apa yang bisa saya lakukan agar anak saya bisa menempuh pendidikan?”
“Begini Mo! Coba kamu dan istrimu berusaha sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya adalah kamu bangun tengah malam dan lakukan puasa Senin Kamis, Insya Allah akan ada jalan keluar berkaitan dengan sekolah anakmu.”
Rupakmo hanya mengangguk-nganggukkan kepala. Ia meresa telah mendapatkan jalan keluar dari guru kampung tersebut, dan ia berupaya untuk melakukan apa yang telah dinasihatkannya kepadanya. Setelah itu, ia mohon pamit kepada guru tersebut. Dengan penuh semangat, Rupakmo pulang ke rumahnya dan langsung menemui istrinya. Tidak lupa ia juga memanggil anak laki-lakinya. Ia memberitahukan nasihat yang baru saja di dengarnya. Kemudian, mereka bersepakat untuk melakukan puasa Senin Kamis dan bangun di tengah malam untuk memohon petunjuk dan pertolongan Allah. Suprapto memang tergolong anak yang cerdas. Di sekolahnya ia sering mendapatkan bintang pelajar. Ia anak yang rajin belajar. Semangatnya selalu terpacu oleh keinginan untuk mengubah nasib keluarganya.
“Jika ayah saya tukang becak, saya tidak boleh menjadi tukang becak. Jika ibu saya seorang pedagang bunga, saya tidak boleh menjadi pedagang bunga. Saya akan mengubah hidup saya dan keluarga saya.” Prinsip tersebut tertanam kuat di dalam jiwanya sejak bangku SMP. Banyak guru-guru di sekolah yang kagum kepadanya. Karena bagaimanapun, jarang sekali anak dari keluarga pas-pasan memiliki semangat dan kecerdasan seperti yang dimiliki Suprapto.
Bagi Suprapto, kondisi perekonomian keluarga tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan menjadi orang yang sukses. Ia rajin datang ke perpustakaan untuk membaca buku, membaca surat kabar, dan hal lain yang bisa meningkatkan pengetahuannya. Dengan cara demikian berbagai informasi diserapnya semenjak dirinya duduk di sekolah menengah pertama. Ia sangat yakin bahwa suatu hari nanti kesuksesan akan datang kepadanya. Ia sangat percaya pada peribahasa, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian.” Karena sering mendapatkan bintang pelajar, kepala sekolah kemudian mengajukan beasiswa terhadap anak didiknya tersebut dengan tujuan agar bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni SMA.
Atas perjuangan kepala sekolah itulah, Suprapto pun mendapatkan beasiswa dari Departemen Pendidikan Nasional hingga ia selesai menempuh pendidikan di sebuah sekolah negeri. Karena tinggal di kota, ia memanfaatkan untuk banyak berkunjung kepada orang yang banyak memiliki buku. Semua buku dari semua bidang ia lahap, dan itu sangatlah bermanfaat untuk menambah wawasannya. Suprapto mulai menuliskan gagasannya di majalah dinding sekolah. Kebetulan ada seorang guru yang membacanya. Guru tersebut merasa terharu karena ada di antara muridnya yang memiliki kemampuan menulis dengan bagus.
Kepala SMA itu kemudian memanggilnya, menanyakan tentang sumber tulisan tersebut, tulisan sendiri atau plagiasi. Suprapto dengan tegas mengatakan tulisan itu adalah karyanya sendiri. Ia kemudian mengungkapkannya kembali secara lisan isi dari tulisannya itu, sehingga sang guru dan kepala sekolah mengangguk-angguk tersenyum melihat muridnya itu sangat lancar bicara. Sejak itu, kepala sekolah itu selalu memfasilitasi buku bacaan dan menyarankan agar Suprapto mengirimkan tulisannya ke media massa, Suprapto pun mengikuti saran kepala sekolahnya. Tulisan-tulisan yang dikirimkan ke surat kabar banyak yang dimuat dan mengundang perhatian semua orang. Setelah mengetahui bahwa yang menulis karya-karya tersebut adalah seorang SMA, banyak orang yang tertarik untuk memberikan beasiswa kepadanya, baik untuk dalam negeri maupun luar negeri.
Namun, Suprapto tidak terlena dengan semua tawaran tersebut. Ia terus menulis dan tetap menjadi orang yang sederhana. Ketika masuk dunia Perguruan Tinggi, ia selalu mendapatkan beasiswa. Praktis ia tidak banyak mengeluarkan uang untuk membiayai studinya, bahkan, ia masuh bisa menabung dari uang beasisea dan honor dari karya tulis yang dikirimkannya ke surat kabar. Meskipun demikian, Suprapto tetap menjalankan ritual rutinitasnya berpuasa pada setiap hari Senin Kamis. Singkat cerita, setelah ia lulus dari Perguruan Tinggi, ia kemudian mendapat kepercayaan untuk menjadi dosen di kampus tempat ia menempuh pendidikan. Karena kinerjanya bagus dan memiliki potensi kepemimpinana yang luar biasa, oleh teman-teman sesama dosen, ia didaulat untuk menjadi Rektor perguruan tinggi di sana. Ia pun tidak bisa menolaknya dan menjalani hari-hari sebagai Rektor dengan sangat sederhana.
Menjadi Rektor tidak kemudian membuatnya berhenti dari rutinitas puasa Senin Kamis. Bahkan, ia bertambah semangat karena yakin bahwa ia menjadi orang sukses karena mendapat pertolongan Allah melalui puasa Senin Kamis. Orangtunya di kampung sangat senang karena punya anak yang sukses. Sebagai rasa terima kasih atas doa yang di panjatkannya kepada Allah. Suprapto membangun sebuah rumah untuk kedua orangtuanya. Ia tetap meminta didoakan kepada ayah dan ibunya. Baginya, kesuksesan seorang anak dalam menempuh kehidupan ini tidak lepas dari usaha dan doa dari kedua orangtuanya, tanpa doa mereka, tidak mungkin seorang anak menjadi berhasil, karena orangtualah yang menjadi sumber segalanya.
Kalau aku ikut ujian
Lalu di tanya tentang pahlawan
Namamu ibu, yang akan aku sebut paling dahulu
Lantaran aku tahu, Engkau ibu dan akau anakmu
Potongan larik puisi D. Zawami Imron tersebut menjadi suatu motivasi baginya untuk selalu mengingat ibunya dan mengirimkan uang kepada orangtuanya. Ia tahu bahwa sejak ia masih duduk dibangku SMP hingga saat ini, kedua orangtuanya masuh melakukan puasa Senin Kamis, tak lain dan tak bukan karena keduanya ingin agar anaknya menjadi orang yang saleh, sukses dan nasibnya lebih baik dari mereka (Ustaz Amrin Rauf. Hidup Yang Serba Dahsyat Dengan Puasa Senin Kamis).

ABDULLAH BIN AMR BIN ASH:
PENULIS YANG WARAK
Abdullah Bin Amr diberi panggilan kehormatan dengan nama Abu Muhammad, ada yang mengatakan Abdurrahman, ada yang mengatakan Abu Nushar Al-Quraisy As-Sahmi. Ibunya bernama Raithah binti Munabbah bin Al-Hajaj bin Amr bin Hudzaifah bin Sa’d bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’b bin Luay. Abdullah bin Amr adalah sosok pemuda mujahid yang gagah, tinggi, gemuk, dan berwajah kemerah-kemarahan. Dia adalah Al-Imam Al-Hibru yaitu imam yang alim, saleh lagi kuat dan semangat dalam beribadah. Beliau juga salah seorang shahabat Rasulullah Saw, lebih dahulu masuk Islam daripada bapaknya dan rajin membaca Al-Qur’an. Tiada punya rasa bosan. Beliau merasa gembira, jika kebetulan ayat-ayat yang dibaca itu menceritakan kesenangan. Sebaliknya, beliau menangis mencucurkan air mata jika membangkitkan hal-hal yang menakutkan.
Demikianlah, Allah menakdirkan Abdullah menjadi seorang yang rajin beribadah, baik salat, puasa, membaca Al-Qur’an maupun shalat malam hingga beliau berlebih-lebihan dalam mengerjakannya. Dan Rasulullaah Saw pun telah mengetahui rahasia jalan dan corak kehidupan Abdullah bin Amr. Hanya satu dan tidak berubah. Jika tidak pergi berjuang, maka hari-harinya itu dari mulai fajar sampai fajar berikutnya terpusat pada ibadah yang sambung menyambung, berupa puasa, shalat, dan membaca Al-Qur’an.
Maka dipanggilnyalah Abdullah dan diperintahkan agar tidak keterlaluan dalam beribadah. Rasulullah Saw. Bertanya,
“Kabarnya kamu selalu puasa di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat malam di malam hari tak pernah tidur? Sesungguhnya, cukuplah bagimu puasa tiga hari dalam setiap bulan!”
“Aku sanggup lebih daripada itu.” Ujar Abdullah.
“Kalau begitu dua hari dalam sepekan!” Sabda Rasulullah Saw. Jawab Abdullah, “Aku sanggup lebih banyak lagi.”
Rasulullah Saw. Bersabda, “Jika demikian, kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari!” Setelah itu, ditanyakan pula oleh Rasulullah Saw. “Aku tahu bahwa kamu membaca Al-Qur’an sampai tamat dalam satu malam! Aku khawatir kalau-kalau usiamu lanjut dan jadi bosan membacanya! Bacalah setiap bulan sekali khatam! Atau kalau tidak, sekali dalam sepuluh hari, atau sekali dalam tiga hari. Lalu sabdanya pula,
Aku puasa dan berbuka, bangun shalat malam dan tidur, juga kawin dengan perempuan, maka siapa yang tidak suka akan sunahku, tidaklah termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)
Ternyata benar bahwa kalau kita hidup hanya untuk beribadah tanpa memikirkan keduniaan itu tidaklah baik. Rasulullah sendiri juga memiliki istri, berdagang, dan juga beraktivitas. Beliau tidak hanya terpaku pada urusan akhirat. Allah sendiri juga mengajurkan manusia untuk beraktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhannya, seperti bekerja dan lain sebagainya. Sehingga kita lebih ditutut untuk menyeimbangkan antara urusan dunia dan juga urusan akhirat. Kita tidak bisa hanya terfokus pada dunia semata, tapi di lain sisi juga tidak baik jika kita hanya terfokus pada urusan akhirat tanpa memikirkan dunia sedikit pun.

KISAH ACHAMAD:
                               MENDAPAT BANYAK KEMUDAHAN       
Percaya tidak atau tidak, ini adalah sebuah tanda kebesaran ilahi. Dengan banyak menjalankan shalat malam, Achamd (Nama samaran) menjadi kuat dalam segala cobaan. Anehnya lagi, meski sering bangun dan mandi malam justru menyembuhkan migrain dan flu yang dirasakan bertahun-tahun. Untuk lebih jelasnya. Penulis akan memaparkan bagaimana kisahnya. Dalam cerita, dia sengaja menyamarkan nama dan juga tokoh-tokoh pendukung dengan alasan agar tidak terkesan riya. Dia terlahir dari keluarga yang taat beragama. Ibunya Aminah masih keturunan sorang kiayi terkenal di daerah asalnya yakni Tanara, Serang, Banten.
Meski kedua orangtuanya fanatik dan Islami, tapi mereka tidak mengajarkan ibadah secara keras kepada kelima anaknya termasuk pada Achamad sendiri. Mereka mengajarkan ilmu keagamaan secara wajar dan tidak berlebihan. Tidak membuat anaknya melakukan ibadah dengan terpaksa pula. Saat dia kecil, adakalanya dia juga lalai terhadap shalat lima waktu, juga dalam menjalankan puasa. Akan tetapi, ia baru berhasil berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan di saat dia menduduki bangku kelas 5 SD.
Hari demi hari, minggu, bulan, dan tahun pun berganti tahun membawanya tumbuh dewasa. Saat itulah dia mulai menyadari betapa pentingnya beribadah. Dia bersama empat saudaranya yang lain mulai taat menjalankan kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya. Tentu saja, ini semua dilakukannya dengan beroreintasi kepada ayah dan ibu yang sudah nyata memiliki ilmu keagamaan yang dalam, serta pendidikan agama di luar sekolah. Dengan tekad yang kuat untuk menjadi hamba-Nya yang baik seperti itu, akhirnya dia tumbuh menjadi anak yang shaleh dan penurut kepada orangtua.
Sejak SMA (SMAN 10 Mangga Besar Jakarta), dia mulai rajin menjalankan shalat Tahajud dan juga berpuasa Senin dan Kamis. Inilah atas saran neneknya yang mengatakan bahwa bila kita rajin melaksanakan puasa hari itu, Insya Allah, akan diberi banyak kemudahan oleh-Nya. Sehingga sejak saat itulah, dia mulai mencoba membiasakan diri untuk berpuasa. Mungkin awalnya sedikit canggung, akan tetapi jika dilakukan secara terus menerus dan rutin, maka itu terasa menyenangkan dan membawa kenikmatan tersendiri.
“Kita akan merasa selalu dekat dengan Sang Pencipta dan banyak hal lain yang akan dirasakan.”
Ternyata, nasihat neneknya itu benar adanya. Begitu dia mulai merutinkan puasa Senin Kamisnya, sangat banyak kemudahan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Salah satu cerita yang dia ingat adalah saat dia lulus dari SMA dengan nilai yang baik, terlebih lagi nilai Bahasa Inggris dan keterampilan elektronikanya mendapat nilai yang memuaskan. Tetapi, selain karena berkah puasa dan ibadah lainnya, tentu saja dibarengi dengan belajar yang sungguh-sungguh pula.
Yang paling jelas lagi, ketika memasuki pendidikan pelayaran pada tahun 1978, untuk memasuki sekolah tinggi ini, tidaklah semudah yan dipikirkan. Dia harus mengikuti ujian tes yang sangat sulit. Terutama tes Bahasa Inggris dan elektronik. Beruntung dia menyukai mata pelajaran ini sehingga dia bisa lolos dari ujian yang menurut teman-temannya cukup sulit itu. Sehingga dengan begitu dia resmi menjadi salah satu mahasiswa di kampus tersebut. Setelah menjalani proses pelajaran di sana, dia mulai merasa ada yang berbeda. Ternyata, mata pelajaran yang disodorkan di sekolah tinggi ini terasa rumit dan pelit terhadap nilai yang diberikan kepada mahasiswa.
Itu semua mungkin dilakukan untuk meningkatkan prestasi mahasiswanya. Dengan begitu, maka dia dan mahasiswa yang lain berusaha keras untuk belajar agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Di sini dia kembali mendapatkan kemudahan dari Allah. Dia mendapatkan nilai yang bagus dan memuaskan sehingga dia mampu menyelesaikan sekolah tinggi tersebut dalam jangka dua tahun.
Dia merasa sangat beruntung bisa lulus pada usia 20 tahun, dan ujung-ujungnya dia pun mulai bekerja di sebuah perusahaan pelayaran dengan mudah. Inilah yang dicita-citakan dari dulu. Dia begitu menyukai bekerja di pelayaran. Ini dikarenakan pengaruh tempat tinggalnya yang hanya berlokasi 3 km dari pantai. Selain itu, gaji sebagai pelayar tentu cukup menggiurkan, terlebih lagi keliling dunia yang menjadi kesenangannya. Hal itulah yang cukup memotivasinya untuk mengambil profesi sebagai pelayar.
Setelah mendapatkan pekerjaan, dia pun bisa berbagi rezeki kepada orangtua dan adik-adiknya. Sebagai anak sulung, tentu dia merasa bahagia bisa berbagi dengan orang-orang yang dia sayangi. Kebahagiaannya yang lain, bisa bekerja sebagai perwira elektronik sambil pesiar ke berbagai belahan dunia. Dengan begitu dia bisa menikmati keindahan alam dari kota-kota terkenal di seluruh dunia. Yang paling lama dan berkesan olehnya adalah Jepang, Italia, dan Venesia.
Banyak hal menarik yang ditemuinya ketika berkunjung dari negara satu ke nagara lain yang membuatnya semakin bersyukur atas segala apa yang diraihnya. Dengan tidak lalai, dia terus menunaikan puasa Senin Kamis, dan dia merasa begitu janggal jika tidak menjalankan puasa lagi. Kebanyakan orang ada yang berpandangan negatif terhadap pelayar. Mereka dianggap senang main perempuan, foya-foya, judi, meminum-minuman keras, diskotik, serta pandangan negatif lainnya. Padahal tidak semua begitu. Dengan ibadah yang taat, dia dan beberapa temannya mampu menepis semua godaan yang menyesatkan itu. Semua itu, karena niatnya yang sungguh-sungguh untuk bekerja.
Pada tahun 1988, Allah Swt, memberinya jodoh dengan seorang gadis bernama Mia. Dan menikah pada usianya yang sudah mencapai 30 tahun. Dia dikarunia dua orang putri yang cantik, sebut saja Nia dan Ria. Sekarang mereka telah duduk di bangku kuliah dan SLTA. Sayangnya, rumah tangganya tidak berjalan mulus, karena ada ketidakcocokan antara mereka berdua yang menyebabkan mereka memutuskan untuk bercerai pada tahun 2001. Ini bukanlah suatu yang menyenangkan baginya, tapi terasa sangat pahit dan memilukan, akan tetapi dia berserah diri dan menyadari bahwa mungkin ini adalah rencana dari Allah.
Sebelum perceraian itu terjadi, pada tahun 1994, terinspirasi dengan adiknya yang mendalami sebuah ilmu kebatinan dengan menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Juga menjalankan puasa Senin Kamis, shalat malam, dan yang lainnya. Awalnya, adiknya itu nakal sehingga dipanggil preman. Namun, hidayah diperoleh lewat bapak angkatnya hingga menjadi anak saleh dan taat beragama.
Sejak itulah, dia pun ikut memperdalam agama Islamnya. Bukan ilmu kebatinan yang ingin diperolehnya, seperti diberikan kekebalan dan lain sebagainya, akan tetapi mencari cara bagaimana dekat dengan Sang Pencipta. Setiap malam dia mulai menjalankan shalat Tahajud serta witir. Dia terus memperdalam lagi lewat sumber-sumber lain, seperti buku, pengajian, dan brosur. Shalat malam dilakoni, mulai jam 2 malam hingga shalat shubuh tiba. Paginya, setelah sarapan, dia melaksanakan shalat sunnah Dhuha. Setelah itu, barulah dia mulai melaksanakan aktivitas lainnya.
Pada awalnya, dia mengalami kemalasan dan kekhawatiran. Berat rasanya bangun tidur di malam hari. Belum lagi mandi dengan air dingin sebelum shalat malam. Awalnya, dia mengalami masuk angin serta keluhan lain. Bertahun-tahun dia jalankan, seperti sudah terbiasa, malah fisiknya berangsur kuat. Keluhan yang sering dirasakannya adalah sakit kepala sejenis migrain berkepanjangan, pilek menahun yang sulit sembuh, asam urat yang menjadikannya harus pantang jenis makanan tertentu. Obat-obatan warung sudah merupakan kewajibannya untuk dibawa kemana pun guna mengatasi sakit yang kerap datang.
Tapi, dia tidak mengeluh dan menyesalkan hal ini, dia yakin akan semakin menderita karena terlalu sering mengeluh. Selain itu, dengan mengeluh berarti kita tidak ikhlas dengan apa yang diujikan kepada kita. Baginya, dia harus menikmati apapun yang diberikan Allah, meski itu berupa penyakit. Yang perlu dilakukannya adalah berobat dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuknya. Namun, belakangan ini semua keluhan ini hilang dengan sendirinya. Dia yakin, Allah telah memberinya pertolongan berkat shalat malam, Dhuha, dan puasa yang terus dilakukannya.
Pada Tahun 1996, dia kembali menerima ujian. Ini bermula ketika dia berhenti berlayar karena tergoda proyek Mechanical Electronic (ME), yaitu sebuah perusahaan konsultan pengadaan, pemasangan termasuk maintenance. Di perusahaan ini, dia berkedudukan sebagai penyuntik dana. Perusahaan yang dimotori adik kandungnya bermitra dengan beberapa BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sebagai sub-kontraktor. Tahun 1997, usaha itu terlena imbas krisis ekonomi. Proyeknya mulai sepi dan tidak sedahsyat pada awalnya, bahkan yang lebih parahnya lagi, dia menerima kenyataan bahwa bisnisnya tersebut hancur.
Tapi menarik sekali, meski bisnisnya hancur, dia sama sekali tidak merasa hancur, karena dia tahu bahwa ini semua hanya cobaan ilahi yang dilimpahkan kepadanya. Harta, Jabatan, adalah ujian yang harus dimanfaatkannya dengan benar. Jika Allah menitipkan hal tersebut kepadanya, tentu saja dia harus mampu mengemban amanah itu dengan baik. Memanfaatkan dengan cara yang baik. Tetapi jika suatu saat Allah mengambilnya lagi, tentu saja dia juga harus mengikhlaskan hal tersebut. Dia tidak ingin harta membuatnya menjauh dari-Nya. Meski begitu, karena kesabarannya, Allah Swt, masih memberinya kesempatan untuk berbisnis. Di tengah ketidakstabilan ekonominya itu, dia mendapatkan sesuatu yang menghilangkan kesedihannya, dia mendapatkan seorang canda cantik dengan seorang putri, dan mereka pun menikah pada Juli 2006.
Ternyata, pertolongan Allah tidak pernah berhenti kepadanya, meski ia pernah mendapatkan ujian, tapi dia melalui ujian itu dengan sabar dan penuh keyakinan bahwa ujian itu hanya menguji sejauh mana keimanannya, jika dia mampu melaluinya, Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Dengan berpuasa dan shalat malam membuat mentalnya semakin kukuh menghadapi cobaan sedahsyat apapun.

KEBERHASILAN SEORANG ANAK NAKAL
“Karunia yang diberikan Allah kepada saya itu begitu besar.” Kata Wirid, salah seorang santri yang saat itu diangkat sebagai dewan ustaz dan sekaligus kepala tata usaha di salah satu pondok pesantren besar di Madura. Wirid yang berpenampilan sederhana, dengan postur tubuh yang kurus kering, sebelumnya tidak pernah menyangka bakal mendapat kepercayaan seperti itu. Kepercayaan untuk ikut mengajar kitab-kitab agama kepada sekitar seribu orang santri yang mondok disana.
“Pertama kali saya di sini, jangankan baca kitab yang tidak ada harakatnya itu. Membaca Al-Qur’an dan huruf latin saja susahnya minta ampun. Ayah mengirim saya ke sini untuk mondok, karena di rumah saya dikenal sebagai anak yang nakal. Setiap hari, saya jarang berada di rumah. Saya biasanya bermain dengan beberapa teman dari kampung sebelah, dan biasanya kalau sudah begitu, saya lupa untuk pulang. Makan pun saya ikut makan di rumah teman. Kalau sudah tidak pulang seperti itu, ayah pasti marah-marah sambil mencari saya. Dulu, saya senang berburu. Itu sebabnya, saya sering keluar masuk bukit dan hutan-hutan yang ada di kampung saya. Kalau sudah berburu, saya bisa lupa sekolah dan lupa makan. Karena terlalu sering tidak masuk sekolah, saya pun tidak naik kelas. Itu sebabnya saya tidak bisa membaca sampai usia hampir 10 tahun.
Saya masih ingat, waktu itu ayah sering meledek saya karena kalah pandai dengan adik saya dalam membaca. Tetapi, itu tidak berpengaruh pada saya karena saya lebih suka berburu dan bermain daripada sekolah. Saat berusia sepuluh tahun, ayah menyuruh saya untuk ikut mengaji di musalah. Namun, waktu itu saya kembali membuat ulah. Say asering berbuat usil pada teman-teman pada saat mereka hendak pulang ngaji sehabis shalat Isya’. Di tengah jalan mereka saya takut-takuti dengan menyamar sebagai hantu. Pernah saya dipukul pakai sapu lidi oleh guru ngaji di sana karena ulah saya itu.
Mungkin tak tahan dengan ulah saya, akhirnya ayah mengirim saya ke pesantren. Saat itu, ayah juga mengancam saya kalau saya berbuat macam-macam lagi dan tidak rajin belajar, saya tidak akan dikirimi bekal. Saat di pesantren inilah dunia saya menjadi terbatasi. Saya tidak bisa leluasa lagi bermain seperti sebelumnya. Mau keluar pesantren harus pamit dengan alasan yang jelas dan waktu yang jelas. Tidak hanya itu, saya juga harus mengikuti jadwal-jadwal yang sudah ditentukan oleh pengurus. Pertama kali, capek rasanya dan tidak kerasan tinggal di pesantren. Tetapi, untuk berbuat yang macam-macam saya tidak berani lagi. Takut ayah saya benar-benar melaksanakan ancamannya. Berhari-hari sejak saya sampai di pondok, saya lebih suka berdiam diri di kamar atau kalau tidak di masjid sambil ngobrol dengan beberapa teman baru.
Saat berada di pondok, satu hal yang membuat saya terpacu untuk rajin belajar adalah ketika saya disuruh ngaji Al-Qur’an oleh salah seorang pengurus dan saya tidak bisa sama sekali mengaji waktu itu. Saya benar-benar malu karena santri-santri yang lain seusia saya sudah pandai. Sejak saat itulah, saya terus belajar. Untunglah saya punya teman sekamar yang telaten mengajari saya membaca Al-Qur’an.
Kepada teman ini saya menawarkan kalau saya bersedia membayarnya asal dia mengajari saya ngaji sampai benar-benar mahir. Sayangnya dia tidak mau. Melihat ketulusan dan kesungguhan sahabat saya itu, saya pun bersemangat untuk belajar. Bahkan bisa dikatakan kalau saya berhenti belajar kalau sudah makan, tidur, shalat dan mandi. Selain itu, semua kesempatan saya gunakan untuk belajar.
Namun, belajar membaca kitab ternyata tidak semudah belajar membaca Al-Qur’an. Untuk bisa membaca kitab dengan baik, ternyata saya harus mengusai beberapa ilmu alat yang juga terdiri dari kitab-kitab kuning. Hampir putus asa waktu itu mengingat sulitnya belajar membaca kitab. Tetapi, salah seorang pengurus mengajari saya cara mempelajari kitab dengan mudah, yaitu dengan berpuasa Daud. Awalnya, saya agak ragu, tapi karena pengurus itu menunjukkan beberapa contoh, saya akhirnya tertarik. Sejak saat itu, saya pun ikut berpuasa Daud. Satu tahun saya berpuasa, saya belum bisa membaca kitab dengan baik dan lancar. Setelah dua tahun kemudian, Allah Swt, benar-benar membukakan pintu hidayah bagi saya.
Saya sendiri tidak tahu yang saya rasakan waktu itu, saya hanya ingin mengaji kitab di depan kiayi pengasuh. Karena begitu kuat keinginan saya, akhirnya saya pergi juga menemui pengasuh dan menyampaikan tujuan saya, kalau saya ingin mengecek apakah bacaan saya sudah baik atau tidak. Tanpa merasa ragu sedikit pun, saya buka kitab itu dan saya membaca. Saya sendiri merasa heran karena saya membaca kitab itu layaknya membaca Al-Qur’an dan tulisan biasa lainnya.

Setelah selesai, bapak kiayi menanyakan apa yang saya lakukan selama belajar di pondok. Saya pun mengatakan kalau saya puasa Daud. Kiayi hanya mengangguk dan menyuruh saya kembali ke pondok. Besoknya saya kaget karena dipanggil oleh Kiayi dan disana saya secara langsung diangkat sebagai dewan pengajar di pondok. Sejak saat itu, saya merasa yakin bahwa puasa Daud benar-benar puasa yang disenangi Allah, dan itu sebabnya mengandung banyak keajaiban.” Ujar Wirid.

TENTANG PENULIS
Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikanya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA.
Penulis dapat di hubungi melalui emailnya: jamaludinrifai442@gmail.com atau menghubungi kontak : 0853-4000-8577

0 komentar:

Posting Komentar