WHAT'S NEW?
Loading...
JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I
YA ALLAH, MAAFIN KAMI BANYAK DOSA
(KISAH-KISAH INPIRASI, PELAJARAN, DAN MOTIVASI)

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeky dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. At- Tholaq: 2-3)







BUKU PERSEMBAHAN
                       
Saya Mengucapkan Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1.      Allah Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2.      Kedua Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah Hati.
3.      Keluarga Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4.      Teman-Teman Sekolahku Dari SD Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris Yang Tak Bisa Saya Sebut Satu Persatu.
5.      Buat Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6.      Orang-Orang Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.






KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, pemilik alam semesta. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw, para sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya sampai hari Kiamat.
 Dalam kehidupan sehari-hari masalah sangat akrab dalam kehidupan kita. Bentuknya bermacam-macam. Kehidupaan saat ini dipenuhi dengan  kebohongan,  buah  dari  pemikiran  negatif, pencariaan  kesalahan  orang  lain  yang  lebih  penting  dibanding  kesalahan  diri  sendiri. Setelah  waktu  yang  lama  ditempuh,  orang  akan  menemukan  kesadaraan  bahwa mereka  hidup  dalam  dunia  yang  negatif,  merekapun  tahu  mereka  harus  dapat  berubah secepat  mungkin.
Setiap manusia pasti pernah melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya mendapatkan dosa, sebab, dari dosa itulah Allah Ta’ala mengingatkan kita akan kelemahan umat manusia. Karena, Allah Ta’ala Maha Adil, Dia juga menciptakan obat penawar dosa tersebut.
“Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat penawar bagi kalian (umat manusia). Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa yang diperbuat, sedangkan obatnya adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumuddin: 1/410)
“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (istighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 135)
Rasulullah Saw. Pernah bersabda:
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan memuaskan kalian dan akan menggantinya dengan kaum pendosa lalu, mereka memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar YA ALLAH MAAFIN KAMI BANYAK DOSA, ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan YA ALLAH MAAFIN KAMI BANYAK DOSA, ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.

Penulis
Jamaludin Rifai, S.Pd.I













DAFTAR ISI

BUKU PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PERJALANAN. 1
SUMPAH IBU, PEMUDA DURHAKA KECELAKAAN MAUT. 8
VIRUS PENGHALANG DOA IBU. 14
TUHAN KOK DI SURUH-SURUH. 50
KISAH IBUNDA. 53
KELOMPOK 99.  56
TETANGGA. 60
YA TUHAN, MAAF KAMI SIBUK. 62
TUHAN, HARAP MAKLUMI KAMI. 66
EMPAT ISTRI. 68
CINTA ORANG TUA. 70
MEJA KAKEK. 72
SINGA, TIKUS, ULAR, DAN SARANG LEBAH. 74
ROTI DAN BATU. 76
KAKI DAN SEPATU. 80
NUTRISI JIWA. 82
HATI YANG PENUH SYUKUR. 84
MENDAPAT HIDAYAH DALAM KUBURAN. 86
ANUGERAH SELEPAS MENINGGALKAN MAKSIAT. 93
PENYESALAN FULAN. 98
PERUBAHAN SIFAT FULAN. 102
KEBERHASILAN SEORANG ANAK NAKAL. 106
SECERCAH CAHAYA DI BALIK DHUHA. 109
WAHAI  RABBKU. 115
MAKNA ISTIGHFAR. 116
MENGAPA HARUS BERISTIGHFAR? 117
HARI-HARI YANG TAK AKAN KEMBALI. 119
ANGIN PRAHARA. 123
IBU DARI ANAK-ANAK KITA. 128
SEMOGA ALLAH MERAHMATINYA. 133
KAMI DAN KAMU. 135
KETEGUHAN. 139
MEMBANGUNKAN HATI YANG TERTIDUR. 143
AIR MATA KEGEMBIRAAN. 146
YANG PENTING MULAI SAJA. 151.
PENUTUP. 157
MASA MENDATANG. 161
PEMBAWA MINYAK WANGI. 164
UNTUK MEREKA YANG MEMILIKI HATI. 169
DOA. 172
PERINGATAN. 175
KEBAHAGIAAN. 181
AKHIR HAYAT PENGHAFAL
AL-QUR’AN DAN PENYANYI 187
DAFTAR PUSTAKA. 193

TENTANG PENULIS. 194


VIRUS PENGHALANG DOA IBU
Pembaca yang budiman.  Doa merupakan sarana yang paling efektif untuk menyegarkan jasmani dan menenangkan jiwa. Mendekatkan diri kepada ilahi dan membersihkan kotoran dalam hati. Namun, masalahnya doa kebanyakan dari diri kita saat ini belum mengikuti anjuran yang sebenarnya. Alhasil, doa terpanjat dan menjadi sia-sia tak berguna.
Barangkali itu yang menyebabkan kebanyakan dari kita tidak lagi tertarik untuk mengkaji manfaat doa, kecuali sebatas rutinitas tanpa makna. Padahal Allah sudah berjanji, sudah pasti akan diberikan kepada orang yang berdoa, Allah berfirman: “ Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan saya perkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min, 40: 60)
Dalam ayat ini, Allah sendiri yang meminta kepada kita (manusia) untuk meminta kepada-Nya. Ini membuktikan bahwa Allah senang sekali bila hamba-Nya meminta. Lalu apa gerangan yang menjadi penyebab terhalangnya doa-doa ibu, sampai Allah enggan untuk mengabulkannya?
Berikut ini adalah beberapa sebab yang mengakibatkan umur seorang anak manusia tidak berkah. Kita akan bahas satu persatu masalah ini.
A.    Tidak Punya Attitude.
Salah satu yang yang menyebabkan terhijabnya doa adalah tidak adanya attidude (sikap) yang baik. Attitude sebenarnya tidak berlaku dalam berdoa saja, banyak hal yang membutuhkan attitude. Misalnya, menuntut ilmu, dalam bekerja, dan sebagainya. Dalam bekerja sendiri, jika ada CEO, kira-kira apa yang menjadi kreteria klelakiwan untuk bisa bergabung atau bekerja di perusahaannya? Tentu banyak yang sepakat jika klelakiwannya merupakan orang-orang yang punya sikap dan berperilaku positif (baik), punya kemauan keras untuk maju. Ketika ada problem, ia tidak mudah patah semangat, loyal, ramah, penuh semangat, cerdas, dan sebagainya. Karena tidak mungkin yang bisa masuk bekerja itu orang-orang yang malas, pemarah, dan hal-hal yang negatif yang bisa membawa keuntungan bagi perusahaan.
Dari attitude ini, banyak corperate yang menilai bahwa attitude memiliki nilai yang lebih tinggi mudah menghantarkan seseorang menuju kepada kesuksesan dibandingkan dengan hardwork, knowlage, skill, dan luck. Pasalnya kesemua kata tersebut (hardwork, knowlage, skill, dan luck), ternyata attitude adalah kata yang memiliki persentase tertinggi, sampai mencapai 100 % di banding kata yang lainnya.
Sekarang, mari kita reflesikan dalam sebuah kisah yang menunjukkan pentingnya attitude ini. Alkisah, ada seorang dosen muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di universitas ternama di Indonesia. Dosen muda ini adalah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan yang baik. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Saat mengajar satu mata kuliah, tampak para mahasiswanya sedang antusias berdiskusi mengenai hukum nikah mut’ah (kontrak).
Diskusi yang dilaksanakan oleh mahasiswanya berlangsung dengan hangat. Namun karena waktu yang terbatas, maka diskusi harus diakhiri. Berapa mahasiswa yang kurang puas, meminta waktu tambahan agar bisa berdiskusi lebih lanjut. Namun, permintaan mahasiswa tersebut tidak di respon oleh sang dosen, karena disampaikan dengan kurang baik.
Akan tetapi dosen muda ini hanya senyum melihat kelakuan kurang ajar dari mahasiswanya. Ia melihat bahwa mahasiswanya ini belum mengerti peranan attitude. Di tengah-tengah mahasiswanya, dosen tersebut berdiri dan memanggil mahasiswa tersebut.
“Sekarang jawab pertanyaanku,” pinta sang dosen. “Kira-kira siapa yang lebih jahat antara saya atau Firaun?”
“Ya pasti Firaun, Pak.”
“Apakah kau juga mengetahui bagaimana saat Tuhan mengutus Musa dan saudaranya Harun kepada Firaun?
“Ya, saya tahu.”
“Bukankah Tuhan berpesan kepada keduanya: maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia takut.” Ucap sang dosen.
“Itu adalah Firaun yang penuh dengan kesombongan dan kedzaliman, Mas. Lah sementara engkau berbicara kepada saya dengan begitu. Saya melaksanakan kewajiban-kewajiban pada Tuhan. Tak menyekutukan-Nya, sedang engkau menasehati serta meminta waktu kepadaku dengan nada keras dan kasar, jauh dari attitude yang baik.” Imbuh sang dosen.
Mahasiswa itu kemudian terdiam dan menyadari kesalahannya. Ia pun meminta maaf atas sikapnya yang tidak menyenangkan.
Pembaca yang budiman, coba kita amati dengan baik kisah di atas. Kalau saja sang mahasiswa tersebut meminta tambahan waktu dengan cara yang baik, tentu besar kemungkinannya sang dosen akan dengan senang hati memberikan tambahan waktu. Lalu bagaimana dengan doa?  Jawabannya, sama. Karena kepada manusia saja kita, pasti ada tata cara atau tata krama. Seorang ibu dituntut untuk memiliki attitude yang baik jika ingin doanya dikabulkan oleh Allah. Lalu attitudenya-nya?
Beberapa pakar sepakat menyatakan bahwa attitude dalam berdoa adalah dengan memuji Allah, kemudian bertawasul kepada Nabi Muhammad, menengadahkan kedua tangan. Halus bahasa dalam doa yang dipanjatkan, dan lain sebagainya. Ambil contoh, jika saja ibu saja doanya tidak disertakan tawasul kepada Nabi, pasti akan dihijab oleh Allah swt. Hal ini sebagaimana pernah diketengahkan dalam sebuah riwayat yang mengatakan,
“Imam Ja’far Shadiq berkata: Setiap doa yang tidak dimulai dengan tidak menyebut nama Muhammad, maka doa itu terputus. (Ushul Al-Kaffi, Jilid 2 hal. 293)
Senada pesan di atas, Imam Musa Kazhim mengatakan, “Siapa saja yang berdoa tanpa memuji Allah swt, dan tanpa mengucapkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, ia seperti sedang memanah tanpa tali busur.
Oleh sebab itu, seorang ibu yang doanya tidak juga diterima oleh Allah, ada baiknya memeriksa attitude-nya terlebih dahulu. Barangkali itu yang menjadi sebab terhijabnya doa dan tak didenger oleh Allah.

B.     Mata Hati.
Hati merupakan tempat bermuaranya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Nah, kalau hati adalah tempat bermuaranya kebaikan dan keburukan, sudah barang tentu ia akan mempengaruhi segalanya. Dalam hal ini, hati yang kotor akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah r.a. berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.
Pembaca yang budiman, begitu penting kualitas hati seseorang dalam menghantarkan doa kepada Allah swt, kalau sampai hati ini mati, tentu doa tidak akan bisa naik di dengar oleh Allah. Alm KH. Zainudin MZ mengatakan, “Hatimu mati. Dari hati yang mati, channel tidak sambung, tidak ada getaran, tidak ada strum kepada Allah. Jadi pantas jika doa tidak dikabulkan, permohonan tidak dipenuhi, doa tidak terjawab, karena hatimu mati.”
Pembaca yang budiman, betapa ironis jika selama ini berdoa, meminta sesuatu tak juga diberikan oleh Allah, ternyata tidak dikabul lantaran hatinya mati. Jika doa tidak dikabul oleh Allah,, itu artinya Dia tidak lagi memperhatikan, tidak ladi menyanangi hamba-Nya.
Pembaca yang budiman, berikut ada sebuah kisah yang saya akan tuliskan dengan judul : Buta Mata Buta Hati
Di depan serambi rumahnya yang asri, ia duduk menunggu Magrib, menanti sang suami pulang kerja. Hampir setiap senja, ia menghabiskan waktu seperti itu. Bertemankan biji tasbih di tangan dan secangkir teh manis hangat, gundah dan gelisahnya belum juga reda, sebuah tragedi masa silam yang pahit masih memburu hidupnya. Peristiwa tragis yang menghantui dirinya itu pernah terjadi. Fulanah 21 tahun, sejak kecil ia memang sudah tidak bisa melihat. Tepatnya, ketika ia baru berusia sepuluh bulan. Sakit panas yang tinggi membuat matanya buta. Saat itu, Rukmin (Nama samaran 50 tahun), ibunya yang hanya seorang penjual nasi di pinggir jalan terlambat membawanya ke dokter. Ayahnya meninggal sejak ia masih dalam kandungan. Sementara Fatma (Nama samaran 24 tahun), kakak semata wayangnya yang belum lama menyelesaikan studi S1-nya di sebuah perguruan tinggi swasta pun belum juga mendapatkan pekerjaan.
Walhasil, ibunyalah yang mencari nafkah untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Berbekal uang peninggalan suaminya, ibunya membuka warung makan yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak bisa melihat, Fulanah tidak ingin merepotkan ibunya yang sedang bekerja. Ia sudah terbiasa mengusahakan apapun yang dia mau itu dengan tangan sebagai matanya. Memang, ada saat-saat tatkala ia harus mengutuk-ngutuk dirinya. Terlebih ketika ia tidak bisa meraih sesuatu yang sangat dibutuhkannya. Sementara ibunya yang dibutuhkan sibuk di warung melayani pembeli, dan kakaknya yang dinanti belum juga pulang dari mencari pekerjaan.
Ia merasa tidak ada seorang pun yang peduli dengannya. Ia merasa Allah tidak adil dengan dirinya. Ia menyesal dilahirkan di dunia yang tidak bisa dilihatnya ini. Kalau sudah begitu, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Hingga suatu senja, kira-kira arah jam menunjukkan angka 4, sehabis mendengarkan radio, ia sangat dahaga dan pergi ke dapur hendak mengambil minum. Namun apa daya, ketika tangannya mengedap-ngedap mencari gelas yang terletak di meja makan, seekor kucing menyelinap di kakinya. Ia kaget dan tangannya menghalau gelas hingga jatuh ke lantai. Ia teriak dan menangis sejadi-jadinya. Mendengar teriak Fulanah, ibunya terpaksa meninggalkan, warung dan berlari-lari pulang ke ruamh. “Ya Allah! Ada apa Nak? Kamu tidak apa-apa, sayang?” Kembali Rukmin menanyakan sambil memeluk Fulanah.
“Kenapa tidak ada orang yang mau memperhatikan diriku? Kenapa tidak ada yang mau mengobati diriku? Kenapa Bu? Kenapa?” Jawab Fulanah meledak-ledak dengan mata berlinang. Sang ibu pun terdiam. Air matanya diam-diam mengalir. “Ibu belum punya cukup uang Nak. hasil warung hanya bisa menutupi biaya hidup kita sehari-hari. Sementara biaya operasi matamu itu sangat besar.” Mendengar jawaban ibunya, Fulanah menyalahkan Fatma, kakaknya. “Kenapa kakak belum juga bekerja untuk mengobatiku, Bu? Kakak hanya mementingkan hidupnya sendiri! Kakak egois, Bu! Kakak tidak mau memperdulikan diriku, Bu!”
“Jangan bicara seperti itu, Nak! Kakak memang belum dapat kerjaan.”
“Ah, Ibu tidak menyayangiku! Ibu hanya sayang kepada Kakak saja. Ibu hanya mementingkan hidup Kakak saja. Aku seperti anak tiri Ibu!” Fulanah semakin gusar. Ia menggerutu sambil menangis.
Saat dialog pilu itu terjadi, kebetulan sekali sang kakak yang dibicarakan baru pulang dari cari kerja. Tak sengaja, ia mendengar protes dan keluhan adiknya itu. Ia pun meneteskan air mata dan langsung memeluk adiknya seraya berkata. “Jangan bicara seperti itu Dik! Kakak sayang kamu! Tidak ada sedikitpun pikiran ingin menyia-nyiakan kamu, Dik! Kakak berjanji akan mengobati matamu bila nanti mendapat pekerjaan!” Senja itu pun menjadi hari yang sangat mengharukan bagi seorang ibu dan kedua putrinya. Selang berapa hari setelah peristiwa senja itu, akhirnya sebuah kabar gembira datang. Surat panggilan wawancara kerja dari sebuah perusahaan swasta menyambangi rumahnya. Dengan diantar Rahim (Nama samaran 30 tahun), supir taksi yang selama ini mangkal di depan rumahnya dan sudah menjadi langganannya, ia pergi memenuhi panggilan wawancara kerja tersebut.
Alhamdulilah, karena Fatma memiliki wajah cantik, penampilan yang menarik dan otak yang cemerlang, ia pun akhirnya diterima sebagai sekertaris di perusahaan tersebut. Hari itu menjadi hari bersejarah dan paling bahagia bagi Fatma. Sesampainya di rumah, ibu dan adiknya begitu senang mendengar kabar baik yang kelak merubah kehidupan mereka bertiga. Terutama sekali si bungsu Fulanah. “Kakak harus janji mengumpulkan uang buat ngobatin mataku. Aku ingin cepat-cepat melihat wajah Ibu. Aku ingin melihat wajah Kakak yang cantik, aku ingin melihat dunia.” Tuturnya bersemangat sambil memegang tangan kakaknya. Fatma terharu. Ia pun tak kuasa membendung air matanya.
Baru sebulan bekerja, Fatma sudah menunjukkan hasil yang baik. Cepat, disiplin dan bertanggung jawab. Hal inilah yang membuat Adam (Nama samaran 40 tahun), bos diperusahaan itu ingin terus mempertahankannya sebagai klelakiwan tetap. Fatma sendiri bukan main gembiranya mengetahui keputusan bosnya tersebut. Bahkan, yang lebih mengembirakan dirinya adalah ketika ia berkesempatan mengenal adik bosnya yang kelak merubah segala kehidupannya. Arfan (Nama samaran 30 tahun). Saati itu, ketika Arfan tengah mengunjungi kakaknya, ia diperkenalkan dengan wanita cantik jelita  itu. “Fatma, perkenalkan! Ini adik bungsuku.”
“Fatma Pak!” Jawab Fatma tegas seraya menjabat tangan Arfan.
“Arfan!”
“Adiku ini seorang dokter spesialis mata. Dia baru praktek setahun ini! Sebelumnya dia sekolah di Amerika.” Tutur Adam mempromosikan diri adiknya ke Fatma. Arfan hanya tersenyum. Sementara Fatma terhenyak seperti mendapatkan sebuah mukjizat. “Hahh! Betul, Pak! Saya senang sekali berkenalan dengan Pak Arfan.
“Kenapa Fatma? Sepertinya kamu kaget. Ada apa?” Tanya Adam penasaran ihwal laku sekretarisnya yang di luar kebiasaan itu. “Oh tidak Pak! Saya kagum dengan profesi dokter. Dulu selagi mahasiswa saya sebetulnya ingin kuliah kedokteran. Tapi, karena biayanya mahal, saya memilih jurusan lain.” Kilah Fatma menutupi rasa bahagianya tentang tanda-tanda harapan untuk mengobati adiknya. Maka pada hari itu, ia tidak bergeser dari tempat duduknya semenitpun. Ia menunggu Arfan keluar dari pintu ruang bosnya. Ia ingin jauh berkenalan dengan adik bosnya itu. Dan ketika Arfan keluar, ia langsung menghimpirinya. “Maaf Pak Arfan! Boleh saya minta pertolongan Bapak?” Tanya Fatma penuh harap.
Sebelum menjawab Arfan terdiam sebentar menatapnya. Laki-laki berwajah ganteng dengan kumis tipis itu sempat terpesona melihat wajah jelita Fatma. Matanya tak berkedip memperhatikan wajah Fatma.
“Boleh kan Pak!” Tanya Fatma kembali sambil menggoyang-goyang bahu Arfan.
“Oh ya, oh ya ten...tu bisa! Kenapa tidak!” Balas Arfan tergagap. Ia salah tingkah, sedangkan Fatma menundukkan wajahnya, tersipu malu.
“Begini Pak.” Tatkala Fatma hendak bercerita, Arfan langsung menyelanya. “Tunggu! Tunggu! Sebaiknya kita bicara besok saja di jam makan siang. Mau tidak?”
“Tentu bisa, Pak!” Jawabnya tegas
Akhirnya mereka membuat rencana bertemu di sebuah restoran untuk membicarakannya lebih serius. Keesokan harinya, di sebuah restoran tradisional, Fatma menceritakan ihwal adiknya yang buta itu dengan sedetil-detilnya. Ia menanyakan Arfan tentang kemungkinan bisa atau tidaknya adiknya dioperasi hingga biaya yang harus dia keluarkan bila nanti harus di operasi. Mendengar penuturan Fatma, Arfan langsung bersedia membantunya dan langsung mengajak Fatma untuk melihat-lihat klinik matanya.
Sesampainya di rumah, Fatma langsung memberi kabar gembira itu kepada ibu dan adiknya. Tentu saja, berita itu membuat Fulanah meluap-luap bahagia kegirangan. “Besok kita langsung pergi ke klinik Pak Arfan untuk mengecek kondisi matamu Dik!” Ujar Fatma.
Setelah diperiksa, ternyata mata Fulanah masih memiliki kesempatan untuk melihat. “Oke! Positif! Minggu depan kita adakan operasi di rumah sakit tempat saya praktek secara gratis!” Kata Arfan memastikan. Mendengar keterangan itu, kontan saja, Fulanah langsung melonjak-lonjak kegirangan, dan Fatma langsung memeluk adiknya.” Dengan apa saya harus membalas budimu, Pak?” Tanya Fatma.
“Jangan berkata begitu. Ini sudah menjadi kewajiban saya. Lagi pula kamu sudah saya anggap saudara sendiri.”Jawabnya.
Seminggu berlalu hingga detik-detik operasi Fulanah itu pun tiba. Namun sayang, ketika operasi selesai, perban mata Fulanah tidak boleh dibuka dulu hingga seminggu kemudian. “Fulanah untuk sementara di rawat di sini dulu.” Tutur dokter yang sudah terlanjur jatuh hatu dengan Fatma itu. Selama menunggu masa pembukaan perban mata Fulanah itulah, Fatma dan Arfan semakin dekat. Mereka sering terlihat jalan dan makan berdua. Tak jarang, Arfan mengantar Fatma pulang ke rumah dengan mobil pribadinya. Benih-benih cinta pun tumbuh mengambang di hati mereka. Siapapun yang melihat mereka berdua, pastilah sangat iri. Begitulah dengan Rahim, supir taksi yang sering mangkal di depan warung ibunya. Ia yang naksir Fatma sejak lama sangat kelimpungan hingga ia jarang mangkal lagi di depan warung Ibu Rukmin.
Seminggu kemudian, hari H pembukaan perban yang melilit mata Fulanah pun tiba. Perlahan-lahan, Arfan melepaskan perban yang menutupi mata Fulanah. Pada saat ia membuka mata, tatapannya langsung melihat Fatma. Ia langsung memeluk kakaknya itu sambil menangis dan berkata. “Terima kasih, Kak! Akhirnya, aku bisa melihat wajah kakak yang cantik!” Fatma pun menangis terharu. Setelah itu, mata Fulanah mencari ibunya dan mereka berpelukan. Lalu, mata Fulanah berpindah ke arah Arfan. Pandangan pertama itu langsung membuat Fulanah terpana. Ia langsung jatuh hati terhadap dokter muda itu. Berkali-kali ia mencium tangan Arfan sebagai rasa terima kasihnya.
Waktu berlalu dan hati Fulanah terlanjur kepicut dengan Arfan. Maka hari-hari setelah operasi, ia pergi mengunjungi dokter Arfan di kliniknya. Kadang sendiri, kadang berdua dengan kakaknya untuk mengecek kembali matanya. Saat-saat itulah, benih cinta menyelimuti dirinya. Sebagai gadis bungsu yang lugu dan manja, Fulanah acapkali menceritakan Arfan yang tampan dan baik hati kepada Fatma. Lebih dari itu, ia pun meminta kakaknya untuk mengusahakan agar dia bisa menikah dengan Arfan. Bagaimanapun itu caranya. Mendengar cerita Fulanah yang polos, hati Fatma seperti disambar petir. Ia tak berani bicara. Ia hanya diam menanti sebuah kata-kata meluncur dari bibirnya.
Ia bingung sekali karena ia sudah terlibat asmara dengan Arfan. “Apakah aku harus mengorbankan cintaku?” Bisik batinnya. Apalagi, hampir setiap hari, Fulanah merajuk di depannya agar menolongnya guna mewujudkan impiannya itu. “Kalau kakak tidak bisa menyatukan diriku dengan dokter Arfan, untuk apa aku melihat di dunia ini? Untuk apa aku hidup di dunia ini lagi Kak?” Bila Fulanah sudah merajuk-rajuk seperti itu, Fatma tampak bingung sekali. Ibundanya yang tahu ihwal permintaan anak bungsunya itu pun dibuat bingung sebab ia tahu kalau Fatma dan Arfan sudah saling mencintai. Hingga suatu saat ketika Arfan ingin mengajak menikah, ia tak bisa memberi jawaban dengan pasti.
Ibunya pun memberi usul kepada Fatma untuk tidak berkorban pada kasus yang ini. “Dia adalah hidup dan masa depanmu! Biar soal Fulanah ibu yang akan menanganinya.” Namun hati Fatma berkata lain. Ia tak tega menghancurkan mimpi dan harapan yang tengah di idam-idamkan adiknya itu. Ia pun memutuskan untuk menikahkan adiknya dengan dokter Arfan. Kebetulan sekali saat itu, Rahim supir taksi yang dulu setia mengantarkannya pergi kemana-mana mangkal kembali di depan rumahnnya. Setelah lama berbincang-bincang menanyakan kondisi Rahim. Fatma mengajak Rahim ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu. Fatma yang tahu kalau Rahim menaruh hati padanya sejak lama itu, meminta Rahim untuk melamar dan menikahinya secepat mungkin. Meski Rahim bingung kenapa Fatma bisa mengambil keputusan secepat itu, ia pun segera menikahi Fatma.
Kepada Arfan yang kecewa, Fatma pun menjelaskan kondisinya yang teramat bingung dan sulit. Ia pun menerangkan keadaan adiknya selengkap-lengkapnya. Karena itu, ia meminta Arfan untuk menikahi adiknya. Semula Arfan bersikeras menolak dengan alasan bahwa cinta itu tidak bisa dialihkan. Namun, karena Fatma sangat menghiba-hiba, hati Arfan luluh. Dokter muda itu pun menikahi Fulanah. Hanya saja, ia menekankan kepada Fatma bahwa Fatma adalah perempuan yang tetap ia cintai.
Setelah menikah, Arfan membawa Fulanah pindah ke rumahnya yang megah. Di rumah itulah, Fulanah menjadi nyonya yang bisa melakukan apa saja. Ia suka belanja barang-barang bagus dan menukar-nukar prabot rumah tangga seseuai keinginannya. Ia hidup serba kecukupan dan sangat dimanjakan suaminya. Karena di rumahnya yang dulu, ibunya tinggal sendiri dan suka kesepian, Fulanah pun meminta ibunya untuk tinggal bersamanya. Tepat, ketika Ramadhan tiba, Bu Rukmin pindah ke rumahnya yang megah itu. Kebetulan sepanjang bulan puasa, warungnya di tutup. Namun, siapa sangka bila bulan yang penuh anugerah itu menjadi bulan yang sangat tidak berkah bagi ibunya.
Pasalnya, setelah pembantu Fulanah pulang ke kampung lantaran ada sanak familinya yang sakit, ibunya sendiri diperlalukan layaknya seorang pembantu. Mulai dari memasak, mencuci piring, pakaian, mengepel hingga menyiapkan makan dirinya bersama suaminya. Kadangkala, karena usia ibunya yang sudah uzur itu, ibunya suka batuk-batuk dan mengeluh tak enak badan bila harus melayani Fulanah yang kelewatan. Tapi, Fulanah tidak mau tahu. Ia malah bilang kalau ibunya itu pura-pura sakit. Walhasil, sebagai suami, Arfan pun sempat menasehati Fulanah agar tidak terlalu kasar kepada ibunya sendiri. “Ibu sudah tua, jangan kau paksakan untuk melakukan ini dan itu, Dik!” Tutur Arfan membela ibu mertuanya.
Namun Fulanah tidak peduli. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa mengenaskan terjadi. Dua hari sebelum lebaran, sebuah figuran dari kaca yang memuat lukisan perkawinannya jatuh dan pecah berkeping-keping tatkala sedang dibersihkan ibunya. Melihat kejadian itu, tentu saja Fulanah marah sekali. Ketika ibunya hendak membersihkannya, ia marah dan menepis tangan ibunya. Malam harinya Fulanah tak bisa tidur. Ia seperti kepanasan. Padahal, diluar hujan turun dengan derasnya. Ia pun memanggil ibunya untuk mengambilkan air minum. Akan tetapi, karena ibunya tengah shalat, ia terpaksa telat membawakan air minum itu. Fulanah marah-marah, dan entah setan apa yang merasuki dirinya, ia malah mengusir ibunya. “Kalau Ibu sudah tak mau lagi melayaniku, silahkan angkat kaki dari rumah ini!” Katanya lantang dan ketus. Mendengar kata-kata anaknya yang begitu pedas, ibunya menangis tersedu-sedu.
Sementara suami Fulanah sendiri  yang tengah tidur pulas tidak mengetahui peristiwa itu. Sejam kemudian, akhirnya ibunya memetuskan untuk pergi dan kembali ke rumahnya yang dahulu, tinggal bersama Fatma dan suaminya. Sepucuk surat pamitan, ia letakkan di atas meja tamu sebagai ucapan perpisahan. Tengah malam, ibu yang sakit-sakitan itu pulang kerumah anaknya. Dengan berbekal uang yang dimilikinya, ia naik taksi sambil air mata terus berurai di pelupuknya, “Ya Allah, kenapa anakku berubah seperti itu?” Batinnya bertanya-tanya. Sesampainya di rumah, Fatma dan Rahim kaget bukan kepalang. Ibunya mencerita ihwal dirinya selama tinggal di rumah Fulanah. Kontan saja, Fatma marah-marah melihat kondisi ibunya diperlakukan demikian. Malam itu juga, bersama suaminya, Fatma membawa ibunya ke klinik 24 jam terdekat guna diperiksa kesehatannya. Setelah diperiksa dokter, ternyata ibunya mengidap penyakit paru-paru basah dan harus segera di rawat di rumah sakit.
Fatma dan suaminya terhenyak. Ia pun langsung membawa ibunya ke rumah sakit terdekat untuk di rawat inap. Maka jadilah, sebelum lebaran tiba, mereka harus menghabiskan waktu di rumah sakit, menunggu ibunda tercinta yang sedang tergolek kesakitan di atas tempat tidur. Namun malang, Allah menghendaki lain. Ketika takbir menggema di pagi pertama bulan Syawal, ibunya tak tertolong lagi. Ia menghembuskan nafas terkahir ketika harus bahagia dengan anak-anaknya. Air mata duka menyelimuti Fatma dan suaminya. Pagi itu juga, Fatma langsung menghubungi Fulanah. Di pesawat telepon, sebelum ia kabari kematian ibunya, sambil menangis, Fatma bertanya kepada Fulanah kenapa bisa segitu tega memperlakukan ibunya. Ia gugat Fulanah yang membuat ibunya menderita paru-paru basah sepulang dari rumahnya yang megah. Merasa terpojok, Fulanah mengelak dan menolak mentah-mentah apa yang ditanyakan kakaknya itu. Ia malah menuding kakaknya telah memfitnah dirinya. “Kakak jangan memfitnahku! Kakak ini iri hati dengan kehidupanku!”
Di saat Fulanah berbicara demikian, dengan tangis dan suara terbata-bata, Fatma memberitahu bahwa ibunya baru saja meninggal dunia. Fulanah terdiam. Ia terkejut dan ganggang telepon yang dipegangnya tersebut begitu saja. Tiba-tiba, ia menangis sejadi-jadinya. Sebuah bayangan masa lalu yang kelam silih berganti menghiasi benaknya. Ia ingat betapa zalim dan durhakanya ia kepada ibunya itu. Secepat kilat ia pun bergegas untuk terakhir kalinya. Ia sangat menyesal dan ingin meminta maaf sebelum ibunya dikebumikan. Kebetulan pagi itu, suaminya sudah terlebih dahulu pergi masjid dekat rumahnya guna menunaikan shalat Id. Ia pun terpaksa pergi sendiri dengan mengendarai mobil sedannya. Bagaikan orang kesetanan. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah ibunya, ia tidak menemui jenazah ibunya. Menurut salah seorang tetangganya. Semua sudah berangkat ke tempat pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya. Dengan air mata yang terus berlinang, Fulanah berlari-lari menuju tempat pemakaman. Namun sayang, Allah swt menentukan sebuah takdir baru untuknya. Ketika ia berlari tergesa-gesa hendak memeluk jenazah ibundanya yang akan dimakamkan itu, sebuah tragedi memilukan menimpa dirinya. Tiba-tiba, ia jatuh tersungkur. Kedua matanya menembus ranting-ranting tajam pepohonan yang berserakan diareal pemakaman. Air mata beningnya yang sejak tadi berguguran menghiasi pipinya, segera berubah menjadi air mata darah yang mengalir tiada hentinya. Baju dan kerudung yang dikenakannya pun berlumuran darah.
Fatma yang melihat adegan itu langsung berteriak. Begitu pula dengan para pengiring jenazah lainnya. Ia terkejut  bukan main dan langsung menolong Fulanah untuk memapah di dekat jenazah ibunya. Dengan darah yang mengalir di mana-mana, ia mengutarakan penyesalan dan permohonan maafnya ke ibunda yang sebentar lagi menghadap Illahi itu. Setelah itu, barulah jenazah Bu Rukmin dimakamkan. Tidak berapa lama kemudian Arfan suami Fulanah menyusulnya dan sangat terkejut serta heran atas peristiwa yang menimpa Fulanah. Ia pun langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit. Sayang, setelah diperiksa dokter, sebuah kabar pilu dan mengenaskan kembali terjadi, mata Fulanah tidak bisa dioperasi lagi. Ia akan buta permanen seumur hidupnya.
Sejak itulah, kehidupan Fulanah berubah. Meski ia telah menyadari perbuatannya. Ia tetap tidak bisa tersenyum lagi. Pekerjaannya hanya duduk dan menyesali perbuatannya yang begitu kelewat batas. Ia pun acapkali menangis sendiri. Terutama sekali, bila suaminya pergi bekerja. Demikianlah kisah yang di tulis berdasarkan penuturan seseorang. Kini Fulanah sudah pergi menghadap Illahi namun tragedi yang menimpanya, semoga menjadi iktibar/pelajaran agar kita senantiasa di jalan Allah swt. Aamiin. Wallahu’alam bilshawab.
C.     Memutus Tali Silaturahmi.
Pembaca yang budiman. Secara bahasa, silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari kata shillah dan ar-rahim. Kata shilah berakar dari washala-yashilu-wash(a) washilatan(an), yang berarti menyambung atau menghimpun. Makanya, silaturahmi menurut tindakan aktif menyambung atau menghimun tali hubungan kekerabatan yang telah terputus. Rasulullah saw. Bersabda, “Al-Wash! (menyambung hubungan persaudaraan) bukanlah orang yang membalas budi baik berupa hadiah atau kunjungan sanak saudaranya, melainkan berusaha untuk menyambung atau menghimpun kembali tali persaudaraan yang terputus.
Na, berkaitan dengan terkabulnya sebuah doa, tali silaturahmi menjadi peranan penting yang bermain di dalamnya. Bahkan, bagi yang memutuskan tali silaturahmi, maka doa yang terpanjatkan akan diabaikan Allah, sekaligus tidak akan mendatangkan keberkahan dalam hidup.


Pembaca yang budiman. Berikut ini saya akan tuliskan sebuah kisah, Lelaki Yang Tersungkur Di Liang Kubur Ibunya
Ibu Fulanah 78 tahun, dikabarkan meninggal dunia. Ia meninggalkan tiga anak, tiga menantu, dan delapan cucu. Suaminya terlebih dulu dipanggil Sang Khalik lima tahun silam. Ibu Fulanah tinggal di sebuah desa di pesisir pantai. Ia meninggal di rumahnya setelah sebelumnya mengeluh kesakitan di bagian perut. Pagi hari, ketika orang baru terbangun untuk menuaikan shalat Shubuh, nenek tua itu ditemukan tidak bernapas lagi. Anak perempuannya membangunkannya untuk shalat Shubuh, tapi jasadnya sudah tidak bernyawa lagi. Saat itulah, Ibu Fulanah diyakini telah wafat. Kabar itu pun kemudian terdengar seantero desa.
Ada satu kisah di hari kemudian Ibu Fulanah, manakala jasadnya hendak dimasukkan ke liang lahat, anaknya yang pertama, Fulan 40 tahun, tersungkur masuk ke dalam liang lahat, di mana jasad Ibu Fulanah yang sudah kaku tak bernyawa terbaring di tanah. Fulan tiba-tiba terpeleset dan masuk ke dalam liang lahat, dan kepalnya mencium bagian kaki jasad Ibu Fulanah. Di dalam liang kubur sudah ada tiga orang yang masih memegangi jasad Ibu Fulanah dan meletakkanya di bagian tanah. Ketika salah satu diantara tiga orang itu hendak mengumandangkan adzan, tiba-tiba Fulan yang berdiri di bagian tepi liang kubur tersungkur jatuh dan masuk ke liang kubur. Sebagian tubuhnya menindihi salah satu diantara orang yang bertugas di bawah liang kubur.
Namun, anehnya, posisi tersungkurnya Fulan tepat di bagian kaki jasad Ibu Fulanah. Kepalanya menyentuh bagian kaki jasad ibunya. Seperti posisi mencium kaki. Lebih aneh lagi, ketika Fulan hendak bangkit dari posisinya yang sedikit menindih orang itu, ia mengalami kesulitan. Kakinya sedikit terkilir. Akhirnya orang yang menghadiri pemakaman Ibu Fulanah sedikit riuh atas peristiwa itu.
“Aduh, kakiku terkilir! Sulit digerakkan,” Teriaknya.
“Sabar Pak, saya coba bantu bapak berdiri,” Kata seorang pria di sampingnya.
Liang kubur yang sempit itu dimasuki lima jasad manusia, yakni jasad Ibu Fulanah, Fulan, dan tiga petugas kubur. Karena sempit, maka dua orang petugas kubur itu keluar dari liang kubur. Sementara yang satunya membantu Fulan yang kakinya terkilir, dan mengangkatnya ke atas permukaan tanah dengan dibantu banyak orang. Peristiwa aneh itu masih cukup terekam di benak sebagian orang dikampung itu. Aneh, karena peristiwa itu terjadi tiba-tiba dan sedikit membuat gaduh suasana pemakaman. Tapi, tak beberapa lama kemudian, setelah dipastikan kaki Fulan tidak mengalami cedera serius, proses pemakaman pun dilanjutkan. Peristiwa aneh ini oleh sebagian orang yang menyaksikannya dipahami secara beragam.
Ada yang tidak begitu serius menanggapinya, lantaran hal itu bisa jadi karena kebetulan saja. Tapi, ada juga warga yang mengaitkan peristiwa itu dengan hubungan antara Ibu Fulanah dan Fulan yang tak harmonis semasa hidupnya, terutama di akhir-akhir masa hidup Ibu Fulanah. Bahkan, sudah lebih dari tiga tahun Fulan tidak pernah menemui almarhumah Ibu Fulanah lantaran kesal mengenai pembagian harta warisan. Inilah muara masalahnya.
Fulan adalah satu dari tiga anak Ibu Fulanah yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan saudara-saudaranya. Tak hanya itu. Hubungannya dengan orang tuanya juga tidak harmonis, baik pada almarhum ayahnya maupun pada almarhumah Ibu Fulanah. Sewaktu ayahnya masih hidup. Fulan juga sering bertengkar. Fulan dikenal memiliki sifat dan karakter keras kepala. Apa yang dipahaminya benar, maka ia tidak mau mengalah. Termasuk kepada kedua orangtuanya sendiri. Dengan saudara-saudaranya juga ia dikenal kurang perhatian. Ia bahkan pernah memarahi adiknya ke depan umum.
Di kalangan masyarakat, Fulan dikenal sebagai orang yang ramah. Tapi di tengah keluarganya, ia dikenal kurang perhatian, bahkan cenderung sering menyakiti ibunya. Ia memiliki sifat tempramental. Menurut salah seorang warga, Fulan pernah memukul ibunya. Kejadiannya sudah lama sekali. Kala itu, Fulan dan ibunya berselisih pendapat mengenai permodalan dagang. Tapi, lagi-lagi, itu kejadiannya sudah lama, jadi sulit dicari persoalan apa yang mereka ributkan. Yang terbaru, Fulan pernah diketahui warga bertengkar dengan almarhumah Ibu Fulanah mengenai pembagian warisan. Fulan menilai ibunya tidak adil. Sebuah rumah yang kini ditempati kakak perempuannya dianggapnya adalah bagian miliknya.
Rumah itu ditempati adik perempuan dan adik iparnya beserta anak-anaknya. Ini yang membuat iri Fulan karena, ia sendiri menempati rumah yang sempit yang tak jauh dari rumah tersebut. Tetapi, almarhumah Ibu Fulanah sendiri tidak mau memberikan rumah itu ke Fulan, karena di samping ia sendiri masih menempati rumah itu beserta anak perempuan, menantu dan cucunya, rumah itu rencanya hendak dijual oleh Fulan. Ini yang tidak diizinkan oleh Ibu Fulanah.
“Pokoknya, rumah ini milikku, Bu. Ini bagianku,” Tegas Fulan, kala itu.
“Kalau rumah ini milik kamu, terus adikmu mau tinggal di mana?” Tanya Ibunya.
“Tinggal saja dengan mertuanya.”
“Tidak bisa. Kasihan. Di rumah mertuanya juga ada banyak saudara-saudaranya.”
“Tapi, ini milikku. Bu” Sentak Fulan.
“Terus ibu nanti bagaimana? Tinggal di mana?” Tanya ibunya.
“Ibu tinggal saja di rumahku. Rumah ini mau aku jual,” Tandas Fulan dengan nada keras.
“Tidak boleh. Rumah ini tidak boleh dijual. Rumah ini peninggalan Bapakmu. Pamali (Kualat) kalau rumah ini kamu jual,” Tegas ibunya.
“Ah, persetan dengan itu semua, Bu! Pokoknya ini adalah miliku. Mau dijual atau diapakan juga terserah aku.” Ucapnya, sambil mendorong badan ibunya yang sudah renta itu. Ibunya sempat mau jatuh dari kursi, karena dorongan dari Fulan.
“Astaghfirullah, Dedi. Kamu sudah keterlaluan. Kamu kualat! Aku ini ibumu. Tidak pantas kamu bersikap seperti itu,” Ujar Ibu Fulanah, sedikit merintih kesakitan pada pundaknya karena didorong anaknya.
Setelah itu, tanpa berpikir panjang, Fulan langsung pergi dan meninggalkan ibunya. Ia bergegas keluar dari rumah itu dengan muka masam dan kesal. Sejak kejadian itulah, Fulan tidak pernah lagi datang ke rumah ibunya. Bahkan, pada hari Lebaran pun, ia tidak bersalaman dan meminta maaf pada ibunya. Meski rumahnya tak jauh, tapi ia tidak mengunjungi ibunya. Hanya istri dan anak-anaknya saja yang mendatangi ibunya pada hari Lebaran. Peristiwa itu masih terekam di benak salah seorang warganya. Pak Sarwan (Nama samaran 56 tahun), menyayangkan sikap Fulan. Menurutnya, seharusnya Fulan tidak bersikap kasar pada ibunya. Persoalan beda pendapat dan pandangan soal harta warisan seharusnya tidak sampai membuat seorang anak bersikap kasar pada ibunya.
Ia sendiri pernah menasihati Fulan sewaktu Ibu Fulanah masih hidup. “Dedi, kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada Ibumu. Kamu bisa membicarakan hal yang seperti itu dengan baik-baik,” Kata Pak Sarwan, menasehati.
“Ah, Pak Sarwan kayak tidak tahu sifat Ibuku saja. Dia dari dulu pilih kasih sama anak-anaknya,” Jawab Fulan.
“Tapi, menghormati Ibu itu bukannya wajib.”
“Taoi, Pak, membela hak juga wajib tandas Fulan.
“”Apa yang kamu bela itu bisa dikompromikan. Kamu berhadapan dengan seorang ibu, bukan dengan kompeni Belanda,” Kata Pak Sarwan, menceritakan.
Namun, ya sia-sia saja apa yang diucapkan Pak Sarwan. Fulan tetap tidak mengaku salah. Ia mengaku benar saja. Hingga akhirnya, di hari setelah kematian ibunya, peristiwa aneh itu terjadi. Fulan jatuh tersungkur dan mendium kaki ibunya yang sudah tidak bernyawa. Sehari setelah kejadian itu, Pak Sarwan pun berkata kepada Fulan.
“Dedi, apa kamu tidak memahami apa yang tersirat dari kejadian kemarin?” Tanya Pak Sarwan, lirih.
“Iya, Pak, aku mulai mengerti,” Kata Fulan sambil meneteskan air mata.
“Alhamdulillah, kalau kamu mengerti,“ Kata Pak Sarwan.
“Saya menyesal, Pak. Belum sempat meminta maaf kepada Ibu Saya,“ Tuturnya.
“Kamu harus banyak istighfar, dan mendoakan ibumu,” Kata Pak Sarwan menasehati.
Sejak dinasihati Pak Sarwan itu, Fulan rajin menziarahi makam ibunya. Ia sekarang sudah bertaubat dan merasa bersalah atas apa yang dilakukannya dulu. Ia telah menyakiti hati kedua orangtuanya. Namun begitu, ia berkeyakinan bahwa Allah Maha Pengampun, dan akan senantiasa menerima taubat hamba-hambanya yang benar-benar bertaubat.
D.    Mendikte Allah.
dalam berdoa kepada Allah, tentu sangatlah tidak patut manakala kita meminta dengan cara mendikte-Nya. Misalnya seorang ibu atau kita semua meminta mobil, meminta rezeki yang banyak, dan semua yang menurut nafsunya diminta, tentu hal demikian ini harus menjadi catatan tersendiri bagi seorang ibu.
Meskipun memang benar bahwa Allah Maha Pengabul Doa, Maha Penyayang, dan Maha Segalanya. Akan tetapi, mendikte Allah dengan cara demikian ini tidak dibenarkan, sebab Allah lebih mengetahui apa yang dibutuhkan makhluknya, dan mungkin itu lebih baik menurut Allah. Hal ini senada dengan firman Allah yang berbunyi: “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl, 16: 74)
Dalam hal ini secara implisit mencoba menjelaskan bahwa sebagai makhluk tidaklah kita diperbolehkan untuk mendiktenya. Coba kalau kita minta diberikan rezeki berupa uang dibulan ini dengan nominal katakanlah 30 juta, sedangkan Allah tidak melihat manfaat jika diturunkan rezeki itu, maka Allah tentu menundanya terlebih dahulu. Dan bisa jadi menggantinya dengan hal lain yang tidak diketahui. Katakanlah hadirnya kesehatan bagi badan kita, kesempatan hidup yang lebih baik, anak yang sehat, atau kehadiran anak itu sendiri, sehatnya keluarga, keselamatan diri dan keluarga, status sosial yang lebih baik, dan sebagainya.
Pembaca yang budiman berikut ini ada sebuah kisah, yang berjudul Wasiat Istri Durhaka
Kemiskinan bisa mendekatkan sang hamba kepada sang Khalik, namun bisa juga menjauhkannya atau menyesali diri karena terlahir sebagia seorang miskin. Yang lebih ektrim lagi, seorang hamba menghujat Sang Maha Adil yang telah menggariskan takdir tidak menyenangkan dalam segala sisi kehidupannya. Na’udzubilah min dzalik! Kisah berikut ini salah satu contohnya. Fulanah, ada seorang perempuan yang selalu merasa tidak puas dengan keadaan rumah tangganya. Diperjalanan rumah tangganya yang menjejak angka lima belas tahun, ia selalu menghiasi dari dengan penyesalan, menyesali dirinya yang hanya bersuamikan lelaki PNS golongan bawah yang gajinya tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga, menyesali segala kekurangan di sana-sini, dan menyesali dirinya “Mengapa ia tak seperti Sarwin (Nama samaran), yang bersuamikan seorang pengusaha sukses, tak seperti Nining (Nama samaran), yang suaminya seorang businessman, atau seperti Yuyun (Nama samaran), yang suaminya seorang direktur sebuah perusahaan besar.
Dimata Fulanah, Sarwin, Nining, dan Yuyun adalah perempuan-perempuan beruntung. Mereka memiliki suami-suami hebat yang mampu memberikan segala kemewahan yang mereka mau. Sementara dirinya? Jangankan rumah mewah ataupun barang-barang branded, makan dengan ayam goreng saja tidak bisa setiap hari. Lain dengan Sarwin dan yang lainnya. Apa yang mereka mau, dengan sangat mudah terwujud; liburan dan belanja ke luar negeri, dan segalanya yang berbau luar negeri. Tapi Fulanah?
“Sungguh, saya menyesal bersuamikan seperti kamu, Mas Fulan,” Ujar Fulanah suatu ketika.
Sang suami tertegun memandang istrinya.
“Namamu saja yang mentereng, Fulan! Tapi rezekimu seret!” Tambah Fulanah menggerutu. “Kapan kamu bisa jaya seperti namamu itu? Dari tahun ke tahun kamu membawa istri dan anak dalam kesederhanaan yang membosankan. Rumah kontrakan, makan apa adanya dan tak ada barang berharga yang melingkari leher ini, tangan ini dan jari ini. Saya bosan dengan semua ini!”
Fulan hanya tertegun mendengar celoteh menyakitkan istrinya, dan hal itu menjadi sarapan paginya setiap hari. Tak ada segelas kopi, apalagi sepotong kue donat yang menemani pagi saat ia mau berangkat kerja. Tak ada senyum yang mengiringinya meninggalkan rumah menuju tempat kerja. Yang ada hanyalah penyesalan sang istri, bahkan ancaman bahwa akan ada lelaki lain yang akan memberi segala apa yang tidak ia dapatkan dari suami. Ancaman Fulanah memang bukanlah isapan jempol belaka. Ia yang sudah jenuh hidup dalam kesederhanaan mulai membuka diri, mencari jalan usaha untuk mengubah nasib.
Fulan sendiri bingung, usaha apa yang akan dijalani istrinya dengan keterbatasan ilmu yang ia punya? Apalagi tak ada modal yang dimilikinya sama sekali. “Jangan meremehkan saya. Saya punya modal yang tidak kamu miliki,” Begitu ucap Fulanah saat suaminya mempertanyakannya.
Fulan memang lelaki yang tidak ingin mematahkan keinginan istrinya, apalagi ia sadar, kalau dirinya tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk istrinya. Karena itu, tak tercetus pertanyaan dari mana istrinya mendapatkan modal dan modal apa yang ia dapatkan. Namun pertanyaan yang tak tercetus itu sudah dijawab dengan gamblang oleh istrinya.
“Aku masih punya wajah yang cantik. Itulah modalku. Jika perlu aku akan menjualnya kepada lelaki yang mau memberikan segala yang kuinginkan!”
Fulan tersentak. Tapi ia hanya bisa memandangi istrinya, tanpa bisa memprotes ucapan itu. Sejauh itukah pemikiran istrinya? Batin Fulan bergemuruh.
“Kenapa kamu memandangi saya seperti itu? Apa kamu tidak setuju dengan ucapanku barusan?”
“Istighfar, Fulanah,” Ucapan itu terucap pelan dari bibir Fulan, namun tanggapan yang dilontarkan istrinya sungguh membuat jantung Fulan berdegub keras.
“Ada dengan istighfar dapat mengubah kemiskinan ini?” Itu pertanyaan Fulanah yang membuat Fulan tak berkutik.
Selanjutnya, Fulanah begitu sibuk dengan keasyikannya sendiri. Ia tak lagi memikirkan rumah tangganya, tak memikirkan dapurnya, juga tak memikirkan anak dan suaminya. Hari-hari Fulanah bersolek. Keluar rumah semaunya dan pulang ke rumah seenaknya, tengah malam atau bahkan pulang pagi. Bahkan tidak pulang pun telah menjadi hal yang biasa. Perubahan drastis yang dilakukan Fulanah memang berdampak drastis pula pada kehidupan rumah tangganya. Fulanah tidak lagi tinggal di rumah kontrakan yang hanya sepetak, tapi mengontrak rumah yang terbilang besar dan bagus. Tentunya dengan nilai kontrak yang jauh lebih besar dari rumah kontrakan sebelumnya. Perabotan yang ada di dalam rumah kontrakkan barunya pun terbilang bagus. Mulai dari TV, warna, kulkas dan juga telepon selular berkelas.
Fulan memang ikut tinggal di dalam rumah kontrakan baru itu, tapi keberadaannya hanya pelengkap dalam ruangan. Fulanah tak menganggap keberadaannya di situ. Bagi Fulanah, Fulan bukan sesuatu yang dipentingkan, namun Fulanah tak melarang Fulan untuk ikut menikmati jerih payahnya. Yang terpenting bagi Fulanah, janganlah sekali-kali Fulan melarang semua langkah yang ditempuhnya.
“Saya hanya sekedar mengingatkan, Fulanah. Ini agar kamu tidak melangkah terlalu jauh,” Ucap Fulan suatu malam saat Fulanah pulang ke rumah dalam keadaan tidak sebagaimana mestinya.
“Kalau kamu tidak suka melihat saya seperti ini, lebih baik kamu kembali ke kontrakan yang lama. Di sana kamu tak akan melihat saya seperti ini,” Tukas Fulanah enteng.
Fulan berusahan sabar. “Saya ini suamimu, Fulanah. Saya berhak meluruskan jalanmu. Mengalihkan langkahmu dari jalan yang penuh dosa.”
Fulanah tertawa. “Dosa?” Ujarnya mempertanyakan dengan tatapan sinis.” Kamu nikmati saja usaha saya ini tanpa harus memikirkan dosa. Biarlah dosa-dosa itu menjadi tanggungan saya.”
Fulan tak kuasa menyanggah. Ia hanya berharap, suatu saat nanti istrinya akan menemukah hidayah, sehingga ia kembali sebagia istri yang baik. Malam ini Fulanah terlalu larut, Fulan terjaga karena bunyi pintu kama yang dibuka dengan kasar. Ia terbangun dan menyaksikan istrinya yang sudah bersolek dengan wangi parfum yang sukup kuat.
“Apa yang ingin kamu lakukan pada malam selarut ini” Tanya Fulan setengah kantuk.
“Apa urusanmu” Balik Fulanah.
Fulan tak kuasa menjawab.
“Saya mau menjadi seperti apa, kamu tak harus melarang. Kecuali kamu bisa menyulap kehidupan saya menjadi seperti kehidupan Sarwin atau Yuyun.”
“Untuk apa kehidupan mewah jika harus bergelimang dosa?”
“Kenapa kamu peduli dengan dosa saya?
“Saya perduli, karena dosamu akan terbawa mati.”
“Saya tak takut mati,” Timpal Fulanah, kemudian dari mulutnya meluncur kalimat-kalimat tentang kematian, tentang apa saja, bahkan sempat wasiat kematian pun terlontar di bibirnya. Setelah itu Fulanah meninggalkan Fulan dengan membanting pintu sangat kuat. Istri durhaka itu pergi di larut malam meninggalkan suaminya.
Saat pagi sudah merabah angka delapan. Fulanah belum juga kembali. Fulan mengira, kalau hari ini istrinya tidak kembali ke rumah, seperti hari kemarin. Kiranya dugaan Fulan benar. Fulanah tidak kembali ke rumah, bahkan untuk selamanya. Yang datang ke rumah hanya saja Fulanah yang di antar tiga lelaki. Mereka bilang menemukan Fulanah dalam keadaan tak sadar di sebuah rumah di jalan. Fulan terpukul. Namun dirinya sadar. Inilah takdir itu. Setiap manusia telah digarisi ajal masing-masing. Tinggallah kini Fulan harus mengurus jenazah sang istri.
Inilah yang membuat Fulan bingung. Setiap ia memandang jenazah Fulanah, kalimat yang pernah diucapkan Fulanah terngiang begitu mengerikan. Begini kalimatnya:
“Kalau saya saya mati, saya wasiatkan kalau harta itu bukan untukmu! Dan kalau saya mati, jangan kamu masukan jasad ini dalam keranda, tapi ikatlah kain kafan saya dengan tali, dan tarik tubuh ini sampai ke lubang kubur! Ingat itu! Jangan sampai tak kamu lakukan wasiat itu!”
Sekarang apa yang harus dilakukan Fulan? Pergulatan batin antara pantas dan yang tidak berkecamuk. Satu sisi Fulan ingin memakamkan istrinya dengan cara sewajarnya, namun di sisi lain ia harus menjalankan wasiat istrinya. Itulah yang membuat Fulan gamang.
Saat kegamangan melampaui batas ketidakmampuan berfikir, akhirnya Fulan lebih memilih memenuhi wasiat istrinya. Jenazah Fulanah ditarik dengan tali sampai ke liang kubur. Na’udzubillah min zalik.

TENTANG PENULIS
            Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: YA ALLAH MAAFIN KAMI BANYAK DOSA.
Penulis dapat di hubungi melalui  email : jamaludinrifai442@gmail.com 
No HP: 085340008577

0 komentar:

Posting Komentar