JAMALUDIN
RIFAI, S.Pd.I
YA
ALLAH, MAAFIN KAMI BANYAK DOSA
(KISAH-KISAH
INPIRASI, PELAJARAN, DAN MOTIVASI)
“Barang
siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezeky dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. At- Tholaq:
2-3)
BUKU
PERSEMBAHAN
Saya Mengucapkan Terima
Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1. Allah
Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2. Kedua
Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu
Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah
Hati.
3. Keluarga
Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang
Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4. Teman-Teman
Sekolahku Dari SD Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku
Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris Yang Tak Bisa
Saya Sebut Satu Persatu.
5. Buat
Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang
Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6. Orang-Orang
Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji
bagi Allah, pemilik alam semesta. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad saw, para sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya sampai hari
Kiamat.
Dalam kehidupan
sehari-hari masalah sangat akrab dalam kehidupan kita. Bentuknya bermacam-macam.
Kehidupaan saat ini dipenuhi dengan
kebohongan, buah dari
pemikiran negatif,
pencariaan kesalahan orang
lain yang lebih
penting dibanding kesalahan
diri sendiri. Setelah waktu
yang lama ditempuh,
orang akan menemukan
kesadaraan bahwa mereka hidup
dalam dunia yang
negatif, merekapun tahu mereka harus
dapat berubah secepat mungkin.
Setiap
manusia pasti pernah melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya mendapatkan
dosa, sebab, dari dosa itulah Allah Ta’ala mengingatkan kita akan kelemahan
umat manusia. Karena, Allah Ta’ala Maha Adil, Dia juga menciptakan obat penawar
dosa tersebut.
“Sesungguhnya
di dalam Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat penawar bagi kalian
(umat manusia). Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa yang diperbuat,
sedangkan obatnya adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumuddin: 1/410)
“Dan
juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (istighfar) terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (QS.
Ali ‘Imran, 3: 135)
Rasulullah
Saw. Pernah bersabda:
“Demi
jiwaku yang berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah
akan memuaskan kalian dan akan menggantinya dengan kaum pendosa lalu, mereka
memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR.
Muslim)
Penulis
menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita
yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar YA ALLAH MAAFIN KAMI
BANYAK DOSA, ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena
kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya
semaksimal mungkin untuk menyelesaikan YA ALLAH MAAFIN KAMI BANYAK DOSA, ini
dengan semua kemampuan yang penulis miliki.
Penulis
Jamaludin
Rifai, S.Pd.I
DAFTAR
ISI
BUKU
PERSEMBAHAN
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
PERJALANAN.
1
SUMPAH
IBU, PEMUDA DURHAKA KECELAKAAN MAUT. 8
VIRUS
PENGHALANG DOA IBU. 14
TUHAN
KOK DI SURUH-SURUH. 50
KISAH
IBUNDA. 53
KELOMPOK
99. 56
TETANGGA.
60
YA
TUHAN, MAAF KAMI SIBUK. 62
TUHAN,
HARAP MAKLUMI KAMI. 66
EMPAT
ISTRI. 68
CINTA
ORANG TUA. 70
MEJA
KAKEK. 72
SINGA,
TIKUS, ULAR, DAN SARANG LEBAH. 74
ROTI
DAN BATU. 76
KAKI
DAN SEPATU. 80
NUTRISI
JIWA. 82
HATI
YANG PENUH SYUKUR. 84
MENDAPAT
HIDAYAH DALAM KUBURAN. 86
ANUGERAH
SELEPAS MENINGGALKAN MAKSIAT. 93
PENYESALAN
FULAN. 98
PERUBAHAN
SIFAT FULAN. 102
KEBERHASILAN
SEORANG ANAK NAKAL. 106
SECERCAH
CAHAYA DI BALIK DHUHA. 109
WAHAI RABBKU. 115
MAKNA
ISTIGHFAR. 116
MENGAPA
HARUS BERISTIGHFAR? 117
HARI-HARI
YANG TAK AKAN KEMBALI. 119
ANGIN
PRAHARA. 123
IBU
DARI ANAK-ANAK KITA. 128
SEMOGA
ALLAH MERAHMATINYA. 133
KAMI
DAN KAMU. 135
KETEGUHAN.
139
MEMBANGUNKAN
HATI YANG TERTIDUR. 143
AIR
MATA KEGEMBIRAAN. 146
YANG
PENTING MULAI SAJA. 151.
PENUTUP.
157
MASA
MENDATANG. 161
PEMBAWA
MINYAK WANGI. 164
UNTUK
MEREKA YANG MEMILIKI HATI. 169
DOA.
172
PERINGATAN.
175
KEBAHAGIAAN.
181
AKHIR
HAYAT PENGHAFAL
AL-QUR’AN
DAN PENYANYI 187
DAFTAR
PUSTAKA. 193
TENTANG
PENULIS. 194
VIRUS
PENGHALANG DOA IBU
Pembaca
yang budiman. Doa merupakan sarana yang
paling efektif untuk menyegarkan jasmani dan menenangkan jiwa. Mendekatkan diri
kepada ilahi dan membersihkan kotoran dalam hati. Namun, masalahnya doa
kebanyakan dari diri kita saat ini belum mengikuti anjuran yang sebenarnya.
Alhasil, doa terpanjat dan menjadi sia-sia tak berguna.
Barangkali
itu yang menyebabkan kebanyakan dari kita tidak lagi tertarik untuk mengkaji
manfaat doa, kecuali sebatas rutinitas tanpa makna. Padahal Allah sudah
berjanji, sudah pasti akan diberikan kepada orang yang berdoa, Allah berfirman:
“ Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan saya perkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min,
40: 60)
Dalam
ayat ini, Allah sendiri yang meminta kepada kita (manusia) untuk meminta
kepada-Nya. Ini membuktikan bahwa Allah senang sekali bila hamba-Nya meminta. Lalu
apa gerangan yang menjadi penyebab terhalangnya doa-doa ibu, sampai Allah
enggan untuk mengabulkannya?
Berikut
ini adalah beberapa sebab yang mengakibatkan umur seorang anak manusia tidak
berkah. Kita akan bahas satu persatu masalah ini.
A. Tidak
Punya Attitude.
Salah satu yang
yang menyebabkan terhijabnya doa adalah tidak adanya attidude (sikap) yang
baik. Attitude sebenarnya tidak berlaku dalam berdoa saja, banyak hal yang
membutuhkan attitude. Misalnya, menuntut ilmu, dalam bekerja, dan sebagainya.
Dalam bekerja sendiri, jika ada CEO, kira-kira apa yang menjadi kreteria klelakiwan
untuk bisa bergabung atau bekerja di perusahaannya? Tentu banyak yang sepakat
jika klelakiwannya merupakan orang-orang yang punya sikap dan berperilaku
positif (baik), punya kemauan keras untuk maju. Ketika ada problem, ia tidak
mudah patah semangat, loyal, ramah, penuh semangat, cerdas, dan sebagainya.
Karena tidak mungkin yang bisa masuk bekerja itu orang-orang yang malas,
pemarah, dan hal-hal yang negatif yang bisa membawa keuntungan bagi perusahaan.
Dari attitude
ini, banyak corperate yang menilai bahwa attitude memiliki nilai yang lebih
tinggi mudah menghantarkan seseorang menuju kepada kesuksesan dibandingkan
dengan hardwork, knowlage, skill, dan luck. Pasalnya kesemua kata tersebut
(hardwork, knowlage, skill, dan luck), ternyata attitude adalah kata yang
memiliki persentase tertinggi, sampai mencapai 100 % di banding kata yang
lainnya.
Sekarang, mari
kita reflesikan dalam sebuah kisah yang menunjukkan pentingnya attitude ini.
Alkisah, ada seorang dosen muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di
universitas ternama di Indonesia. Dosen muda ini adalah seorang yang diberi
nikmat oleh Allah berupa pendidikan yang baik. Selain belajar, ia juga seorang
juru dakwah Islam. Saat mengajar satu mata kuliah, tampak para mahasiswanya
sedang antusias berdiskusi mengenai hukum nikah mut’ah (kontrak).
Diskusi yang
dilaksanakan oleh mahasiswanya berlangsung dengan hangat. Namun karena waktu
yang terbatas, maka diskusi harus diakhiri. Berapa mahasiswa yang kurang puas,
meminta waktu tambahan agar bisa berdiskusi lebih lanjut. Namun, permintaan
mahasiswa tersebut tidak di respon oleh sang dosen, karena disampaikan dengan
kurang baik.
Akan tetapi
dosen muda ini hanya senyum melihat kelakuan kurang ajar dari mahasiswanya. Ia
melihat bahwa mahasiswanya ini belum mengerti peranan attitude. Di
tengah-tengah mahasiswanya, dosen tersebut berdiri dan memanggil mahasiswa
tersebut.
“Sekarang jawab
pertanyaanku,” pinta sang dosen. “Kira-kira siapa yang lebih jahat antara saya
atau Firaun?”
“Ya pasti
Firaun, Pak.”
“Apakah kau juga
mengetahui bagaimana saat Tuhan mengutus Musa dan saudaranya Harun kepada
Firaun?
“Ya, saya tahu.”
“Bukankah Tuhan
berpesan kepada keduanya: maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan
perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia takut.” Ucap sang dosen.
“Itu adalah
Firaun yang penuh dengan kesombongan dan kedzaliman, Mas. Lah sementara engkau
berbicara kepada saya dengan begitu. Saya melaksanakan kewajiban-kewajiban pada
Tuhan. Tak menyekutukan-Nya, sedang engkau menasehati serta meminta waktu
kepadaku dengan nada keras dan kasar, jauh dari attitude yang baik.” Imbuh sang
dosen.
Mahasiswa itu
kemudian terdiam dan menyadari kesalahannya. Ia pun meminta maaf atas sikapnya
yang tidak menyenangkan.
Pembaca yang
budiman, coba kita amati dengan baik kisah di atas. Kalau saja sang mahasiswa
tersebut meminta tambahan waktu dengan cara yang baik, tentu besar
kemungkinannya sang dosen akan dengan senang hati memberikan tambahan waktu. Lalu
bagaimana dengan doa? Jawabannya, sama.
Karena kepada manusia saja kita, pasti ada tata cara atau tata krama. Seorang
ibu dituntut untuk memiliki attitude yang baik jika ingin doanya dikabulkan
oleh Allah. Lalu attitudenya-nya?
Beberapa pakar
sepakat menyatakan bahwa attitude dalam berdoa adalah dengan memuji Allah,
kemudian bertawasul kepada Nabi Muhammad, menengadahkan kedua tangan. Halus
bahasa dalam doa yang dipanjatkan, dan lain sebagainya. Ambil contoh, jika saja
ibu saja doanya tidak disertakan tawasul kepada Nabi, pasti akan dihijab oleh
Allah swt. Hal ini sebagaimana pernah diketengahkan dalam sebuah riwayat yang
mengatakan,
“Imam Ja’far
Shadiq berkata: Setiap doa yang tidak dimulai dengan tidak menyebut nama
Muhammad, maka doa itu terputus. (Ushul Al-Kaffi, Jilid 2 hal. 293)
Senada pesan di
atas, Imam Musa Kazhim mengatakan, “Siapa saja yang berdoa tanpa memuji Allah
swt, dan tanpa mengucapkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, ia seperti
sedang memanah tanpa tali busur.
Oleh sebab itu,
seorang ibu yang doanya tidak juga diterima oleh Allah, ada baiknya memeriksa
attitude-nya terlebih dahulu. Barangkali itu yang menjadi sebab terhijabnya doa
dan tak didenger oleh Allah.
B. Mata
Hati.
Hati merupakan
tempat bermuaranya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan
keburukan. Nah, kalau hati adalah tempat bermuaranya kebaikan dan keburukan,
sudah barang tentu ia akan mempengaruhi segalanya. Dalam hal ini, hati yang
kotor akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi gelap, dan bahkan mati. Jika
sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu
Hurairah r.a. berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah
tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja
itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.
Pembaca yang
budiman, begitu penting kualitas hati seseorang dalam menghantarkan doa kepada
Allah swt, kalau sampai hati ini mati, tentu doa tidak akan bisa naik di dengar
oleh Allah. Alm KH. Zainudin MZ mengatakan, “Hatimu mati. Dari hati yang mati,
channel tidak sambung, tidak ada getaran, tidak ada strum kepada Allah. Jadi
pantas jika doa tidak dikabulkan, permohonan tidak dipenuhi, doa tidak
terjawab, karena hatimu mati.”
Pembaca yang
budiman, betapa ironis jika selama ini berdoa, meminta sesuatu tak juga
diberikan oleh Allah, ternyata tidak dikabul lantaran hatinya mati. Jika doa
tidak dikabul oleh Allah,, itu artinya Dia tidak lagi memperhatikan, tidak ladi
menyanangi hamba-Nya.
Pembaca yang
budiman, berikut ada sebuah kisah yang saya akan tuliskan dengan judul : Buta
Mata Buta Hati
Di
depan serambi rumahnya yang asri, ia duduk menunggu Magrib, menanti sang suami
pulang kerja. Hampir setiap senja, ia menghabiskan waktu seperti itu.
Bertemankan biji tasbih di tangan dan secangkir teh manis hangat, gundah dan
gelisahnya belum juga reda, sebuah tragedi masa silam yang pahit masih memburu
hidupnya. Peristiwa tragis yang menghantui dirinya itu pernah terjadi. Fulanah 21
tahun, sejak kecil ia memang sudah tidak bisa melihat. Tepatnya, ketika ia baru
berusia sepuluh bulan. Sakit panas yang tinggi membuat matanya buta. Saat itu,
Rukmin (Nama samaran 50 tahun), ibunya yang hanya seorang penjual nasi di
pinggir jalan terlambat membawanya ke dokter. Ayahnya meninggal sejak ia masih
dalam kandungan. Sementara Fatma (Nama samaran 24 tahun), kakak semata
wayangnya yang belum lama menyelesaikan studi S1-nya di sebuah perguruan tinggi
swasta pun belum juga mendapatkan pekerjaan.
Walhasil,
ibunyalah yang mencari nafkah untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari.
Berbekal uang peninggalan suaminya, ibunya membuka warung makan yang tak jauh
dari rumahnya. Meski tak bisa melihat, Fulanah tidak ingin merepotkan ibunya
yang sedang bekerja. Ia sudah terbiasa mengusahakan apapun yang dia mau itu
dengan tangan sebagai matanya. Memang, ada saat-saat tatkala ia harus
mengutuk-ngutuk dirinya. Terlebih ketika ia tidak bisa meraih sesuatu yang
sangat dibutuhkannya. Sementara ibunya yang dibutuhkan sibuk di warung melayani
pembeli, dan kakaknya yang dinanti belum juga pulang dari mencari pekerjaan.
Ia
merasa tidak ada seorang pun yang peduli dengannya. Ia merasa Allah tidak adil
dengan dirinya. Ia menyesal dilahirkan di dunia yang tidak bisa dilihatnya ini.
Kalau sudah begitu, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Hingga suatu
senja, kira-kira arah jam menunjukkan angka 4, sehabis mendengarkan radio, ia
sangat dahaga dan pergi ke dapur hendak mengambil minum. Namun apa daya, ketika
tangannya mengedap-ngedap mencari gelas yang terletak di meja makan, seekor kucing
menyelinap di kakinya. Ia kaget dan tangannya menghalau gelas hingga jatuh ke
lantai. Ia teriak dan menangis sejadi-jadinya. Mendengar teriak Fulanah, ibunya
terpaksa meninggalkan, warung dan berlari-lari pulang ke ruamh. “Ya Allah! Ada
apa Nak? Kamu tidak apa-apa, sayang?” Kembali Rukmin menanyakan sambil memeluk Fulanah.
“Kenapa
tidak ada orang yang mau memperhatikan diriku? Kenapa tidak ada yang mau
mengobati diriku? Kenapa Bu? Kenapa?” Jawab Fulanah meledak-ledak dengan mata
berlinang. Sang ibu pun terdiam. Air matanya diam-diam mengalir. “Ibu belum
punya cukup uang Nak. hasil warung hanya bisa menutupi biaya hidup kita
sehari-hari. Sementara biaya operasi matamu itu sangat besar.” Mendengar
jawaban ibunya, Fulanah menyalahkan Fatma, kakaknya. “Kenapa kakak belum juga
bekerja untuk mengobatiku, Bu? Kakak hanya mementingkan hidupnya sendiri! Kakak
egois, Bu! Kakak tidak mau memperdulikan diriku, Bu!”
“Jangan
bicara seperti itu, Nak! Kakak memang belum dapat kerjaan.”
“Ah,
Ibu tidak menyayangiku! Ibu hanya sayang kepada Kakak saja. Ibu hanya
mementingkan hidup Kakak saja. Aku seperti anak tiri Ibu!” Fulanah semakin
gusar. Ia menggerutu sambil menangis.
Saat
dialog pilu itu terjadi, kebetulan sekali sang kakak yang dibicarakan baru
pulang dari cari kerja. Tak sengaja, ia mendengar protes dan keluhan adiknya
itu. Ia pun meneteskan air mata dan langsung memeluk adiknya seraya berkata.
“Jangan bicara seperti itu Dik! Kakak sayang kamu! Tidak ada sedikitpun pikiran
ingin menyia-nyiakan kamu, Dik! Kakak berjanji akan mengobati matamu bila nanti
mendapat pekerjaan!” Senja itu pun menjadi hari yang sangat mengharukan bagi
seorang ibu dan kedua putrinya. Selang berapa hari setelah peristiwa senja itu,
akhirnya sebuah kabar gembira datang. Surat panggilan wawancara kerja dari
sebuah perusahaan swasta menyambangi rumahnya. Dengan diantar Rahim (Nama
samaran 30 tahun), supir taksi yang selama ini mangkal di depan rumahnya dan
sudah menjadi langganannya, ia pergi memenuhi panggilan wawancara kerja
tersebut.
Alhamdulilah,
karena Fatma memiliki wajah cantik, penampilan yang menarik dan otak yang
cemerlang, ia pun akhirnya diterima sebagai sekertaris di perusahaan tersebut.
Hari itu menjadi hari bersejarah dan paling bahagia bagi Fatma. Sesampainya di
rumah, ibu dan adiknya begitu senang mendengar kabar baik yang kelak merubah
kehidupan mereka bertiga. Terutama sekali si bungsu Fulanah. “Kakak harus janji
mengumpulkan uang buat ngobatin mataku. Aku ingin cepat-cepat melihat wajah
Ibu. Aku ingin melihat wajah Kakak yang cantik, aku ingin melihat dunia.”
Tuturnya bersemangat sambil memegang tangan kakaknya. Fatma terharu. Ia pun tak
kuasa membendung air matanya.
Baru
sebulan bekerja, Fatma sudah menunjukkan hasil yang baik. Cepat, disiplin dan
bertanggung jawab. Hal inilah yang membuat Adam (Nama samaran 40 tahun), bos
diperusahaan itu ingin terus mempertahankannya sebagai klelakiwan tetap. Fatma
sendiri bukan main gembiranya mengetahui keputusan bosnya tersebut. Bahkan,
yang lebih mengembirakan dirinya adalah ketika ia berkesempatan mengenal adik
bosnya yang kelak merubah segala kehidupannya. Arfan (Nama samaran 30 tahun).
Saati itu, ketika Arfan tengah mengunjungi kakaknya, ia diperkenalkan dengan
wanita cantik jelita itu. “Fatma,
perkenalkan! Ini adik bungsuku.”
“Fatma
Pak!” Jawab Fatma tegas seraya menjabat tangan Arfan.
“Arfan!”
“Adiku
ini seorang dokter spesialis mata. Dia baru praktek setahun ini! Sebelumnya dia
sekolah di Amerika.” Tutur Adam mempromosikan diri adiknya ke Fatma. Arfan
hanya tersenyum. Sementara Fatma terhenyak seperti mendapatkan sebuah mukjizat.
“Hahh! Betul, Pak! Saya senang sekali berkenalan dengan Pak Arfan.
“Kenapa
Fatma? Sepertinya kamu kaget. Ada apa?” Tanya Adam penasaran ihwal laku
sekretarisnya yang di luar kebiasaan itu. “Oh tidak Pak! Saya kagum dengan
profesi dokter. Dulu selagi mahasiswa saya sebetulnya ingin kuliah kedokteran.
Tapi, karena biayanya mahal, saya memilih jurusan lain.” Kilah Fatma menutupi
rasa bahagianya tentang tanda-tanda harapan untuk mengobati adiknya. Maka pada
hari itu, ia tidak bergeser dari tempat duduknya semenitpun. Ia menunggu Arfan
keluar dari pintu ruang bosnya. Ia ingin jauh berkenalan dengan adik bosnya
itu. Dan ketika Arfan keluar, ia langsung menghimpirinya. “Maaf Pak Arfan!
Boleh saya minta pertolongan Bapak?” Tanya Fatma penuh harap.
Sebelum
menjawab Arfan terdiam sebentar menatapnya. Laki-laki berwajah ganteng dengan
kumis tipis itu sempat terpesona melihat wajah jelita Fatma. Matanya tak
berkedip memperhatikan wajah Fatma.
“Boleh
kan Pak!” Tanya Fatma kembali sambil menggoyang-goyang bahu Arfan.
“Oh
ya, oh ya ten...tu bisa! Kenapa tidak!” Balas Arfan tergagap. Ia salah tingkah,
sedangkan Fatma menundukkan wajahnya, tersipu malu.
“Begini
Pak.” Tatkala Fatma hendak bercerita, Arfan langsung menyelanya. “Tunggu!
Tunggu! Sebaiknya kita bicara besok saja di jam makan siang. Mau tidak?”
“Tentu
bisa, Pak!” Jawabnya tegas
Akhirnya
mereka membuat rencana bertemu di sebuah restoran untuk membicarakannya lebih
serius. Keesokan harinya, di sebuah restoran tradisional, Fatma menceritakan
ihwal adiknya yang buta itu dengan sedetil-detilnya. Ia menanyakan Arfan
tentang kemungkinan bisa atau tidaknya adiknya dioperasi hingga biaya yang
harus dia keluarkan bila nanti harus di operasi. Mendengar penuturan Fatma,
Arfan langsung bersedia membantunya dan langsung mengajak Fatma untuk
melihat-lihat klinik matanya.
Sesampainya
di rumah, Fatma langsung memberi kabar gembira itu kepada ibu dan adiknya.
Tentu saja, berita itu membuat Fulanah meluap-luap bahagia kegirangan. “Besok
kita langsung pergi ke klinik Pak Arfan untuk mengecek kondisi matamu Dik!”
Ujar Fatma.
Setelah
diperiksa, ternyata mata Fulanah masih memiliki kesempatan untuk melihat. “Oke!
Positif! Minggu depan kita adakan operasi di rumah sakit tempat saya praktek
secara gratis!” Kata Arfan memastikan. Mendengar keterangan itu, kontan saja, Fulanah
langsung melonjak-lonjak kegirangan, dan Fatma langsung memeluk adiknya.”
Dengan apa saya harus membalas budimu, Pak?” Tanya Fatma.
“Jangan
berkata begitu. Ini sudah menjadi kewajiban saya. Lagi pula kamu sudah saya
anggap saudara sendiri.”Jawabnya.
Seminggu
berlalu hingga detik-detik operasi Fulanah itu pun tiba. Namun sayang, ketika
operasi selesai, perban mata Fulanah tidak boleh dibuka dulu hingga seminggu
kemudian. “Fulanah untuk sementara di rawat di sini dulu.” Tutur dokter yang
sudah terlanjur jatuh hatu dengan Fatma itu. Selama menunggu masa pembukaan
perban mata Fulanah itulah, Fatma dan Arfan semakin dekat. Mereka sering
terlihat jalan dan makan berdua. Tak jarang, Arfan mengantar Fatma pulang ke
rumah dengan mobil pribadinya. Benih-benih cinta pun tumbuh mengambang di hati
mereka. Siapapun yang melihat mereka berdua, pastilah sangat iri. Begitulah
dengan Rahim, supir taksi yang sering mangkal di depan warung ibunya. Ia yang
naksir Fatma sejak lama sangat kelimpungan hingga ia jarang mangkal lagi di
depan warung Ibu Rukmin.
Seminggu
kemudian, hari H pembukaan perban yang melilit mata Fulanah pun tiba.
Perlahan-lahan, Arfan melepaskan perban yang menutupi mata Fulanah. Pada saat
ia membuka mata, tatapannya langsung melihat Fatma. Ia langsung memeluk
kakaknya itu sambil menangis dan berkata. “Terima kasih, Kak! Akhirnya, aku
bisa melihat wajah kakak yang cantik!” Fatma pun menangis terharu. Setelah itu,
mata Fulanah mencari ibunya dan mereka berpelukan. Lalu, mata Fulanah berpindah
ke arah Arfan. Pandangan pertama itu langsung membuat Fulanah terpana. Ia
langsung jatuh hati terhadap dokter muda itu. Berkali-kali ia mencium tangan
Arfan sebagai rasa terima kasihnya.
Waktu
berlalu dan hati Fulanah terlanjur kepicut dengan Arfan. Maka hari-hari setelah
operasi, ia pergi mengunjungi dokter Arfan di kliniknya. Kadang sendiri, kadang
berdua dengan kakaknya untuk mengecek kembali matanya. Saat-saat itulah, benih
cinta menyelimuti dirinya. Sebagai gadis bungsu yang lugu dan manja, Fulanah
acapkali menceritakan Arfan yang tampan dan baik hati kepada Fatma. Lebih dari
itu, ia pun meminta kakaknya untuk mengusahakan agar dia bisa menikah dengan
Arfan. Bagaimanapun itu caranya. Mendengar cerita Fulanah yang polos, hati
Fatma seperti disambar petir. Ia tak berani bicara. Ia hanya diam menanti
sebuah kata-kata meluncur dari bibirnya.
Ia
bingung sekali karena ia sudah terlibat asmara dengan Arfan. “Apakah aku harus
mengorbankan cintaku?” Bisik batinnya. Apalagi, hampir setiap hari, Fulanah
merajuk di depannya agar menolongnya guna mewujudkan impiannya itu. “Kalau
kakak tidak bisa menyatukan diriku dengan dokter Arfan, untuk apa aku melihat
di dunia ini? Untuk apa aku hidup di dunia ini lagi Kak?” Bila Fulanah sudah
merajuk-rajuk seperti itu, Fatma tampak bingung sekali. Ibundanya yang tahu
ihwal permintaan anak bungsunya itu pun dibuat bingung sebab ia tahu kalau
Fatma dan Arfan sudah saling mencintai. Hingga suatu saat ketika Arfan ingin
mengajak menikah, ia tak bisa memberi jawaban dengan pasti.
Ibunya
pun memberi usul kepada Fatma untuk tidak berkorban pada kasus yang ini. “Dia
adalah hidup dan masa depanmu! Biar soal Fulanah ibu yang akan menanganinya.”
Namun hati Fatma berkata lain. Ia tak tega menghancurkan mimpi dan harapan yang
tengah di idam-idamkan adiknya itu. Ia pun memutuskan untuk menikahkan adiknya
dengan dokter Arfan. Kebetulan sekali saat itu, Rahim supir taksi yang dulu
setia mengantarkannya pergi kemana-mana mangkal kembali di depan rumahnnya.
Setelah lama berbincang-bincang menanyakan kondisi Rahim. Fatma mengajak Rahim
ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu. Fatma yang tahu kalau Rahim menaruh
hati padanya sejak lama itu, meminta Rahim untuk melamar dan menikahinya
secepat mungkin. Meski Rahim bingung kenapa Fatma bisa mengambil keputusan
secepat itu, ia pun segera menikahi Fatma.
Kepada
Arfan yang kecewa, Fatma pun menjelaskan kondisinya yang teramat bingung dan
sulit. Ia pun menerangkan keadaan adiknya selengkap-lengkapnya. Karena itu, ia
meminta Arfan untuk menikahi adiknya. Semula Arfan bersikeras menolak dengan
alasan bahwa cinta itu tidak bisa dialihkan. Namun, karena Fatma sangat
menghiba-hiba, hati Arfan luluh. Dokter muda itu pun menikahi Fulanah. Hanya
saja, ia menekankan kepada Fatma bahwa Fatma adalah perempuan yang tetap ia
cintai.
Setelah
menikah, Arfan membawa Fulanah pindah ke rumahnya yang megah. Di rumah itulah, Fulanah
menjadi nyonya yang bisa melakukan apa saja. Ia suka belanja barang-barang
bagus dan menukar-nukar prabot rumah tangga seseuai keinginannya. Ia hidup
serba kecukupan dan sangat dimanjakan suaminya. Karena di rumahnya yang dulu,
ibunya tinggal sendiri dan suka kesepian, Fulanah pun meminta ibunya untuk
tinggal bersamanya. Tepat, ketika Ramadhan tiba, Bu Rukmin pindah ke rumahnya
yang megah itu. Kebetulan sepanjang bulan puasa, warungnya di tutup. Namun,
siapa sangka bila bulan yang penuh anugerah itu menjadi bulan yang sangat tidak
berkah bagi ibunya.
Pasalnya,
setelah pembantu Fulanah pulang ke kampung lantaran ada sanak familinya yang
sakit, ibunya sendiri diperlalukan layaknya seorang pembantu. Mulai dari
memasak, mencuci piring, pakaian, mengepel hingga menyiapkan makan dirinya
bersama suaminya. Kadangkala, karena usia ibunya yang sudah uzur itu, ibunya
suka batuk-batuk dan mengeluh tak enak badan bila harus melayani Fulanah yang
kelewatan. Tapi, Fulanah tidak mau tahu. Ia malah bilang kalau ibunya itu
pura-pura sakit. Walhasil, sebagai suami, Arfan pun sempat menasehati Fulanah
agar tidak terlalu kasar kepada ibunya sendiri. “Ibu sudah tua, jangan kau
paksakan untuk melakukan ini dan itu, Dik!” Tutur Arfan membela ibu mertuanya.
Namun
Fulanah tidak peduli. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa mengenaskan terjadi.
Dua hari sebelum lebaran, sebuah figuran dari kaca yang memuat lukisan
perkawinannya jatuh dan pecah berkeping-keping tatkala sedang dibersihkan
ibunya. Melihat kejadian itu, tentu saja Fulanah marah sekali. Ketika ibunya
hendak membersihkannya, ia marah dan menepis tangan ibunya. Malam harinya Fulanah
tak bisa tidur. Ia seperti kepanasan. Padahal, diluar hujan turun dengan
derasnya. Ia pun memanggil ibunya untuk mengambilkan air minum. Akan tetapi,
karena ibunya tengah shalat, ia terpaksa telat membawakan air minum itu. Fulanah
marah-marah, dan entah setan apa yang merasuki dirinya, ia malah mengusir
ibunya. “Kalau Ibu sudah tak mau lagi melayaniku, silahkan angkat kaki dari
rumah ini!” Katanya lantang dan ketus. Mendengar kata-kata anaknya yang begitu
pedas, ibunya menangis tersedu-sedu.
Sementara
suami Fulanah sendiri yang tengah tidur
pulas tidak mengetahui peristiwa itu. Sejam kemudian, akhirnya ibunya
memetuskan untuk pergi dan kembali ke rumahnya yang dahulu, tinggal bersama
Fatma dan suaminya. Sepucuk surat pamitan, ia letakkan di atas meja tamu
sebagai ucapan perpisahan. Tengah malam, ibu yang sakit-sakitan itu pulang
kerumah anaknya. Dengan berbekal uang yang dimilikinya, ia naik taksi sambil
air mata terus berurai di pelupuknya, “Ya Allah, kenapa anakku berubah seperti
itu?” Batinnya bertanya-tanya. Sesampainya di rumah, Fatma dan Rahim kaget
bukan kepalang. Ibunya mencerita ihwal dirinya selama tinggal di rumah Fulanah.
Kontan saja, Fatma marah-marah melihat kondisi ibunya diperlakukan demikian.
Malam itu juga, bersama suaminya, Fatma membawa ibunya ke klinik 24 jam
terdekat guna diperiksa kesehatannya. Setelah diperiksa dokter, ternyata ibunya
mengidap penyakit paru-paru basah dan harus segera di rawat di rumah sakit.
Fatma
dan suaminya terhenyak. Ia pun langsung membawa ibunya ke rumah sakit terdekat
untuk di rawat inap. Maka jadilah, sebelum lebaran tiba, mereka harus
menghabiskan waktu di rumah sakit, menunggu ibunda tercinta yang sedang
tergolek kesakitan di atas tempat tidur. Namun malang, Allah menghendaki lain.
Ketika takbir menggema di pagi pertama bulan Syawal, ibunya tak tertolong lagi.
Ia menghembuskan nafas terkahir ketika harus bahagia dengan anak-anaknya. Air
mata duka menyelimuti Fatma dan suaminya. Pagi itu juga, Fatma langsung
menghubungi Fulanah. Di pesawat telepon, sebelum ia kabari kematian ibunya,
sambil menangis, Fatma bertanya kepada Fulanah kenapa bisa segitu tega
memperlakukan ibunya. Ia gugat Fulanah yang membuat ibunya menderita paru-paru
basah sepulang dari rumahnya yang megah. Merasa terpojok, Fulanah mengelak dan
menolak mentah-mentah apa yang ditanyakan kakaknya itu. Ia malah menuding
kakaknya telah memfitnah dirinya. “Kakak jangan memfitnahku! Kakak ini iri hati
dengan kehidupanku!”
Di
saat Fulanah berbicara demikian, dengan tangis dan suara terbata-bata, Fatma
memberitahu bahwa ibunya baru saja meninggal dunia. Fulanah terdiam. Ia
terkejut dan ganggang telepon yang dipegangnya tersebut begitu saja. Tiba-tiba,
ia menangis sejadi-jadinya. Sebuah bayangan masa lalu yang kelam silih berganti
menghiasi benaknya. Ia ingat betapa zalim dan durhakanya ia kepada ibunya itu.
Secepat kilat ia pun bergegas untuk terakhir kalinya. Ia sangat menyesal dan
ingin meminta maaf sebelum ibunya dikebumikan. Kebetulan pagi itu, suaminya
sudah terlebih dahulu pergi masjid dekat rumahnya guna menunaikan shalat Id. Ia
pun terpaksa pergi sendiri dengan mengendarai mobil sedannya. Bagaikan orang
kesetanan. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya
di rumah ibunya, ia tidak menemui jenazah ibunya. Menurut salah seorang
tetangganya. Semua sudah berangkat ke tempat pemakaman yang tidak jauh dari
rumahnya. Dengan air mata yang terus berlinang, Fulanah berlari-lari menuju
tempat pemakaman. Namun sayang, Allah swt menentukan sebuah takdir baru
untuknya. Ketika ia berlari tergesa-gesa hendak memeluk jenazah ibundanya yang
akan dimakamkan itu, sebuah tragedi memilukan menimpa dirinya. Tiba-tiba, ia
jatuh tersungkur. Kedua matanya menembus ranting-ranting tajam pepohonan yang
berserakan diareal pemakaman. Air mata beningnya yang sejak tadi berguguran
menghiasi pipinya, segera berubah menjadi air mata darah yang mengalir tiada
hentinya. Baju dan kerudung yang dikenakannya pun berlumuran darah.
Fatma
yang melihat adegan itu langsung berteriak. Begitu pula dengan para pengiring
jenazah lainnya. Ia terkejut bukan main
dan langsung menolong Fulanah untuk memapah di dekat jenazah ibunya. Dengan
darah yang mengalir di mana-mana, ia mengutarakan penyesalan dan permohonan
maafnya ke ibunda yang sebentar lagi menghadap Illahi itu. Setelah itu, barulah
jenazah Bu Rukmin dimakamkan. Tidak berapa lama kemudian Arfan suami Fulanah
menyusulnya dan sangat terkejut serta heran atas peristiwa yang menimpa Fulanah.
Ia pun langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit. Sayang, setelah diperiksa
dokter, sebuah kabar pilu dan mengenaskan kembali terjadi, mata Fulanah tidak
bisa dioperasi lagi. Ia akan buta permanen seumur hidupnya.
Sejak
itulah, kehidupan Fulanah berubah. Meski ia telah menyadari perbuatannya. Ia
tetap tidak bisa tersenyum lagi. Pekerjaannya hanya duduk dan menyesali
perbuatannya yang begitu kelewat batas. Ia pun acapkali menangis sendiri.
Terutama sekali, bila suaminya pergi bekerja. Demikianlah kisah yang di tulis
berdasarkan penuturan seseorang. Kini Fulanah sudah pergi menghadap Illahi
namun tragedi yang menimpanya, semoga menjadi iktibar/pelajaran agar kita
senantiasa di jalan Allah swt. Aamiin. Wallahu’alam bilshawab.
C. Memutus
Tali Silaturahmi.
Pembaca
yang budiman. Secara bahasa, silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang terdiri
dari kata shillah dan ar-rahim. Kata shilah berakar dari washala-yashilu-wash(a)
washilatan(an), yang berarti menyambung atau menghimpun. Makanya, silaturahmi
menurut tindakan aktif menyambung atau menghimun tali hubungan kekerabatan yang
telah terputus. Rasulullah saw. Bersabda, “Al-Wash! (menyambung hubungan
persaudaraan) bukanlah orang yang membalas budi baik berupa hadiah atau
kunjungan sanak saudaranya, melainkan berusaha untuk menyambung atau menghimpun
kembali tali persaudaraan yang terputus.
Na,
berkaitan dengan terkabulnya sebuah doa, tali silaturahmi menjadi peranan
penting yang bermain di dalamnya. Bahkan, bagi yang memutuskan tali
silaturahmi, maka doa yang terpanjatkan akan diabaikan Allah, sekaligus tidak
akan mendatangkan keberkahan dalam hidup.
Pembaca
yang budiman. Berikut ini saya akan tuliskan sebuah kisah, Lelaki Yang
Tersungkur Di Liang Kubur Ibunya
Ibu
Fulanah 78 tahun, dikabarkan meninggal dunia. Ia meninggalkan tiga anak, tiga
menantu, dan delapan cucu. Suaminya terlebih dulu dipanggil Sang Khalik lima
tahun silam. Ibu Fulanah tinggal di sebuah desa di pesisir pantai. Ia meninggal
di rumahnya setelah sebelumnya mengeluh kesakitan di bagian perut. Pagi hari,
ketika orang baru terbangun untuk menuaikan shalat Shubuh, nenek tua itu
ditemukan tidak bernapas lagi. Anak perempuannya membangunkannya untuk shalat
Shubuh, tapi jasadnya sudah tidak bernyawa lagi. Saat itulah, Ibu Fulanah
diyakini telah wafat. Kabar itu pun kemudian terdengar seantero desa.
Ada
satu kisah di hari kemudian Ibu Fulanah, manakala jasadnya hendak dimasukkan ke
liang lahat, anaknya yang pertama, Fulan 40 tahun, tersungkur masuk ke dalam
liang lahat, di mana jasad Ibu Fulanah yang sudah kaku tak bernyawa terbaring
di tanah. Fulan tiba-tiba terpeleset dan masuk ke dalam liang lahat, dan
kepalnya mencium bagian kaki jasad Ibu Fulanah. Di dalam liang kubur sudah ada
tiga orang yang masih memegangi jasad Ibu Fulanah dan meletakkanya di bagian
tanah. Ketika salah satu diantara tiga orang itu hendak mengumandangkan adzan,
tiba-tiba Fulan yang berdiri di bagian tepi liang kubur tersungkur jatuh dan
masuk ke liang kubur. Sebagian tubuhnya menindihi salah satu diantara orang
yang bertugas di bawah liang kubur.
Namun,
anehnya, posisi tersungkurnya Fulan tepat di bagian kaki jasad Ibu Fulanah.
Kepalanya menyentuh bagian kaki jasad ibunya. Seperti posisi mencium kaki.
Lebih aneh lagi, ketika Fulan hendak bangkit dari posisinya yang sedikit
menindih orang itu, ia mengalami kesulitan. Kakinya sedikit terkilir. Akhirnya
orang yang menghadiri pemakaman Ibu Fulanah sedikit riuh atas peristiwa itu.
“Aduh,
kakiku terkilir! Sulit digerakkan,” Teriaknya.
“Sabar
Pak, saya coba bantu bapak berdiri,” Kata seorang pria di sampingnya.
Liang
kubur yang sempit itu dimasuki lima jasad manusia, yakni jasad Ibu Fulanah, Fulan,
dan tiga petugas kubur. Karena sempit, maka dua orang petugas kubur itu keluar
dari liang kubur. Sementara yang satunya membantu Fulan yang kakinya terkilir,
dan mengangkatnya ke atas permukaan tanah dengan dibantu banyak orang.
Peristiwa aneh itu masih cukup terekam di benak sebagian orang dikampung itu.
Aneh, karena peristiwa itu terjadi tiba-tiba dan sedikit membuat gaduh suasana
pemakaman. Tapi, tak beberapa lama kemudian, setelah dipastikan kaki Fulan
tidak mengalami cedera serius, proses pemakaman pun dilanjutkan. Peristiwa aneh
ini oleh sebagian orang yang menyaksikannya dipahami secara beragam.
Ada
yang tidak begitu serius menanggapinya, lantaran hal itu bisa jadi karena
kebetulan saja. Tapi, ada juga warga yang mengaitkan peristiwa itu dengan
hubungan antara Ibu Fulanah dan Fulan yang tak harmonis semasa hidupnya,
terutama di akhir-akhir masa hidup Ibu Fulanah. Bahkan, sudah lebih dari tiga
tahun Fulan tidak pernah menemui almarhumah Ibu Fulanah lantaran kesal mengenai
pembagian harta warisan. Inilah muara masalahnya.
Fulan
adalah satu dari tiga anak Ibu Fulanah yang memiliki hubungan yang kurang baik
dengan saudara-saudaranya. Tak hanya itu. Hubungannya dengan orang tuanya juga
tidak harmonis, baik pada almarhum ayahnya maupun pada almarhumah Ibu Fulanah.
Sewaktu ayahnya masih hidup. Fulan juga sering bertengkar. Fulan dikenal
memiliki sifat dan karakter keras kepala. Apa yang dipahaminya benar, maka ia
tidak mau mengalah. Termasuk kepada kedua orangtuanya sendiri. Dengan
saudara-saudaranya juga ia dikenal kurang perhatian. Ia bahkan pernah memarahi
adiknya ke depan umum.
Di
kalangan masyarakat, Fulan dikenal sebagai orang yang ramah. Tapi di tengah
keluarganya, ia dikenal kurang perhatian, bahkan cenderung sering menyakiti
ibunya. Ia memiliki sifat tempramental. Menurut salah seorang warga, Fulan
pernah memukul ibunya. Kejadiannya sudah lama sekali. Kala itu, Fulan dan
ibunya berselisih pendapat mengenai permodalan dagang. Tapi, lagi-lagi, itu
kejadiannya sudah lama, jadi sulit dicari persoalan apa yang mereka ributkan.
Yang terbaru, Fulan pernah diketahui warga bertengkar dengan almarhumah Ibu Fulanah
mengenai pembagian warisan. Fulan menilai ibunya tidak adil. Sebuah rumah yang
kini ditempati kakak perempuannya dianggapnya adalah bagian miliknya.
Rumah
itu ditempati adik perempuan dan adik iparnya beserta anak-anaknya. Ini yang
membuat iri Fulan karena, ia sendiri menempati rumah yang sempit yang tak jauh
dari rumah tersebut. Tetapi, almarhumah Ibu Fulanah sendiri tidak mau
memberikan rumah itu ke Fulan, karena di samping ia sendiri masih menempati
rumah itu beserta anak perempuan, menantu dan cucunya, rumah itu rencanya
hendak dijual oleh Fulan. Ini yang tidak diizinkan oleh Ibu Fulanah.
“Pokoknya, rumah
ini milikku, Bu. Ini bagianku,” Tegas Fulan, kala itu.
“Kalau rumah ini
milik kamu, terus adikmu mau tinggal di mana?” Tanya Ibunya.
“Tinggal saja
dengan mertuanya.”
“Tidak bisa.
Kasihan. Di rumah mertuanya juga ada banyak saudara-saudaranya.”
“Tapi,
ini milikku. Bu” Sentak Fulan.
“Terus
ibu nanti bagaimana? Tinggal di mana?” Tanya ibunya.
“Ibu
tinggal saja di rumahku. Rumah ini mau aku jual,” Tandas Fulan dengan nada
keras.
“Tidak
boleh. Rumah ini tidak boleh dijual. Rumah ini peninggalan Bapakmu. Pamali
(Kualat) kalau rumah ini kamu jual,” Tegas ibunya.
“Ah,
persetan dengan itu semua, Bu! Pokoknya ini adalah miliku. Mau dijual atau
diapakan juga terserah aku.” Ucapnya, sambil mendorong badan ibunya yang sudah
renta itu. Ibunya sempat mau jatuh dari kursi, karena dorongan dari Fulan.
“Astaghfirullah,
Dedi. Kamu sudah keterlaluan. Kamu kualat! Aku ini ibumu. Tidak pantas kamu
bersikap seperti itu,” Ujar Ibu Fulanah, sedikit merintih kesakitan pada
pundaknya karena didorong anaknya.
Setelah
itu, tanpa berpikir panjang, Fulan langsung pergi dan meninggalkan ibunya. Ia
bergegas keluar dari rumah itu dengan muka masam dan kesal. Sejak kejadian
itulah, Fulan tidak pernah lagi datang ke rumah ibunya. Bahkan, pada hari
Lebaran pun, ia tidak bersalaman dan meminta maaf pada ibunya. Meski rumahnya
tak jauh, tapi ia tidak mengunjungi ibunya. Hanya istri dan anak-anaknya saja
yang mendatangi ibunya pada hari Lebaran. Peristiwa itu masih terekam di benak
salah seorang warganya. Pak Sarwan (Nama samaran 56 tahun), menyayangkan sikap Fulan.
Menurutnya, seharusnya Fulan tidak bersikap kasar pada ibunya. Persoalan beda
pendapat dan pandangan soal harta warisan seharusnya tidak sampai membuat seorang
anak bersikap kasar pada ibunya.
Ia
sendiri pernah menasihati Fulan sewaktu Ibu Fulanah masih hidup. “Dedi, kamu
tidak boleh bersikap seperti itu pada Ibumu. Kamu bisa membicarakan hal yang
seperti itu dengan baik-baik,” Kata Pak Sarwan, menasehati.
“Ah,
Pak Sarwan kayak tidak tahu sifat Ibuku saja. Dia dari dulu pilih kasih sama
anak-anaknya,” Jawab Fulan.
“Tapi,
menghormati Ibu itu bukannya wajib.”
“Taoi,
Pak, membela hak juga wajib tandas Fulan.
“”Apa
yang kamu bela itu bisa dikompromikan. Kamu berhadapan dengan seorang ibu,
bukan dengan kompeni Belanda,” Kata Pak Sarwan, menceritakan.
Namun,
ya sia-sia saja apa yang diucapkan Pak Sarwan. Fulan tetap tidak mengaku salah.
Ia mengaku benar saja. Hingga akhirnya, di hari setelah kematian ibunya,
peristiwa aneh itu terjadi. Fulan jatuh tersungkur dan mendium kaki ibunya yang
sudah tidak bernyawa. Sehari setelah kejadian itu, Pak Sarwan pun berkata
kepada Fulan.
“Dedi,
apa kamu tidak memahami apa yang tersirat dari kejadian kemarin?” Tanya Pak
Sarwan, lirih.
“Iya,
Pak, aku mulai mengerti,” Kata Fulan sambil meneteskan air mata.
“Alhamdulillah,
kalau kamu mengerti,“ Kata Pak Sarwan.
“Saya
menyesal, Pak. Belum sempat meminta maaf kepada Ibu Saya,“ Tuturnya.
“Kamu
harus banyak istighfar, dan mendoakan ibumu,” Kata Pak Sarwan menasehati.
Sejak
dinasihati Pak Sarwan itu, Fulan rajin menziarahi makam ibunya. Ia sekarang
sudah bertaubat dan merasa bersalah atas apa yang dilakukannya dulu. Ia telah
menyakiti hati kedua orangtuanya. Namun begitu, ia berkeyakinan bahwa Allah
Maha Pengampun, dan akan senantiasa menerima taubat hamba-hambanya yang
benar-benar bertaubat.
D. Mendikte
Allah.
dalam
berdoa kepada Allah, tentu sangatlah tidak patut manakala kita meminta dengan
cara mendikte-Nya. Misalnya seorang ibu atau kita semua meminta mobil, meminta
rezeki yang banyak, dan semua yang menurut nafsunya diminta, tentu hal demikian
ini harus menjadi catatan tersendiri bagi seorang ibu.
Meskipun
memang benar bahwa Allah Maha Pengabul Doa, Maha Penyayang, dan Maha Segalanya.
Akan tetapi, mendikte Allah dengan cara demikian ini tidak dibenarkan, sebab
Allah lebih mengetahui apa yang dibutuhkan makhluknya, dan mungkin itu lebih
baik menurut Allah. Hal ini senada dengan firman Allah yang berbunyi: “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu
bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl, 16: 74)
Dalam
hal ini secara implisit mencoba menjelaskan bahwa sebagai makhluk tidaklah kita
diperbolehkan untuk mendiktenya. Coba kalau kita minta diberikan rezeki berupa
uang dibulan ini dengan nominal katakanlah 30 juta, sedangkan Allah tidak
melihat manfaat jika diturunkan rezeki itu, maka Allah tentu menundanya
terlebih dahulu. Dan bisa jadi menggantinya dengan hal lain yang tidak
diketahui. Katakanlah hadirnya kesehatan bagi badan kita, kesempatan hidup yang
lebih baik, anak yang sehat, atau kehadiran anak itu sendiri, sehatnya
keluarga, keselamatan diri dan keluarga, status sosial yang lebih baik, dan
sebagainya.
Pembaca
yang budiman berikut ini ada sebuah kisah, yang berjudul Wasiat Istri Durhaka
Kemiskinan
bisa mendekatkan sang hamba kepada sang Khalik, namun bisa juga menjauhkannya
atau menyesali diri karena terlahir sebagia seorang miskin. Yang lebih ektrim
lagi, seorang hamba menghujat Sang Maha Adil yang telah menggariskan takdir
tidak menyenangkan dalam segala sisi kehidupannya. Na’udzubilah min dzalik!
Kisah berikut ini salah satu contohnya. Fulanah, ada seorang perempuan yang
selalu merasa tidak puas dengan keadaan rumah tangganya. Diperjalanan rumah
tangganya yang menjejak angka lima belas tahun, ia selalu menghiasi dari dengan
penyesalan, menyesali dirinya yang hanya bersuamikan lelaki PNS golongan bawah
yang gajinya tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga, menyesali segala
kekurangan di sana-sini, dan menyesali dirinya “Mengapa ia tak seperti Sarwin
(Nama samaran), yang bersuamikan seorang pengusaha sukses, tak seperti Nining
(Nama samaran), yang suaminya seorang businessman, atau seperti Yuyun (Nama
samaran), yang suaminya seorang direktur sebuah perusahaan besar.
Dimata
Fulanah, Sarwin, Nining, dan Yuyun adalah perempuan-perempuan beruntung. Mereka
memiliki suami-suami hebat yang mampu memberikan segala kemewahan yang mereka
mau. Sementara dirinya? Jangankan rumah mewah ataupun barang-barang branded,
makan dengan ayam goreng saja tidak bisa setiap hari. Lain dengan Sarwin dan
yang lainnya. Apa yang mereka mau, dengan sangat mudah terwujud; liburan dan
belanja ke luar negeri, dan segalanya yang berbau luar negeri. Tapi Fulanah?
“Sungguh,
saya menyesal bersuamikan seperti kamu, Mas Fulan,” Ujar Fulanah suatu ketika.
Sang
suami tertegun memandang istrinya.
“Namamu
saja yang mentereng, Fulan! Tapi rezekimu seret!” Tambah Fulanah menggerutu.
“Kapan kamu bisa jaya seperti namamu itu? Dari tahun ke tahun kamu membawa
istri dan anak dalam kesederhanaan yang membosankan. Rumah kontrakan, makan apa
adanya dan tak ada barang berharga yang melingkari leher ini, tangan ini dan
jari ini. Saya bosan dengan semua ini!”
Fulan
hanya tertegun mendengar celoteh menyakitkan istrinya, dan hal itu menjadi
sarapan paginya setiap hari. Tak ada segelas kopi, apalagi sepotong kue donat
yang menemani pagi saat ia mau berangkat kerja. Tak ada senyum yang
mengiringinya meninggalkan rumah menuju tempat kerja. Yang ada hanyalah
penyesalan sang istri, bahkan ancaman bahwa akan ada lelaki lain yang akan
memberi segala apa yang tidak ia dapatkan dari suami. Ancaman Fulanah memang
bukanlah isapan jempol belaka. Ia yang sudah jenuh hidup dalam kesederhanaan
mulai membuka diri, mencari jalan usaha untuk mengubah nasib.
Fulan
sendiri bingung, usaha apa yang akan dijalani istrinya dengan keterbatasan ilmu
yang ia punya? Apalagi tak ada modal yang dimilikinya sama sekali. “Jangan
meremehkan saya. Saya punya modal yang tidak kamu miliki,” Begitu ucap Fulanah
saat suaminya mempertanyakannya.
Fulan
memang lelaki yang tidak ingin mematahkan keinginan istrinya, apalagi ia sadar,
kalau dirinya tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk istrinya. Karena
itu, tak tercetus pertanyaan dari mana istrinya mendapatkan modal dan modal apa
yang ia dapatkan. Namun pertanyaan yang tak tercetus itu sudah dijawab dengan
gamblang oleh istrinya.
“Aku
masih punya wajah yang cantik. Itulah modalku. Jika perlu aku akan menjualnya
kepada lelaki yang mau memberikan segala yang kuinginkan!”
Fulan
tersentak. Tapi ia hanya bisa memandangi istrinya, tanpa bisa memprotes ucapan
itu. Sejauh itukah pemikiran istrinya? Batin Fulan bergemuruh.
“Kenapa
kamu memandangi saya seperti itu? Apa kamu tidak setuju dengan ucapanku
barusan?”
“Istighfar,
Fulanah,” Ucapan itu terucap pelan dari bibir Fulan, namun tanggapan yang
dilontarkan istrinya sungguh membuat jantung Fulan berdegub keras.
“Ada
dengan istighfar dapat mengubah kemiskinan ini?” Itu pertanyaan Fulanah yang
membuat Fulan tak berkutik.
Selanjutnya,
Fulanah begitu sibuk dengan keasyikannya sendiri. Ia tak lagi memikirkan rumah
tangganya, tak memikirkan dapurnya, juga tak memikirkan anak dan suaminya.
Hari-hari Fulanah bersolek. Keluar rumah semaunya dan pulang ke rumah seenaknya,
tengah malam atau bahkan pulang pagi. Bahkan tidak pulang pun telah menjadi hal
yang biasa. Perubahan drastis yang dilakukan Fulanah memang berdampak drastis
pula pada kehidupan rumah tangganya. Fulanah tidak lagi tinggal di rumah
kontrakan yang hanya sepetak, tapi mengontrak rumah yang terbilang besar dan
bagus. Tentunya dengan nilai kontrak yang jauh lebih besar dari rumah kontrakan
sebelumnya. Perabotan yang ada di dalam rumah kontrakkan barunya pun terbilang
bagus. Mulai dari TV, warna, kulkas dan juga telepon selular berkelas.
Fulan
memang ikut tinggal di dalam rumah kontrakan baru itu, tapi keberadaannya hanya
pelengkap dalam ruangan. Fulanah tak menganggap keberadaannya di situ. Bagi Fulanah,
Fulan bukan sesuatu yang dipentingkan, namun Fulanah tak melarang Fulan untuk
ikut menikmati jerih payahnya. Yang terpenting bagi Fulanah, janganlah
sekali-kali Fulan melarang semua langkah yang ditempuhnya.
“Saya
hanya sekedar mengingatkan, Fulanah. Ini agar kamu tidak melangkah terlalu
jauh,” Ucap Fulan suatu malam saat Fulanah pulang ke rumah dalam keadaan tidak
sebagaimana mestinya.
“Kalau
kamu tidak suka melihat saya seperti ini, lebih baik kamu kembali ke kontrakan
yang lama. Di sana kamu tak akan melihat saya seperti ini,” Tukas Fulanah
enteng.
Fulan
berusahan sabar. “Saya ini suamimu, Fulanah. Saya berhak meluruskan jalanmu.
Mengalihkan langkahmu dari jalan yang penuh dosa.”
Fulanah
tertawa. “Dosa?” Ujarnya mempertanyakan dengan tatapan sinis.” Kamu nikmati
saja usaha saya ini tanpa harus memikirkan dosa. Biarlah dosa-dosa itu menjadi
tanggungan saya.”
Fulan
tak kuasa menyanggah. Ia hanya berharap, suatu saat nanti istrinya akan
menemukah hidayah, sehingga ia kembali sebagia istri yang baik. Malam ini Fulanah
terlalu larut, Fulan terjaga karena bunyi pintu kama yang dibuka dengan kasar.
Ia terbangun dan menyaksikan istrinya yang sudah bersolek dengan wangi parfum
yang sukup kuat.
“Apa
yang ingin kamu lakukan pada malam selarut ini” Tanya Fulan setengah kantuk.
“Apa
urusanmu” Balik Fulanah.
Fulan
tak kuasa menjawab.
“Saya
mau menjadi seperti apa, kamu tak harus melarang. Kecuali kamu bisa menyulap
kehidupan saya menjadi seperti kehidupan Sarwin atau Yuyun.”
“Untuk
apa kehidupan mewah jika harus bergelimang dosa?”
“Kenapa
kamu peduli dengan dosa saya?
“Saya
perduli, karena dosamu akan terbawa mati.”
“Saya
tak takut mati,” Timpal Fulanah, kemudian dari mulutnya meluncur
kalimat-kalimat tentang kematian, tentang apa saja, bahkan sempat wasiat
kematian pun terlontar di bibirnya. Setelah itu Fulanah meninggalkan Fulan
dengan membanting pintu sangat kuat. Istri durhaka itu pergi di larut malam
meninggalkan suaminya.
Saat
pagi sudah merabah angka delapan. Fulanah belum juga kembali. Fulan mengira,
kalau hari ini istrinya tidak kembali ke rumah, seperti hari kemarin. Kiranya
dugaan Fulan benar. Fulanah tidak kembali ke rumah, bahkan untuk selamanya.
Yang datang ke rumah hanya saja Fulanah yang di antar tiga lelaki. Mereka
bilang menemukan Fulanah dalam keadaan tak sadar di sebuah rumah di jalan. Fulan
terpukul. Namun dirinya sadar. Inilah takdir itu. Setiap manusia telah digarisi
ajal masing-masing. Tinggallah kini Fulan harus mengurus jenazah sang istri.
Inilah
yang membuat Fulan bingung. Setiap ia memandang jenazah Fulanah, kalimat yang
pernah diucapkan Fulanah terngiang begitu mengerikan. Begini kalimatnya:
“Kalau
saya saya mati, saya wasiatkan kalau harta itu bukan untukmu! Dan kalau saya
mati, jangan kamu masukan jasad ini dalam keranda, tapi ikatlah kain kafan saya
dengan tali, dan tarik tubuh ini sampai ke lubang kubur! Ingat itu! Jangan
sampai tak kamu lakukan wasiat itu!”
Sekarang
apa yang harus dilakukan Fulan? Pergulatan batin antara pantas dan yang tidak
berkecamuk. Satu sisi Fulan ingin memakamkan istrinya dengan cara sewajarnya,
namun di sisi lain ia harus menjalankan wasiat istrinya. Itulah yang membuat Fulan
gamang.
Saat
kegamangan melampaui batas ketidakmampuan berfikir, akhirnya Fulan lebih
memilih memenuhi wasiat istrinya. Jenazah Fulanah ditarik dengan tali sampai ke
liang kubur. Na’udzubillah min zalik.
TENTANG PENULIS

Penulis bernama Jamaludin Rifai
lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis
berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang
bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis
dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di
Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil
menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada
tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski
masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia
novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi,
Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: YA ALLAH
MAAFIN KAMI BANYAK DOSA.
Penulis
dapat di hubungi melalui email :
jamaludinrifai442@gmail.com
No
HP: 085340008577
0 komentar:
Posting Komentar