WHAT'S NEW?
Loading...
JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

RAHASIA DAHSYAT DI BALIK KEAJAIBAN SURAT
AL-FAATIHAH
(SEBAGAI PENAWAR OBAT PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT LAHIR / MEDIS & MENTAL / NON MEDIS.)

KISAH-KISAH INSPIRATIF
KEBERKAHAN AL-QUR’AN PENUH HIKMAH PELIPUR LARA)



“Hanya Kepada-Mulah, Kami Menyembah Dan Hanya Kepada-Mulah Kami Meminta Pertolongan.” (Qs. Al-Faatihah, 1: 5)



KATA PENGANTAR
Segala puji hanyalah milik Allah Ta’ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah saw, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau.
Dalam kehidupan sehari-hari rutinitas Muslimin minimal membaca Al-Faatihah sebanyak tujuh belas kali, yakni ketika melaksanakan shalat Fardhu. Al-Faatihah juga dibaca dalam berbagai acara lainnya, seperti selamatan, tahlilan, usai berdoa, bahkan ada yang menjadikannya sebagai dzikir. Tahukah Anda mengapa Al-Faatihah menjadi bacaan wajib dalam shalat, usai berdoa, dan acara-acara lainnya? Hal itu tak lepas dari keistimewaan dan rahasia yang terkandung di dalamnya.
Adapun dari segi praktis, akan diulas mengenai keistimewaan surat Al-Faatihah dalam mengobati berbagai penyakit badaniah. Inilah rahasia terdasyat surat Al-Faatihah. Adapun berbagai penyakit yang dapat disembuhkan dengan amalan Al-Faatihahyang akan disajikan dalam buku ini, membersihkan hati dan pikiran kotor yang menjadi sumber segala penyakit, mengobati penyakit mata, mengobati penyakit lupa, mengobati penyakit perut, mengobati penyakit gigi, menghilangkan racun atau bisa, mengobati mata rabun, mengobati penyakit mandul, mengobati penyakit kronis, menyembuhkan sakit telinga, mengobati penyakit kanker, mengobati penyakit stroke, menyadarkan orang yang koma, pengobatan sihir penyakit lumpuh/stroke, mengobati penyakit kulit, penghilang lapar dan dahaga.
Itulah sebagian penyakit yang dapat disembuhkan dengan Al-Faatihah. Dikatakan sebagian, karena faktanya masih banyak penyakit-penyakit lain yang tidak tercover dalam pembahasan buku ini yang dapat disembuhkan dengan surat Al-Faatihah. Selain mengobati berbagai penyakit badaniah tersebut, ternyata khasiat dahsyat lain dari surat Al-Faatihah dapat membuat orang yang mengamalkannya menjadi kaya.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar DAHSYATNYA KEAJAIBAN AL-FAATIHAH, ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan DAHSYATNYA KEAJAIBAN AL-FAATIHAH, ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.

Penulis

Jamaludin Rifai, S.Pd.I













DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAGIAN I.
MENGENAL SURAT AL-FAATIHAH BESERTA RAHASIANYA.... 1
A.    Rahasia Al-Faatihah Menjadi Surat Pertama........................................ 2
B.     Nama-Nama Surat Al-Faatihah.............................................................. 7
C.    Beberapa Keistimewaan Surat Al-Faatihah........................................... 9
D.    Rahasia Di Balik Kandungan Makna Surat Al-Faatihah..................... 13
E.     Rahasia Ucapan “Alhamdulillah” Dalam Al-Faatihah......................... 17
F.     Al-Faatihah Untuk Penyakit Mata.......................................................... 18
G.    Mengobati Penyakit Lupa........................................................................ 19

BAGIAN II
TEKNIK AMALAN AL-FAATIHAH
UNTUK PENYAKIT BADANIAH............................................................. 21
A.    Membersihkan Hati Dan Pikiran Kotor.................................................. 21
B.     Mengobati Penyakit Mata......................................................................... 25
C.    Mengobati Penyakit Lupa......................................................................... 27
D.    Surat Al-Faatihah Untuk Penyakit Lupa................................................ 30   
E.     Mengobati Penyakit Perut......................................................................... 30
F.     Mengobati Penyakit Gigi........................................................................... 33
G.    Menghilangkan Racun Atau Bisa............................................................. 34
H.    Mengobati Mata Rabun............................................................................. 35
I.       Mengobati Penyakit Mandul..................................................................... 37
J.      Mengobati Penyakit Kronis....................................................................... 39
K.    Mengobati Sakit Telinga............................................................................ 43
L.     Mengobati Penyakit Kanker..................................................................... 43
M.   Mengobati Penyakit Stroke....................................................................... 49
N.    Menyadarkan Orang Koma...................................................................... 52
O.    Mengobati Sihir Penyakit Lumpuh/ Stroke............................................. 54
P.     Mengobati Penyakit Kulit.......................................................................... 57
Q.    Penghilang Lapar dan Dahaga................................................................. 57

BAGIAN 3.
KISAH-KISAH INSPIRATIF KEBERKAHAN
AL-QUR’AN PENUH HIKMAH PELIPUR LARA................................... 58
BUNGA LESTARI TERTIMPA PENYAKIT UNIK................................ 58
ALFATH, PENGHAFAL AL-QUR’AN YANG
DIVONIS IDIOT OLEH DOKTER.............................................................. 63
BARAA’AH: KETEGARAN GADIS CILIK PENGHAFAL
AL-QUR’AN KARENA KANKER.............................................................. 65
SEORANG IBU YANG BERHASIL
MENCETAK KELUARGA QUR’ANY...................................................... 67
AKHIR HAYAT PENGHAFAL
AL-QUR’AN DAN PENYANYI.................................................................... 70
SILMI MENGHAFAL AL-QUR’AN
HANYA DALAM TIGA PEKAN................................................................. 76
AHMAD YASIN HAFAL AL-QUR’AN
 DI USIA 9 TAHUN......................................................................................... 78
MUHAMMAD HUSEIN:
BOCAH YANG HAFAL DAN PAHAM AL-QUR’AN.............................. 80
KISAH PENJAHIT PENGHAFAL AL-QUR’AN...................................... 82
KISAH PENGGEMBALA YANG HAFAL AL-QUR’AN........................ 84
TUMOR OTAK SEMBUH BERKAT MENGHAFAL AL-QUR’AN...... 91
SYEKH RASYID, BOCAH PENGHAFAL
AL-QUR’AN YANG BERSUARA MERDU............................................... 95
PENGHAFAL AL-QUR’AN YANG DIPAKSA JADI BUDAK.............. 99
SUAMI I’TIKAF, ISTRI HAFAL AL-QUR’AN
DALAM WAKTU 15 HARI........................................................................... 104
SUBIAH, HAFIDZAH ROHINGYA YANG
TERDAMPAR DI ACEH............................................................................... 112
FAJAR, BOCAH DENGAN CELEBRAL
 PALSY YANG HAFAL AL-QUR’AN........................................................ 115
MUALLIM, ABG PENGHAFAL AL-QUR’AN
DARI PALEMBANG..................................................................................... 117
RAHMAT ISKANDAR,
TUNANETRA PENGHAFAL 30 JUZ AL-QUR’AN................................. 118
KISAH 10 BERSAUDARA PENGHAFAL AL-QUR’AN......................... 119
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 123
TENTANG PENULIS.................................................................................... 125



BAGIAN I
MENGENAL SURAT AL-FAATIHAH
BESERTA RAHASIANYA
Allah Swt berfirman, “Dan, kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS Al Israa, 17:82)
Ada satu pesan penting yang dapat kita pahami dari Firman Allah Swt tersebut. Yakni bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt, sebagai penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Artinya, di dalam Al-Qur’an terdapat ayat atau surat yang berkhasiat sebagai obat bagi segala penyakit, baik penyakit badaniah (lahir/medis) maupun penyakit psikologis (mental/nonmedis). Mengenai khasiat “penawar” Al-Qur’an ini, kita tidak perlu meragukannya lagi. Sebab, para ulama maupun para ahli pengobatan medis telah mengakui keampuhan Al-Qur’an sebagai penawar bagi segala macam penyakit.
Ibnu Katsir Ra. Berkata, “Allah Swt, mengabarkan tentang kitab-Nya (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw. Yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya, baik dari sisi depan maupun belakang. Kitab yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur’an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu, menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan perselisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur’an yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan, dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimaninya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur’an  akan  menjadi penyembuh dan rahmat.”
Pertanyaannya, ayat atau surat apakah yang dapat dijadikan “penawar”? ada banyak sekali ayat maupun surat dalam Al-Qur’an yang secara khusus dan spesifik memiliki khasiat penawar, salah satunya adalah surat Al-Faatihah. Bagaimana surat Al-Faatihah mengobati segala macam penyakit? Dan, penyakit apa sajakah yang dapat disembuhkan olehnya? Pembahasan mengenai dua pertanyaan ini secara detail dan spesifik akan dibahas (disajikan) pada bab berikutnya.
Sebelum mulai membahas berbagai penyakit yang dapat disembuhkan dengan surat Al-Faatihah dan tata cara pengobatannya, terlebih dahulu saya ingin memperkenalkan mengenai rahasia dahsyat di balik keajaiban surat Al-Faatihah sebagai bekal dan informasi bagi Pembaca yang budiman dalam menjadikan Al-Faatihah sebagai “penawar”. Untuk itu, sub-sub bab berikut secara khusus membahasa tentang berbagai rahasia dan kandungan makna surat Al-Faatihah.
A.    Rahasia Al-Faatihah Menjadi Surat Pertama.
Seperti kita ketahui, Surat Al-Faatihah adalah surat pertama yang mengawali Al-Qur’an. Dengan kata lain, Surat Al-Faatihah adalah surat pembuka dalam Al-Qur’an. Dalam penempatan Al-Faatihah sebagai surat pertama ini, tentu Allah Swt, telah menetapkan suatu keistimewaan dan rahasia yang terdapat di dalamnya, sehingga ia dijadikan sebagai surat pertama. Padahal, Al-Faatihah bukanlah ayat pertama yang diturunkan Allah Swt. Tetapi, kenapa dalam penyusunan mushaf Al-Qur’an, justru surat inilah diperintahkan oleh Allah Swt. Agar ditempatkan dibagian awal (surat pertama)?
Mengenai masalah ini menjelaskan bahwa Surat Al-Faatihah dijadikan sebagai surat pertama dalam Al-Qur’an karena ia merupakan surat pertama yang diturunkan dengan lengkap dan termasuk golongan Surat Makkiyah. Surat ini disebut Al-Faatihah (pembuka) karena menandakan dimulainya Al-Qur’an. Surat ini juga dinamai dengan Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab) karena merupakan induk bagi semua isi Al-Qur’an, serta menjadi intisari kandungan Al-Qur’an yang karenanya wajib dibaca ketika shalat. Selain itu, Al-Faatihah dinamai pula Al-Sabu’al-Matsani (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya berjumlah tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.
Menurut Ustadz Syekh Muhammad Al-Madani, “Seandainya Al-Qur’an disusun sesuai dengan urutan turunya, pastilah sebagian orang akan memahaminya bahwa Al-qur’an itu diturunkan hanya sesuai dan untuk suatu peristiwa saja. Atau, merupakan peraturan temporer untuk memcahkan masalah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. Padahal Allah Swt, menghendaki agar Al-Qur’an berlaku umum. (mencakup segala permasalahan) dan bersifat universal, tidak hanya untuk satu masa dan kaum. Maka, disusunlah Al-Qur’an dengan sistematika sekarang yang memperhatikan universalitas dan kekekalannya. Dan, dijauhkan dari susunan yang bersifat temporer, yang hanya memperhatikan urgensi pada masa saja, yakni ketika turunnya.”
Dengan demikian, salah satu alasan mengapa surat Al-Faatihah yang diletakkan sebagai surat pertama adalah karena surat disinyalir merupakan intisari Al-Qur’an karenanya surat ini dinamai pula dengan Ummul Qur’an (Induk Al-Qur’an). Di samping itu, surat ini memiliki keistimewaan dan keutamaan yang tidak dimiliki surat lainnya, sebagai mana dituturkan oleh Rasulullah Saw, dalam riwayat Ibnu Hibban dari Ubai bin Ka’ab Ra “Tidak pernah Allah menurunkan ke dalam surat Taurat dan Injil yang menyamai Ummul Qur’an (Al-Faatihah).” “Faatihah al-Kitab (Al-Faatihah) adalah surat yang paling mulia di dalam Al-Qur’an.”
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Ra, bahwa Rasulullah Saw, bersabda, “Siapa membaca Faatihah al-Kitab (Al-Faatihah), maka seakan-akan ia telah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqaan (Al-Qur’an),” Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menegaskan bahwa Al-Qur’an, khususnya Al-Faatihah, dapat mengobati penyakit jasmani dan ruhani. Mungkin karena itulah, surat ini dinamai pula Al-Syifa’ (obat). Keistimewaan lain surat ini adalah diwajibkan dibaca setiap kali shalat. Karena itulah, surat ini dinamai Al-Sab’al Al-Matsani (tujuh yang berulang-ulang), sebagaimana diisyaratkan pula dalam Al-Qur’an:
Dan, sungguh kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS Al-Hijr, 15: 87)
Hal senada juga diisyaratkan sabda Nabi Saw sebagaimana dikemukanan Imam Bukhari bahwa Abu Sa’id, yakni Rafi’ bin Al-Mu’alla Ra. Mengatakan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda kepadanya, “Maukah saya ajari kamu surat Al-Qur’an yang paling agung sebelum kamu keluar dari masjid?” Beliau lalu memegang tanganku. Ketika kami hendak keluar dari masjid, saya mengingatkan, “Wahai Rasulullah, tadi engkau berjanji mengajariku surat Al-Qur’an yang paling agung.”  Beliau menjawab, “Surat itu adalah Alhamdulillahi rabbill’alamin, yakni tujuh ayat yang diulang-ulang dalam shalat, dan Al-Qur’an paling agung yang telah diturunkan padaku.”
Hadits dari Abu Hurairah Ra. Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Ra. Bahwa Rasulullah Saw, pernah bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat (surat Al-Faatihah) menjadi dua bagian, untuk aku dan untuk hamba-Ku. Dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” Apabila seorang hamba mengucapkan, ‘Alhamdulillah rabbil ‘alamin’, maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Apabila hamba-Ku mengucapkan, ‘Ar-Rahman Ar-Rahim,” maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku benar-benar telah menyangjung-Ku.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, “Maaliki yaumiddin,’ maka Allah berfirman, “Yang ini di antara Aku.’ Apabila hamba itu mengucapkan, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in,’ maka Allah berfirman, “Yang ini antara Aku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” Jika hamba tersebut mengucapkan, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shiratal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdubi’ alaihim waladh dhallin.’ Maka Allah berfirman, “Yang ini antara Aku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.”
Perlu pembaca yang budiman ketahui ada rahasia tersendiri di balik penamaan surat Al-Faatihah dengan nama as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) in, sehingga menjadikan Al-Faatihah sebagai bacaan tujuh dalam surat Al-Faatihah itu?
Jumlah ayat dalam surat Al-Faatihah ada tujuh ayat. Jumlah langit ada tujuh. Jumlah bumi ada tujuh. Jumlah hari dalam seminggu ada tujuh. Jumlah putaran yang dilakukan oleh seseorang yang melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah adalah tujuh. Sa’i (berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwa dilakukan sebanyak tujuh kali. Melempar jumrah dilakukan oleh orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh kali. Anggota tubuh yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Untuk ditempelkan ke tanah ketika sujud ada tujuh. Jumlah pintu Jahannam ada tujuh buah. Kata Jahannam disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 77 kali (77=7x11).
Huruf terputus-putus yang pertama kali disebutkan dalam Al-Qur’an adalah firman Allah “Alif Lam Mim” yang merupakan ayat pertama dalam surat Al-Baqarah. Jika kita menghitung jumlah ketiga huruf tersebut dalam surat Al-Faatihah, akan kita dapati bahwa huruf Alif berjumlah 22 buah, huruf Lam berjumlah 22 buah, dan huruf Mim ada 15 buah. Apabila kita menggandengkan jumlah ketiga huruf tersebut, maka akan terbentuk bilangan 222215 atau kalau kita membalik susunannya akan terbentuk bilangan 152222 dan 221522. Dan ajaibnya, ketiga bilangan tersebut merupakan kelipatan dari angka tujuh. (222215 = 7 x 31745, 152222= 21746, 221522= 7x31646).
Disamping mengandung keajaiban angka tujuh tersebut, surat Al-Faatihah juga mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al-Qur’an sehingga dinamakan jantungnya Al-Qur’an, yakni:
1.      Keimanan. Isyarat keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat pada ayat 2. Ayat ini menyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu nikmat hanyalah milik Allah. Sebab, Allah adalah pencipta dan sumber segala nikmat. Di antara nikmat itu ialah nikmat menciptakan, nikmat mendidik, dan menumbuhkan. Sebab, kata Rabb dalam kalimat “Rabb Al-Alamin” tidak hanya berarti “Tuhan” dan “Penguasa”, tetapi juga mengandung arti tarbiyah, yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang terdapat dalam diri seseorang dan segala alam ini bersumber dari Allah karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan, dan penumbuh oleh Allah di alam ini harus diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketahuidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam Surat Al-Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in (hanya Engkau-lah kami mohon pertolongan). Yang dimaksud dengan “Yang mengusai hari pembalasan” ialah pada hari itu, Allah-lah yang berkuasa. Segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.
2.      Hukum-hukum, yakni, jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “hidayah” di sini ialah hidayah yang menjadi sebab perolehan keselamatan, kebahagiaan dunia, dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum, maupun pelajaran.
3.      Kisah-kisah, yakni, kisah para nabi dan orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini ialah para nabi, para shiddiqin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhada’ (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shalih).“Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat” ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan tadi terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada surat-surat yang lain. Dalam metrik kehidupan kita, Al-Faatihah dapat digambarkan sebagai lembaran kontrak sekaligus panduan kita hidup di dunia. Di sana akan ditemukan peta, panduan, dan rambu yang memandu dan menuntut kita menuju jalan yang lurus (al-shirath-mustaqim), sehingga kita tidak tersesat (dhalal dan ghadhab). Al-Faatihah merupakan kunci kesuksesan di dunia dan akhirat. Wallaahu a’lam bish shawab.
Demikianlah sepintas penjelasan mengenai rahasia mengapa Al-Faatihah diletakkan di awal surat (surat pertama) dalam Al-Qur’an dan keajaiban dibalik angka tujuh dalam Al-Faatihah. Semoga penjelasan ini dapat menambah pengetahuan pembaca yang budiman seputar rahasia dan keajaiban yang terkandung dalam Surat Al-Faatihah.

B.     Nama-Nama Surat Al-Faatihah.
Ketahuilah bahwasanya Surat Al-Faatihah itu memiliki banyak nama, sebagiannya telah disebutkan tadi. Nama-nama tersebut menyimpan khasiat dahsyat, antara lain:
1.      Fatihatul Kutub dan Fatihatul Qur’an. Nama ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shomit, bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Tidak ada (tidak sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Fakhruddin Ar-Rozi mengatakan bahwa nama ini mushaf, dalam kegiatan pengajaran, dan bacaan pertama dalam shalat. Ada pula yang berpendapat bahwa ia disebut demikian karena menjadi pembuka setiap perkataan.
2.      Ummul Qur’an, sebagaimana telah kita ketahui bahwa Surat Al-Faatihah adalah jantungnya Al-Qur’an. Dari Abu Hurairah Ra. Bahwa Rasulullah Saw, bersabda, “Alhamdulillahi (surat Al-Faatihah) adalah induk Al-Qur’an, induk Al-Kitab, dan tujuh (ayat) yang diulang-ulang.” (HR. Tirmidzi). Imam Az-Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasysyaf mengatakan, “Ia dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) karena surat ini mencakup seluruh makna-makna yang terdapat di dalam Al-Qur’an, mulai dari pujian terhadap Allah, menghamba kepada-Nya dengan menunaikan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta adanya janji dan ancaman dari Allah.” Surat ini dinamakan sebagai “induk” atau “ibu” (umm), karena kata umm bermakna ashl (pangkal). Ia merupakan pangkal kaidah-kaidah atau pondasi Al-Qur’an di mana seluruh hukum berporos padanya.
3.      Suratul Hamd. Dinamakan demikian karena di dalamnya disebutkan kata alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kata ini sering dibaca sebagai ungkapan rasa syukur dan bentuk pujian terhadap Allah Swt.
4.      Suratush Shalah. Surat ini disebut ash-shalah karena ia dibaca dalam shalat minimal 17 kali sehari. Al-Faatihah merupakan bagian pokok dari rukun shalat, yang mana shalat tersebut tidak sah jika tidak membaca surat Al-Faatihah.
5.      Suratusy Syifa’. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Darimi dari Abdul Malik bin Umair, bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Dalam Fatihul kitab (Al-Faatihah) terdapat penawar dari segala penyakit.“ Inilah rahasia dahsyat Al-Faatihah yang menjadi topik utama buku ini, yakni sebagai “penawar”. Surat Al-Faatihah adalah surat yang mempunyai keistimewaan sebagai penyembuh (al-syafiyah). Hal ini menandakan bahwa pembacaan dan pengamalan kandungannya dapat mengantarkan kita kepada kesembuhan.
6.      Suratur Ruqyah. Ada yang berpendapat bahwa letak ruqayah tersebut terletak dalam firman Allah Swt. “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. “ (QS Al-Faatihah, 1:5). Namun, ulama yang lain menegaskan bahwa seluruh isi surat tersebut adalah ruqyah (jampi).
7.      Asasul Qur’an. Imam Fakhruddin ar-Razi mengatakan bahwa surat ini dinamakan sebagai Asasul Qur’an karena beberapa alasan. Pertama, ia merupakan surat pertama dalam Al-Qur’an, sehingga ia seperti pondasi. Kedua, mengandung tuntutan yang mulia. Ketiga, ibadah yang paling utama setelah iman, yaitu shalat. Di dalam shalat wajib inilah, membaca Asasul Qur’an wajib adanya.
8.      As-Sab’ul Matsani. Dinamakan as-sab’u (tujuh) karena surat ini berisi tujuh ayat. Menurut Ar-Rozi, setiap ayat Al-Faatihah sebanding dengan sepertujuh kandungan Al-Qur’an. Orang yang membaca Al-Faatihah sama dengan membaca seluruh isi Al-Qur’an. Sedangkan disebut Al-Matsani karena ia selalu diulang pada setiap rakaat shalat. Ada juga yang berpendapat tentang penamaan Al-Matsani karena ayat ini diturunkan sebanyak dua kali, yaitu di Makkah dan Madinah.
9.      Al-Qur’anul Azhim. Disebut sebagai Al-Qur’an yang Agung karena surat ini berisi pujian kepada Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya.
10.  Suratul Kafiyah. Dinamakan sebagai Suratul Kafiyah berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muhammad bin Kholad Al-Iskandaroni bahwa Nabi Saw. Bersabda, “Ummul Qur’an (Al-Faatihah) itu pengganti dari yang lainnya, sedangkan yang lainnya tidak akan bisa menggantikannya.” Artinya, surat ini lebih mencukupi dari segi makna dan kandungan daripada surat-surat yang lainnya.
Demikianlah sepuluh nam lain Surat Al-Faatihah. Dari masing-masing nama tersebut, dapat kita ketahui bahwa surat Al-Faatihah memiliki khasiat sebagaimana nama-namanya. Misalnya dinamakan Suratush Shalah karena merupakan bacaan wajib dalam shalat. Dinamakan Suratusy Syifa’ karena dapat menjadi “penawar” bagi segala penyakit. Untuk itu, tidak perlu diragukan lagi, surat Al-Faatihah merupakan surat yang sangat ajaib dan dapat dijadikan sebagai obat “penawar” dan “penyembuh” bagi segala penyakit.
C.    Beberapa Keistimewaan Surat Al-Faatihah.
Di samping keajaiban-keajaiban Surat Al-Faatihah yang telah disebutkan tadi, surat Al-Faatihah juga memiliki tujuh keistimewaan yang luar biasa, yakni sebagai berikut:
1.      Paling besar (a’zham). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Ra. Bahwasanya telah menyampaikan kepadanya Yahya bin Said dari Syu’bah, yang menerima kabar ini dari Hubaib bin Abdirrahman, dari Hafizh bin’Ashim, dari Abu Said Al-Ma’alli Ra, katanya. “Aku sedang shalat, lalu dipanggil oleh Rasulullah Saw, maka tak dapat aku menyahut. Sesudah aku selesai shalat, aku datangi beliau. Rasulullah Saw. Bersabda, “Kenapa engkau tidak segera mendatangiku?’ Aku menjawab, ‘Karena aku sedang shalat, ya Rasulullah.’ Berkata Rasulullah, ‘Bukankah Allah sudah berfirman, ‘Hai orang-orang beriman, sahutilah seruan Allah dan Rasul bila menyeru kamu kepada apa yang menghidupkan kamu.’ Kemudian beliau berkata, ‘Aku akan mengajarkan kepadamu sebesar-besarnya surat di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid ini. Ketika Rasulullah akan keluar dari masjid, beliau memegang tanganku, lalu aku berkata, ‘Ya Rasulullah, engkau mengatakan mau mengajarkan kepadaku sebesar-besarnya surat di dalam Al-Qur’an. Berkata Rasulullah, ‘Ya, ialah Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin (dan seterusnya), 7 ayat yang berulang-ulang, dan itulah Al-Qur’an Al-Azhim yang telah disampaikan kepadaku.” Ada juga hadits seperti ini yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Waqidi dari berbagai-bagai sumber.
2.      Tidak ada persamaannya di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwattha’, dari Al-‘Ala’bin Abdirrahman bin Ya’qub Al-Haraqi, bahwa Abu Sa’id Mawla Ibnu’Amir bin Kuraiz mengabarkan kepada mereka, bahwa Rasulullah Saw. Memanggil akan Ubay bin Ka’ab ketika ia dalam bershalat di dalam masjid. Sesudah selesai shalat, Ubay bin Ka’ab mendatangi Rasulullah, lalu Rasulullah memegang tangan Ubay. Keduanya lalu bersama-sama keluar dari masjid dan berkata, “Aku ingin engkau jangan keluar dari masjid ini sebelum mengetahui satu surat yang tak pernah diturunkan di dalam Taurat, tidak pula di dalam Injil, dan tidak pula di dalam Al-Qur’an yang dapat menyamainya.” Berkatalah Ubay,” Lalu, aku perlambat jalanku dan berkata kepada Rasulullah, ‘Surat apakah yang engkau janjikan tadi, Ya Rasulullah?” Lalu, Rasulullah membaca ‘Alhamdulillah rabbil ‘aalamin” dan seterusnya, ia berkata, “Inilah dia surat itu, yaitu 7 ayat yang berulang-ulang dan dialah Al-Qur’an Al-‘Azhim yang telah disampaikan kepadaku.” Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib Ra. Bahwa Rasulullah Saw. Berkata, ‘Siapa yang membaca Fatihatul Kitab (Al-Faatihah), maka seakan-akan ia telah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqaan (Al-Qur’an).”
3.      Hanya diturunkan kepada Muhammad Saw. Diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Abul Ahwash, Salam bin Salim dari ‘Ammar bin Zuraiq, dari Abdullah bin Isa bin Abdirrahman bin Abu Laila dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas Ra. Katanya, “Pada suatu hari, Rasulullah Saw. Duduk bersama Jibril. Tiba-tiba, Rasulullah mendengar suatu bunyi dari atas. Lalu, Jibril menoleh ke atas kemudian berkata, “Itu sebuah pintu sudah terbuka di langit dan tak pernah pintu itu terbuka sebelum ini.”Dari pintu itu, turunlah satu malaikat yang langsung mendekati Rasulullah dan berkata, “Bergembiralah engkau (Muhammad) mendapat kedua cahaya ini diberikan kepada nabi yang mana pun sebelum engkau. Kedua cahaya itu ialah Fatihatul Kitab dan beberapa ayat di akhir Surat Al-Baqarah. Setiap huruf engkau baca dari keduanya pasti engkau mendapatkannya.”
4.      Langsung mendapat jawaban dari Allah. Siapa yang membaca Surat Al-Faatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah Ra. Katanya, “Kami berada di belakang imam (bershalat), maka katakanlah imam itu kepadaku, “Bacalah Al-Faatihah dalam hatimu. Karena, aku telah mendengar Rasulullah Saw, mengatakan, ‘Telah berkata Allah Azza-wa Jalla. Aku bagi shalat (di sini maksudnya ialah Al-Faatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian (maksudnya: seperdua untuk-Ku dan seperdua lagi untuk hamba-Ku) dan bagi hamba-Ku itu berkata, ‘Alhamdulillai rabbil ‘aalamin’, Allah menjawab, ‘Hamba-Ku memuji-Ku’. Dan, apabila hamba-Ku berkata, ‘Ar-rahmaanir rahiim’, Allah menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Dan apabila hamba-Ku berkata, ‘Maalikiyaumiddin”, Allah menjawab: “Hamba-Ku memuliakan-Ku”. Dan, apabila hamba-Ku berkata, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin’ Allah menjawab, ‘Ini seperdua untuk-Ku dan seperdua untuk hamba-Ku. Bagi hamba-Ku, apa yang ia minta. Dan, apabila hamba-Ku berkata, ‘Ihdinashirathal mustqaiim, shiraathal ladzina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin,’ Allah menjawab, ini semuanya untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
5.      Aman dari segala bahaya. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Anas Ra, bahwasanya Rasulullah Saw. Bersabda, “Bila engkau baca Al-Faatihah dan Qul huwallahu ahad, maka amanlah engkau dari segala sesuatu, kecuali dari maut.”
6.      Langsung dari Ary. Diriwayatkan oleh Hakim di dalam Al-Mustadrak dari Ma’qal bin Yasaar Ra. Bahwasanya Rasulullah Saw, telah bersabda, ‘Amalkanlah segala apa yang tersebut di dalam Al-Qur’an, halalkanlah apa yang dihalalkannya, haramkanlah apa yang diharamkannya, dan patuhilah ia. Jangan sekali-sekali engkau ingkari apa-apa yang tersebut di dalamnya. Dan apa-apa yang kamu ragukan (maksudnya), kembalikanlah kepada Allah dan orang-orang yang mempunyai pengetahuan sesudah meninggal aku nanti, supaya diterangkannya kepada kamu. Dan, berimanlah kamu dengan Taurat, Injil, Zabur, dan apa saja yang dibawa oleh para nabi dari Tuhan mereka. Dan, Al-Qur’an akan memberi kelapangan kepadamu dan segala keterangan yang tersebut di dalamnya. Karena itu, sesungguhnya Al-Qur’an itu pemberi syafaat; sesuatu yang tak pandai bercakap tetapi membawa kebenaran. Dan, kepadaku diberikan Allah surat Al-Baqarah dari dzikir pertama (kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Musa As.) dan diberikan kepadaku surat yang berawalan Thaahaa, Thaasiin, dan Haamiim dari papan-papan Musa (maksudnya: Taurat), dan diberikan kepadaku surah Al-Faatihah langsung dari Arsy.”
7.      Sebagai obat (mantra). Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Said Al-Khudri Ra. “Pada suatu hari, kami bersama-sama dalam perjalanan dan bermalam di satu dusun. Datanglah kepada kami seorang budak perempuan dan berkata, ‘Sesungguhnya, kepala desa ini sakit dan tak seorang pun di antara kami yang dapat mengobatinya?’ salah seorang dari rombongan kami berdiri dan mengikuti budak tadi. Kami tidak mengira bahwa ia dapat menjadi dukun. Si sakit itu lalu dimantrainya dan sembuh. Kepadanya, diberi hadiah 30 ekor kambing dan kepada kami disuguhkan susu. Ketika ia kembali, kami bertanya, ‘Apakah engkau membolehkan mantra dan apakah engkau tukang mantra?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Saya bukan tukang mantra (dukun), tetapi aku hanya membacakan Ummul Kitab (Al-Faatihah).’ Kami bertanya, “Kejadian ini jangan dikabarkan kepada siapa pun sebelum kita tanyakan kepada Rasulullah Saw. Terlebih dahulu.” Sesudah kami sampai di kota Madinah, kami datangi Rasulullah Saw. Dan kami ceritakanlah kejadian itu. Rasulullah lalu berkata, ‘Siapa tahu bahwa surat itu (Al-Faatihah) adalah mantra (obat). Bagilah hadiah itu dan berikan saya sebagian darinya.” Kejadian seperti ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Hisyam.
Itulah tujuh keistimewaan Surat Al-Faatihah. Sejatinya, kita telah mengetahui berbagai keistimewaan Surat Al-Faatihah tersebut berdasarkan nama-nama lain surat Al-Faatihah, sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Namun demikian, semoga penjelasan lebih detail dan rinci mengenai tujuh keistimewaan Surat Al-Faatihah tersebut semakin meneguhkan (menguatkan) keyakinan pembaca yang budiman tentang kedahsyatan Surat Al-Faatihah sebagai “penawar”.
D.    Rahasia Di Balik Kandungan Makna Surat Al-Faatihah.
Menurut para ulama berpendapat bahwa Surat Al-Faatihah ini memuat sepuluh sifat; Lima sifat termasuk sifat Allah dan Lima lagi sifat manusia. Lima sifat Allah yang termuat dalam Surat Al-Faatihah adalah sebagai berikut:
1.      Allah, misalnya tercantum dalam ayat pertama.
2.      Ar-Rabb (Maha Pemelihara), seperti termuat dalam ayat kedua.
3.      Ar-Rahman (Maha Kasih), seperti dalam ayat ketiga.
4.      Ar-Rahiim (Maha Sayang), seperti dalam ayat ketiga.
5.      Al-Malik ( Maha Raja pada hari pembalasan), seperti tercantum dalam ayat keempat.
Sedangkan Lima sifat manusia yang tertera dalam Surat Al-Faatihah ini, yakni:
1.      Ubudiyah (beribadah, tunduk, mengabdi) sebagaimana termuat dalam ayat keempat.
2.      Isti’anah (memohon perlindungan), sebagaimana dalam ayat keempat.
3.      Thalabul hidayah (meminta petunjuk), sebagaimana dalam ayat keenam.
4.      Thalabul istiqamah (meminta keteguhan keyakinan dan pendirian), seperti tertuang dalam ayat terakhir.
5.      Thalabun ni’mah (memohon nikmat), seperti dalam ayat ketujuh juga.
Kelima sifat Allah tadi sesuai dengan Lima sifat manusia, yakni:
1.      Sifat ubudiyah sesuai dengan sifat Allah, seolah dikatakan, “Hanya kepada-Mu kami beribadah, karena Engkau adalah Allah yang harus disembah.”
2.      Sifat isti’anah sesuai dengan sifat Ar-Rabb, seolah dikatan, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, karena Engkau adalah Rabb (Tuhan yang mengatur dan memelihara).”
3.      Sifat thalabul hidayah sesuai dengan sifat Ar-Rahman (Maha Kasih), seolah dikatakan, “Tujukkan kami ke jalan yang lurus, karena Engkau Maha Rahman (Maha Kasih).
4.      Sifat thalabul istiqamah sesuai dengan sifat Ar-Rahim (Maha Penyayang), seolah dikatakan, “Berikan kepada kami keteguhan berupa jalan orang-orang yang Engkau berikan benci atau Engkau sesatkan, karena Engkau Maha Rahim (Maha Sayang)”.
5.      Sifat thalabun ni’mah sesuai dengan sifat Al-Malik (Yang Mengusai, Merajai), seolah dikatakan, “Berikan kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, karena Engkau adalah Tuhan Yang Marajai hari akhir.”

Selain itu, manusia juga terdiri dari Lima unsur yang kelima tersebut harus dapat ditundukkan dan ditaklukkan agar ia bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yakni:
1.      Badan (anggota tubuhnya).
2.      Nafsusy syaitaniyah (diri yang cenderung mengikuti setan).
3.      Nafsusy syahwaniyah (nafsu syahwatnya).
4.      Nafsul ghadabiyah (nafsu yang cenderung untuk cepat marah).
5.      Aqli (akal pikirannya).

Kelima unsur yang terdapat pada diri manusia ini juga dapat ditundukkan dengan Lima sifat Allah yang tertera dalam Surat Al-Faatihah tadi, yakni:
1.      Tubuh atau badan manusia sifatnya keras dan kasar. Maka, ia harus ditundukkan dengan sesuatu yang lebih keras, dengan jalan diberikan rasa takut akan datangnya sesuatu yang lebih kasar dan lebih keras. Dengan demikian, kekerasan tubuhnya ini berubah menjadi lemah dan tunduk untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan memenuhi segala larangan-Nya. Sifat Allah yang dapat menundukkan keras dan kasarnya anggota tubuh manusia ini adalah sifat Al-Malik (Yang Merajai pada hari pembalasan kelak).
2.      Kecenderungan manusia untuk mengikuti setan (Nafsusy syaithaniyah) juga dapat ditundukkan dengan jalan banyak berbuat baik dan kebaikan yang merupakan nilai penjelmaan dari sifat Ar-Rabb. Sehingga, ia akan meninggalkan segala bentuk kemaksiatannya dan berbalik untuk selalu taat kepada Allah.
3.      Kecenderungan syahwat binatangnya juga dapat ditundukkan dengan sifat Ar-Rahim (Maha Sayang), bahwa Allah Maha Sayang kepada semua makhluk-Nya. Oleh karena itu, tidaklah pantas manusia yang lemah ini untuk berbuat mengumbar syahwatnya. Karena, Allah yang serba maha saja Maha Sayang kepada semua makhluk-Nya. Dengan demikian, tumbuhlah rasa cinta, sayang, dan tidak mengumbar kecenderungan syahwatnya itu.
4.      Nafsu untuk selalu marah dan bertindak buas juga dapat ditutup dengan sifat Ar-Rahman, bahwa Allah Maha Kasih kepada seluruh makhluk-Nya. Apabila Allah yang serba maha ini Maha Kasih kepada seluruh makhluk-Nya, maka alangkah sangat tidak pantas manusia yang lemah ini untuk bertindak mengumbar kemarahan dan tindakan buasnya.
5.      Akal manusia yang kadang ‘nakal’ juga dapat ditundukkan dengan nama Allah, bahwa manusia harus ingat bahwa di atas dunia ini banyak hal yang tidak dapat diukur oleh akal manusia. Karena itu, akal bukanlah penghukum segala sesuatu. Karena, ia sangat terbatas dan sempit. Karena akal adalah sesuatu yang terbatas, maka ia harus tunduk kepada Yang Tidak Pernah Terbatas, yakni Allah. Dengan demikian, akal akan selalu tunduk di bawah kekuasaan Allah, bukan sebaliknya. Dalam Al-Qur’an misalnya, dikatakan, “Ingatlah dengan jalan mengingat Allah, hati dan pikiran akan tenang” (QS. Ar-Ra’d ayat 28)

Berdasarkan penjelasan rahasia di balik makna Surat Al-Faatihah tadi, dapat kita ketahui bahwa Surat Al-Faatihah hanya memuat Lima sifat Allah saja. Hal ini sesuai dengan Islam yang dibangun dalam Lima dasarnya yang kuat, yakni indra manusia ada lima, yakni;
1.      Penglihatan (Al-Bashar), sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Maka, ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS. Al-Hasyr, 59:2)
2.      Pendengaran (As-Sam’u), sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar, 39: 18).
3.      Rasa (Adz-Dzauq), sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 51)
4.      Penciuman (Asy-Syamm), sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), berkatalah ayah mereka, ‘Sesungguhnya, aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (QS. Yusuf, 12: 94)
5.      Sentuhan (Al-Lams), sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Dan, orang-orang yang menjaga kemaluannya,” (QS. Al-Mu’minuun , 23: 5)
Lima sifat Allah dalam Surat Al-Faatihah ini disesuaikan dengan panca indra manusia yang lima ini. Dengan demikian, Lima sifat Allah ini dapat menjaga panca indra, sekaligus dapat menepis segala mudharat dan hal-hal negatif yang akan menimpa panca indra ini, tentunya apabila kelima sifat Allah dimaksud dipahami arti dan maksudnya dengan baik.

E.     Rahasia Ucapan “Alhamdulillah” Dalam Al-Faatihah.
Di samping rahasia-rahasia dibalik makna Surat Al-Faatihah seperti disebutkan sebelumnya, ternyata ada satu kalimat dalam Surat Al-Faatihah yang secara khusus menyimpan rahasia dahsyat, yakni kalimat “Alhamdulillah”. Nah, apa sajakah rahasia yang tersimpan di dalam ucapan Alhamdulillah? Mari kita bahas bersama-sama.
1.      Kata Alhamdulillah merupakan ayat pertama dari Surat Al-Faatihah. Para penghuni surga mengucapkan kata Alhamdulillah dalam lima tempat, yakni;
a.       Selamat dari siksa. Sebagaimana firman Allah Swt yang artinya, “Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 28).
b.      Setelah melewati jembatan (Ash-Shirat) dengan selamat. Sebagaimana firman Allah Swt. Di dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan, mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka-cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampunan lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir, 35: 34)
c.       Ketika menetap di dalam surga. Sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Doa mereka di dalamnya ialah, ‘Subhanakallahumma’ dan salam penghormatan mereka ialah, ‘Salam’. Dan, penutup doa mereka ialah, ‘Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin.” (QS. Yunus, 10:10)
d.      Kalimat Alhamdulillah adalah ucapan para nabi ketika mendapatkan kenikmatan. Adapun ucapan para nabi tersebut sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut:
1.      Nabi Adam As. Nabi pertama kali mengucapkan kalimat Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) adalah Nabi Adam As. Mengenai hal ini, Imam Ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib-nya menuturkan sebuah riwayat bahwa Nabi Adam As, bersin, maka ucapan yang pertama kali keluar dari lisannya adalah ucapan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah).
2.      Nabi Nuh As. Ketika sudah selamat dari banjir bah yang sangat besar dan sampai di daratan, kata pertama yang keluar dari mulut Nabi Nuh As. Adalah ucapan Alhamdulillah, sebagaimana terekam dalam firman Allah yang artinya, “Apabila kamu dan orang-orang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 28).
3.      Nabi Ibrahim As. Ketika diberikan putra, Nabi Ismail dan Ishak, juga mengucapkan kata Alhamdulillah. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibarahim, 14: 39)
4.      Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As. Ketika Allah menundukkan jin, manusia, dan memberikannya kekuasaan. Kalimat yang pertama keluar dari mulutnya adalah ucapan Alhamdulillah. Sebagai mana firman-Nya yang artinya, “Dan, sesungguhnya kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” (QS. An-Naml, 27: 15).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ucapan Alhamdulillah ini adalah ucapan yang pertama kali diucapkan oleh manusia pertama, yakni Nabi Adam As dan juga ucapan yang paling akhir dan diucapkan oleh manusia kelak, yakni oleh para penghuni surga. Maka, sangat pantas apabila Allah meletakkan Surat Al-Faatihah ini sebagai pembuka Al-Qur’an. Bahkan, menurut sebagian ulama, pantas kalau Surat Al-Faatihah ini sebagai surat yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Semua ini, sekali lagi, menunjukkan betapa penting dan besarnya keistimewaan dari Surat Al-Faatihah ini.
F.     Al-Faatihah Untuk Penyakit Mata.
Pada prinsipnya, amalan Al-Faatihah ini berkhasiat menyehatkan mata, baik mata secara lahir (mata fisik) maupun mata batin. Jika pembaca yang budiman sehat, otomatis pembaca yang budiman pun akan terhindar dari berbagai jenis penyakit mata. Mengapa? Sebab, penyakit mata hanya menyerang orang yang matanya tidak sehat. Untuk itu, agar pembaca yang budiman terhindar dari penyakit mata, bagi yang sedang sakit agar sembuh, maka pembaca yang budiman dapat mengamalkan amalan Al-Faatihah ini.
Adapun cara mengamalkan Al-Faatihah agar mata menjadi sehat dan sembuh dari sakit mata, bacalah Surat Al-Faatihah sebanyak 33 kali setelah shalat Shubuh, lalu tiupkan pada kedua telapak tangan dan usapkan pada mata yang sakit. Insya Allah, mata yang sudah berkali-kali berobat ke dokter umum namun tidak kunjung sembuh akan tumbuh total berkat keutamaan Surat Al-Faatihah.

G.    Mengobati Penyakit Lupa.
Apakah pembaca yang budiman akhir-akhir ini merasa sudah lupa? Misalnya pembaca yang budiman lupa di mana meletakkan kunci mobil, padahal kunci tersebut sedang pembaca yang budiman pegang; Anda lupa meletakkan barang-barang Anda yang baru saja pembaca yang budiman simpan; atau Anda lupa hari dan tanggal berapa saat ini. Lupa memang sudah menjadi kodrat lahiriah manusia. Namun, jika lupa tersebut terlalu sering, maka pembaca yang budiman perlu waspada. Sebab, bisa jadi lupa pembaca yang budiman alami itu adalah penyakit lupa. Apa itu penyakit lupa? Dan, bagaimana caranya agar terhindar dari penyakit lupa tersebut?
Gambaran umum penyakit lupa, jika dipetakan, penyakit lupa ini ada dua, yakni penyakit lupa yang benar-benar lupa dan penyakit lupa karena pura-pura. Pada penyakit lupa yang pertama, biasanya penyakit tersebut indentik dengan penyakit hilang ingatan, yakni Alzheimer. Namun, ada yang mengatakan bahwa penyakit Alzheimer lebih dari sekedar hilang ingatan. Bukan saja lupa akan nama-nama atau lupa membuat pembukuan, namun pada akhirnya lupa segalanya, segala penting yang pernah dilakukan dan setiap orang yang pernah Anda kenal.
Secara singkat, ada sepuluh gejala yang sering ditemukan dari penyakit Alzheimer, yaitu:
1.      Gangguan daya ingat. Lupa janji, lupa nama orang, teman dan anggota keluarga, tidak dapat mengingat kejadian-kejadian atau pembicaraan. Mudah lupa mungkin merupakan gejala awal Alzheimer. Sekitar 40-50% pasien dengan gangguan mudah lupa menjadi penyandang Alzheimer dalam waktu 3 tahun. Lupa cara menggunakan toilet meletakkan barang di tempat yang aneh, seperti meletakkan surat di dalam lemari es, tidak bisa mengingat jam dan tempat, tidak bisa mengingat tahun berapa sekarang dan berada di mana saat itu. Selain itu, tidak dapat mengingat sesuatu, lupa nama anggota keluarganya.
2.      Kesulitan dalam melakukan aktivitas sederhana/ pekerjaan sehari-hari. Seperti mengendarai mobil, berbelanja, mandi, berpakaian, dan lain-lain.
3.      Kesulitan berbicara atau berbahasa. Tidak dapat berkomunikasi, sukar menyusun kalimat.
4.      Disorientasi. Gangguan mengenal waktu (tanggal, tahun, hari-hari penting), gangguan mengenal tempat, gangguan kemampuan mengenali lingkungannya. Akibatanya ia tidak tahu dimana ia sedang berada, tidak tahu pulang ke rumah sendiri.


TENTANG PENULIS
Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: RAHASIA DAHSYAT DI BALIK KEAJAIBAN SURAT AL-FAATIHAH.
Penulis dapat di hubungi melalui emailnya: jamaludinrifai442@gmail.com atau menghubungi kontak : 0853-4000-8577

0 komentar:

Posting Komentar